PARADAPOS.COM - Rupiah mencatatkan kinerja beragam pada penutupan perdagangan Selasa, 10 Maret 2026, dengan data dari berbagai sumber menunjukkan pergerakan yang tidak seragam. Secara umum, mata uang nasional menunjukkan ketahanan di tengah gejolak geopolitik yang mendorong lonjakan harga minyak dunia melewati level USD100 per barel, sebuah situasi yang memicu kekhawatiran akan tekanan inflasi global.
Pergerakan Beragam di Sumber Berbeda
Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup menguat pada level Rp16.863 per dolar AS. Penguatan ini mencapai 86 poin atau setara 0,51 persen dari posisi penutupan sebelumnya di Rp16.949. Pergerakan ini melanjutkan tren positif yang terpantau sejak pagi hari.
Namun, gambaran yang sedikit berbeda muncul dari pantauan Yahoo Finance, yang justru mencatat rupiah melemah tipis 23 poin (0,14 persen) ke posisi Rp16.855 per USD. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di level Rp16.879 per USD, menunjukkan apresiasi dari perdagangan sebelumnya.
Perbedaan data ini merupakan hal yang wajar dalam pelaporan pasar keuangan, yang sering kali merefleksikan perbedaan waktu pengambilan sampel atau sumber likuiditas yang dipantau. Intinya, rupiah bergerak dalam koridor yang relatif stabil menghadapi sentimen eksternal yang berat.
Gejolak Minyak dan Ketegangan Timur Tengah Jadi Penentu
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memberikan konteks di balik pergerakan valuta asing hari ini. Ia menilai dinamika kurs rupiah sangat dipengaruhi oleh sentimen harga minyak mentah dunia yang melonjak tajam.
“Pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen harga minyak yang melonjak hingga 30 persen, jauh melampaui USD100 per barel dan mendekati level tertinggi yang terlihat selama awal perang Rusia-Ukraina pada 2022,” jelas Assuaibi.
Lonjakan ekstrem ini dipicu oleh eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah. Serangan udara yang menargetkan fasilitas minyak Iran dan pembalasan yang dilakukan Teheran telah menciptakan ketidakpastian baru. Kekhawatiran pasar semakin menjadi dengan adanya laporan bahwa Iran memblokade Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi urat nadi pasokan minyak ke Asia.
Gangguan pada selat tersebut berpotensi menyebabkan disrupsi pasokan yang serius, sebuah skenario yang langsung direspons oleh pasar komoditas global. Di sisi politik, pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru Iran juga ditafsirkan sebagai sinyal kelanjutan kebijakan garis keras, yang berpotensi memperpanjang ketegangan geopolitik yang mendasari gejolak harga energi ini.
Ketahanan Rupiah di Tenga Badai Eksternal
Meski dihantam oleh badai sentimen dari luar, pergerakan rupiah hari ini cenderung terkendali. Kemampuan mata uang nasional untuk tidak terjun bebas di tengah goncangan sebesar lonjakan harga minyak mencerminkan adanya faktor penahan (cushion) dari dalam negeri. Pengamat pasar seringkali menyoroti peran otoritas moneter dan kondisi fundamental makroekonomi domestik dalam situasi seperti ini.
Stabilitas yang terjaga, meski dengan pergerakan beragam antar platform, menunjukkan bahwa pasar masih melakukan proses penyesuaian dan penilaian terhadap dampak penuh dari krisis geopolitik terbaru terhadap perekonomian Indonesia. Kedepan, perhatian akan tetap tertuju pada perkembangan di Timur Tengah dan respons kebijakan dari bank sentral utama dunia dalam menanggapi ancaman inflasi dari sektor energi.
Artikel Terkait
Tiga Punggawa Persib Dipanggil Herdman untuk FIFA Series 2026
Menag Lantik 11 Pengurus BAZNAS 2026-2031, Targetkan Penghimpunan Zakat Naik Tiga Kali Lipat
Upaya Gabungan Polisi dan Nelayan Selamatkan Puluhan Paus Pilot Terjebak Jaring di Rote Ndao
Pemerintah Dorong Sultra Beralih dari Tambang ke Pariwisata