Menko Airlangga Tegaskan Fundamental Ekonomi Indonesia Tangguh, Proyeksi Tumbuh 5,3% di 2026

- Senin, 13 April 2026 | 13:50 WIB
Menko Airlangga Tegaskan Fundamental Ekonomi Indonesia Tangguh, Proyeksi Tumbuh 5,3% di 2026

PARADAPOS.COM - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan ketangguhan fundamental ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Dalam sebuah briefing media di Jakarta, Senin (13/4/2026), Airlangga menyatakan situasi saat ini jauh berbeda dengan krisis 1998, didukung oleh pertumbuhan yang solid, defisit anggaran yang terjaga, serta sejumlah indikator makroekonomi yang sehat.

Proyeksi Pertumbuhan yang Optimistis

Menurut Airlangga, posisi Indonesia di antara negara-negara G20 cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 tercatat sebesar 5,11 persen, menempati peringkat kedua tertinggi setelah India. Untuk tahun 2026, pemerintah bahkan optimistis mampu mencapai pertumbuhan hingga 5,3 persen, melampaui proyeksi rata-rata pertumbuhan global dari lembaga internasional yang hanya berkisar 2,6 hingga 3,3 persen.

Optimisme itu tampak lebih konkret pada kuartal pertama tahun ini. Airlangga menyampaikan keyakinannya bahwa pertumbuhan pada periode Januari-Maret 2026 dapat menyentuh angka 5,5 persen, sebuah sinyal positif di awal tahun.

"Jauh berbeda dengan situasi tahun 1998. Dari segi ekonomi makro, saya katakan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) adalah 5,11 persen. Dan proyeksi tahun ini di atas 5,3 persen. Dan kuartal pertama tahun ini, kami optimis pertumbuhan Indonesia di kuartal pertama sekitar 5,5 persen," ungkapnya di hadapan para jurnalis.

Fundamental Ekonomi yang Menopang Ketahanan

Ketahanan ekonomi nasional, menurut penjelasan Menko Perekonomian, tidak lepas dari beberapa pilar utama. Pertama, defisit anggaran yang tetap terjaga di bawah 3 persen, angka yang tergolong rendah jika dibandingkan dengan beberapa negara G20 lain yang defisitnya mencapai 4 hingga 6 persen lebih. Kedua, penerimaan pajak hingga Maret 2026 menunjukkan kinerja baik dengan pertumbuhan tahunan sebesar 14,3 persen.

Pilar ketiga adalah cadangan devisa yang masih kuat, berada di level sekitar USD 148,2 miliar. Jumlah ini dinilai cukup untuk membiayai kebutuhan impor negara hingga enam bulan ke depan. Selain itu, laporan dari lembaga keuangan internasional Bloomberg menempatkan Indonesia sebagai negara dengan risiko resesi sangat rendah, hanya 5 persen, jauh di bawah beberapa ekonomi besar dunia.

"Dan jika Anda melihat cadangan devisa masih sekitar USD 148,2 miliar, itu setara dengan enam bulan impor," papar Airlangga lebih lanjut.

Peran Ekonomi Domestik dan Swasembada

Kekuatan lain yang menjadi penyangga adalah besarnya peran ekonomi domestik, yang menyumbang sekitar 54 persen dari total PDB. Ketahanan di sektor riil ini diperkuat oleh capaian swasembada pangan, khususnya beras, sejak 2025 dengan produksi mencapai 34,7 juta ton. Di sisi energi, pemerintah terus mendorong penguatan melalui kebijakan campuran biodiesel B50 dan pengembangan energi terbarukan.

APBN juga difungsikan secara strategis sebagai peredam guncangan ekonomi melalui berbagai program bantuan sosial yang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah. Pendekatan ini turut berkontribusi pada perbaikan sejumlah indikator kesejahteraan, seperti penurunan tingkat kemiskinan menjadi 8,25 persen, angka ketimpangan (gini ratio) ke level 0,363, dan pengangguran yang berhasil ditekan hingga 4,7 persen.

Utang Pemerintah dan Risiko Eksternal

Menyangkut isu utang pemerintah yang kerap menjadi perhatian, Airlangga memberikan penjelasan yang menenangkan. Rasio utang terhadap PDB saat ini berada di angka 40,46 persen, dengan nominal sekitar Rp 9.637,9 triliun. Yang penting untuk dicatat, komposisi utang tersebut didominasi oleh pinjaman dari dalam negeri.

Struktur pendanaan seperti ini dinilai mampu meminimalisir kerentanan terhadap gejolak yang berasal dari luar negeri, karena tidak terlalu bergantung pada fluktuasi nilai tukar mata uang asing atau kondisi pasar keuangan global.

Menutup pemaparannya, Airlangga kembali menegaskan, "Jika Anda melihat detail utang kita, sebagian besar berasal dari dalam negeri. Jadi, risiko guncangan eksternal terkendali."

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar