RSU Muslimat Ponorogo Resmi Operasikan Gedung Gus Dur, Tingkatkan Layanan Ibu dan Anak

- Senin, 30 Maret 2026 | 17:00 WIB
RSU Muslimat Ponorogo Resmi Operasikan Gedung Gus Dur, Tingkatkan Layanan Ibu dan Anak

PARADAPOS.COM - RSU Muslimat Ponorogo secara resmi mengoperasikan Gedung Gus Dur, sebuah gedung rawat inap tujuh lantai yang modern, dalam upaya signifikan meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan, khususnya bagi ibu dan anak, di wilayah tersebut. Peresmian yang digelar pada hari ini dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional dan daerah, menandai babak baru transformasi rumah sakit yang berawal dari sebuah balai kesehatan sederhana.

Sinergi Membangun Layanan Kesehatan Modern

Acara peresmian gedung baru itu berlangsung dengan khidmat, dihadiri langsung oleh Ketua Pimpinan Pusat Muslimat NU Arifatul Choiri Fauzi, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan penegasan atas pentingnya kolaborasi berbagai elemen dalam membangun infrastruktur kesehatan yang representatif. Gedung yang dirancang dengan konsep pelayanan terkini ini memadukan kelengkapan fasilitas medis dengan desain ruang perawatan yang memperhatikan kenyamanan pasien, mencerminkan evolusi layanan kesehatan yang mengedepankan aspek kemanusiaan.

Dalam sambutannya, Arifatul Choiri Fauzi menekankan bahwa kehadiran Gedung Gus Dur diharapkan dapat memenuhi tantangan layanan kesehatan kontemporer sekaligus menjadi destinasi rujukan bagi masyarakat luas.

"Gedung tujuh lantai ini dinamakan Gedung Gus Dur sebagai bentuk penghormatan. Nilai-nilai yang diajarkan beliau seperti kebersamaan dan nondiskriminasi menjadi landasan pelayanan di rumah sakit ini," jelasnya.

Ponorogo sebagai Pusat Rujukan Kesehatan Reproduksi

Gubernur Khofifah Indar Parawansa dalam pidatonya menggarisbawahi bahwa keberhasilan pembangunan gedung ini adalah buah dari kerja sama yang solid antar pemangku kepentingan. Ia melihat momentum ini tidak hanya sebagai penambahan infrastruktur fisik, tetapi juga penguatan posisi strategis Ponorogo di peta kesehatan regional.

"Bahwa ternyata ikhtiar-ikhtiar ini, kalau kita bangun sinergi dan kolaborasi, insya Allah bisa," ujar Khofifah.

Lebih lanjut, Gubernur perempuan pertama Jawa Timur itu mengungkapkan potensi spesifik yang akan diperkuat dengan adanya gedung baru ini. Ia menyoroti reputasi Ponorogo yang telah lama dikenal dalam penanganan masalah infertilitas, yang kini diharapkan dapat berkembang lebih maju.

"Ponorogo ini dulu terkenal layanan infertility, infertility itu adalah mereka-mereka yang sulit mendapatkan proses kehamilan, baik karena laki-laki maupun perempuan. Di Ponorogo ini menjadi episentrum, bagaimana infertility itu mendapat layanan," tambahnya.

Warisan Nilai dan Jejak Historis

Pemilihan nama Gedung Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau Gus Dur bagi rumah sakit ini bukan tanpa alasan. Terdapat ikatan historis yang mendalam, mengingat pada tahun 1986, saat RSU Muslimat masih berupa Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA), peresmiannya justru dilakukan langsung oleh Gus Dur yang saat itu menjabat sebagai Ketua PBNU. Penamaan ini dimaknai sebagai upaya untuk menanamkan dan melanjutkan nilai-nilai pluralisme, keramahan, dan pelayanan tanpa diskriminasi yang menjadi ciri khas almarhum.

Selain peresmian gedung utama, rangkaian kegiatan hari ini juga diisi dengan pengoperasian kantor cabang Muslimat Ponorogo. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat peran organisasi perempuan Nahdliyin tersebut dalam menjalankan misi sosial dan kesehatan di tingkat akar rumput, menciptakan ekosistem pendukung yang lebih solid bagi masyarakat sekitar.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar