Warga Tapanuli Selatan Bangun Huntara dari Kayu Sisa Banjir Bandang

- Selasa, 17 Maret 2026 | 18:25 WIB
Warga Tapanuli Selatan Bangun Huntara dari Kayu Sisa Banjir Bandang

PARADAPOS.COM - Warga Desa Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, menunjukkan daya juang dan kreativitas dengan membangun hunian sementara mandiri (huntara) dari kayu gelondongan sisa banjir bandang. Inisiatif yang dipelopori seorang warga ini tidak hanya menyediakan tempat tinggal darurat, tetapi juga menjadi solusi cerdas untuk memanfaatkan material bekas bencana yang masih berserakan di lingkungan mereka.

Memanfaatkan Sisa Bencana untuk Membangun Kembali

Pasca diterjang banjir bandang, kawasan Desa Garoga masih dipenuhi kayu-kayu gelondongan yang terbawa arus. Daripada membiarkannya menjadi sampah, warga setempat melihat potensi material tersebut. Indra Batubara, salah seorang warga, mengambil inisiatif untuk mengumpulkan dan memotong kayu-kayu tersebut menjadi fondasi dan kerangka rumah sederhana.

Dia menjelaskan alasan di balik upayanya itu. "Kita bangun huntara ini memanfaatkan kayu gelondongan sisa-sisa banjir waktu lalu. Karena memang ini kan bisa dimanfaatkan juga kan sebagai fondasi rumah ini," tuturnya.

Lebih dari sekadar membangun tempat berteduh, langkah ini juga merupakan upaya membersihkan lingkungan dari puing-puing kayu yang masih berserakan. Dengan demikian, upaya rekonstruksi pascabencana berjalan beriringan dengan pemulihan ekologis yang sederhana.

Target Selesai Sebelum Lebaran dan Fungsi Ganda

Huntara yang dibangun Indra memiliki luas sekitar 35 meter persegi, dilengkapi satu ruang tamu dan satu kamar tidur. Proses pembangunannya dimulai pada 10 Maret dengan target selesai sebelum perayaan Idulfitri 1447 Hijriah. Yang menarik, hunian ini dirancang dengan fungsi ganda untuk mendukung pemulihan ekonomi.

Indra berencana memanfaatkan bagian depan rumahnya untuk membuka warung kopi. "Nantinya di depan ini, juga bakal dimanfaatkan untuk membuka warung kopi," ujarnya. Langkah ini diharapkan dapat menyambung kembali roda perekonomian keluarganya yang terdampak bencana.

Menariknya, ini bukan huntara pertama yang ditawarkan kepada Indra. Sebelumnya, pemerintah telah menyediakan hunian sementara di lokasi tak jauh dari desanya. Namun, dia memilih untuk membangun versinya sendiri, sebuah keputusan yang mencerminkan kemandirian dan keinginan untuk segera memulai usaha kecil.

Kehidupan Baru di Huntara yang Disediakan Pemerintah

Sementara itu, di lokasi huntara yang disediakan pemerintah di Desa Napa, Kecamatan Batangtoru, kehidupan baru mulai tumbuh. Sebanyak 245 keluarga kini telah menempati hunian tersebut. Bagi banyak penyintas, huntara bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga titik awal untuk bangkit secara ekonomi.

Derma Siregar, salah seorang penghuni, mengaku merasa nyaman tinggal di lokasi tersebut. "Kalau untuk tinggal sih, kami merasa nyaman ya. karena kan fasilitas udah ada semua ya, kamar mandi dan ruang terbukanya juga sudah ada," jelasnya.

Dia memanfaatkan situasi ini dengan membuka warung kecil di huntaranya, menjual voucher pulsa, makanan ringan, serta minuman. Tidak jauh dari tempat Derma, Lina Hutabarat juga baru memulai usahanya berjualan sayur-mayur. Meski baru berjalan satu hari, langkah ini menunjukkan semangat berwirausaha di tengah keterbatasan.

Lina menyampaikan rasa syukurnya. "Kami juga baru tinggal di sini dan kami jualan sayur-mayur ini juga baru hari ini. Jadi, belum banyak yang tahu kalau kami ini jualan sayur-mayur," ungkapnya. Bagi dia dan keluarga, huntara menjadi tempat yang aman untuk beristirahat sembari mempersiapkan pemulihan rumah mereka yang rusak.

Kisah dari Tapanuli Selatan ini menggambarkan dua sisi pemulihan pascabencana: inisiatif mandiri yang cerdas dan pemanfaatan bantuan pemerintah. Keduanya sama-sama diwarnai oleh ketangguhan warga untuk segera bangkit, membersihkan sisa-sisa bencana, dan menyambung kembali kehidupan mereka.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar