PARADAPOS.COM - Fenomena makan di depan kamera yang kini menjamur di berbagai platform digital ternyata berakar dari rasa kesepian. Tren mukbang yang lahir di Korea Selatan pada awal 2010-an melalui platform live streaming AfreecaTV ini memungkinkan penonton merasakan pengalaman "makan bersama" secara real-time, sebelum akhirnya meluas ke negara-negara Barat sekitar tahun 2014. Di Indonesia, budaya food vlogging mulai menggeliat sejak awal 2010-an bersamaan dengan popularitas YouTube, dan semakin menguat dalam lima tahun terakhir berkat TikTok serta Instagram. Nama-nama seperti Nex Carlos, Tanboy Kun, hingga Farida Nurhan muncul dan turut membesarkan industri kuliner tanah air melalui konten review mereka.
Perjalanan tren ini menarik untuk disimak. Apa yang semula hanya berupa siaran sederhana seseorang menyantap makanan, kini bertransformasi menjadi industri raksasa dengan jutaan penonton dan nilai ekonomi yang menggiurkan. Namun di balik gemerlapnya, ada dinamika kompleks yang jarang terlihat oleh publik.
Dua Sisi Mata Pisau: Mengangkat atau Menghancurkan Usaha
Inilah sisi gelap yang kerap tak terlihat: satu video ulasan bisa membuat warung kecil kebanjiran pembeli dalam semalam, atau justru menjadi awal kehancuran sebuah usaha. Kehadiran seorang reviewer makanan memiliki kekuatan luar biasa untuk meningkatkan atau meruntuhkan reputasi restoran hanya melalui penilaian yang mereka sampaikan kepada khalayak.
Ulasan pedas mengenai rasa, kebersihan, atau pelayanan bisa menyebar viral dalam hitungan jam. Bagi pelaku usaha kecil yang tidak memiliki daya tahan kuat, dampaknya bisa menjadi pukulan telak yang sulit dipulihkan. Beberapa pemilik warung bahkan harus merelakan usahanya tutup permanen setelah ulasan negatif seorang food vlogger tersebar luas.
Saat "Makan Banyak" Berubah Menjadi Taruhan Nyawa
Semakin ekstrem konten yang disajikan, semakin besar pula potensi viralnya. Namun harga yang harus dibayar kadang terlalu mahal, bahkan nyawa sekalipun. Kasus paling mengerikan datang dari China: Pan Xiaoting, bintang mukbang berusia 24 tahun, meninggal dunia saat sedang melakukan siaran langsung.
Lambung Pan Xiaoting benar-benar robek akibat kebiasaan mengonsumsi lebih dari 10 kilogram makanan setiap sesi, tanpa jeda, hingga 10 jam sehari. Ironisnya, ia sempat menjalani perawatan karena pendarahan lambung, namun kembali melakukan binge eating hanya sehari setelah keluar dari rumah sakit. "Saya tahu ini berbahaya, tapi penonton saya bertambah setiap kali saya makan lebih banyak," ujarnya dalam salah satu siarannya sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir.
Kasus serupa juga menghantui dunia mukbang di berbagai belahan dunia. Efecan Kultur, seorang mukbanger asal Turki berusia 24 tahun, meninggal akibat komplikasi obesitas setelah sempat tidak mampu berdiri dan mengalami gangguan pernapasan. Sementara itu, seorang YouTuber mukbang di Filipina menghembuskan napas terakhirnya karena serangan jantung sehari setelah mengunggah video makan dalam porsi besar-besaran.
Para ahli kesehatan pun angkat bicara mengenai fenomena ini. Dokter spesialis jantung menjelaskan bahwa makan berlebihan memberikan tekanan signifikan pada jantung, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi. Kombinasi antara porsi makan ekstrem dan durasi siaran yang panjang menciptakan beban ganda bagi tubuh yang sebenarnya tidak dirancang untuk menerima asupan sebanyak itu.
Di balik gemerlapnya jumlah subscriber dan tawaran endorse, industri food vlogger menyimpan dua wajah yang kontras. Di satu sisi, ada kekuatan untuk mengangkat usaha kecil menjadi terkenal; di sisi lain, ada risiko kesehatan nyata yang mengintai para kreatornya sendiri. Konten yang tampak menghibur ini ternyata menyimpan taruhan yang jauh lebih besar dari sekadar jumlah penonton atau "views".
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa di era konten digital, batas antara hiburan dan bahaya sering kali kabur. Para kreator dituntut untuk terus menghadirkan sesuatu yang baru dan mengejutkan, sementara tubuh mereka membayar harga yang tidak pernah terlihat di layar. Bagi penonton, kesadaran untuk tidak ikut mendorong tren berbahaya ini menjadi langkah awal yang penting.
Artikel Terkait
Wacana Cetak Ulang Buku Pelajaran Menuai Kritik: Ekonom Soroti Pemborosan Anggaran dan Nasib Buku Sekolah Elektronik
Cara Menata Ulang Bookmark agar Riset Online Lebih Cepat dan Terorganisir
Mahasiswa di Makassar Rekayasa Penculikan Diri Sendiri demi Peras Orang Tua Rp90 Juta
Jokowi Tantang Tifa dan Roy Suryo Buktikan Tuduhan Ijazah Palsu di Persidangan, Siap Bawa Dokumen Asli