PARADAPOS.COM - Nama ekonom senior Chatib Basri kembali mencuat ke permukaan sebagai kandidat kuat pengganti Purbaya Yudhi Sadewa di kursi Menteri Keuangan. Isu ini mengemuka di tengah hiruk-pikuk politik dan ekonomi nasional, memicu beragam reaksi dari para pengamat. Salah satunya, pengamat politik Rocky Gerung, yang menilai kemunculan nama tersebut sebagai sesuatu yang wajar, mengingat rekam jejak dan kapasitas sang ekonom.
Di sela-sela diskusi yang berlangsung hangat di kanal YouTube Hersubeno Point pada Jumat, 5 Juni 2026, Rocky Gerung memberikan pandangannya. Ia tidak hanya menyoroti figur Chatib Basri, tetapi juga mengaitkannya dengan arah kebijakan ekonomi pemerintahan saat ini. Menurutnya, ada harapan besar yang disematkan publik kepada sosok seperti Chatib Basri.
"Ya, dia (Chatib Basri) seorang ekonom. Jadi, kita tahu bahwa prabowonomics juga dimaksudkan untuk menghidupkan kembali bayangan manusia Indonesia yang adil makmur dan bukan sekadar serakahnomics. Jadi, kalau nama Chatib Basri disebut, ya orang menaruh harapan banyak," ucap Rocky.
MBG Jadi Sorotan, Istilah Baru Muncul
Dalam kesempatan yang sama, Rocky Gerung turut menyoroti program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menilai program ini justru menjadi batu sandungan bagi perekonomian, terutama jika dikaitkan dengan besaran anggaran yang digelontorkan. Kekhawatiran itu semakin menguat setelah pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN), lembaga yang mengatur tata kelola program tersebut, tersandung kasus korupsi beberapa waktu lalu.
“Apalagi soal MBG macam-macam. Buat saya MBG no, MCB yes. MCB itu Muhammad Chatib Basri,” seloroh Rocky, menciptakan sebuah plesetan yang langsung mencuri perhatian.
Kepercayaan Publik dan Investor Jadi Kunci
Lebih dalam lagi, Rocky Gerung menekankan bahwa posisi Menteri Keuangan bukanlah sekadar jabatan teknis. Menurutnya, seorang Menteri Keuangan membutuhkan legitimasi yang kuat. Hal ini penting agar ia mampu bernegosiasi dengan kementerian lain, menghadapi dinamika politik di DPR, dan yang terpenting, menjaga kredibilitas kebijakan pemerintah di mata publik dan investor.
"Isu utama bukan hanya kemampuan membuat model ekonomi. Yang lebih penting adalah kepercayaan publik terhadap Menteri Keuangan secara personal dan kepercayaan investor terhadap konsistensi kebijakan pemerintah," pungkasnya.
Artikel Terkait
Dua Anak Usaha PP Rugi Rp364,5 Miliar di Tengah Persiapan Pemerintah Melebur BUMN Karya
Erik Erfinanto Dorong Media Perkuat Batas Antara Bisnis dan Editorial
Kepadatan di Cakung-Cilincing Dipicu Ketimpangan Arus Logistik Pelabuhan Tanjung Priok
Tampines Rovers dan DPMM FC Jalani Debut di Piala Presiden 2026, Laga Perdana Grup A Digelar di Bandung