IHSG Dibuka Menguat Tipis di Tengah Ketidakpastian Suku Bunga The Fed dan Geopolitik

- Kamis, 30 Juli 2026 | 03:00 WIB
IHSG Dibuka Menguat Tipis di Tengah Ketidakpastian Suku Bunga The Fed dan Geopolitik
PARADAPOS.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona hijau pada perdagangan Kamis, 30 Juli 2026, menguat 18,89 poin atau 0,31 persen ke level 6.110,28. Penguatan ini terjadi sehari setelah indeks ditutup melemah akibat sikap hati-hati investor yang menanti kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Meskipun mengawali sesi dengan kenaikan, pelaku pasar diperkirakan masih bergerak waspada, menyusul sejumlah faktor utama yang membayangi.

Fokus Investor Tertuju pada Tiga Katalis Utama

Sejumlah faktor menjadi pusat perhatian pasar saat ini. Pertama, hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed yang sangat dinantikan. Kedua, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas. Ketiga, musim rilis laporan keuangan emiten kuartal II-2026 yang mulai bergulir. Di sisi lain, indeks saham unggulan LQ45 turut mencatatkan penguatan. Pada pembukaan perdagangan, LQ45 naik 2,52 poin atau 0,42 persen ke posisi 609,04. Angka ini menunjukkan optimisme terbatas di tengah ketidakpastian global.

IHSG Sempat Tertekan Sehari Sebelumnya

Pada perdagangan Rabu, 29 Juli 2026, IHSG ditutup melemah 0,64 persen ke level 6.091,39. Pelemahan itu terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor menjelang hasil FOMC The Fed. Tekanan jual berasal dari aksi jual asing yang cukup masif, khususnya di sektor properti. Selain itu, tensi geopolitik di Timur Tengah yang kembali meningkat turut mendorong harga minyak menguat, menekan sentimen pasar. Di dalam negeri, pelaku pasar juga masih mencermati proses penunjukan Gubernur Bank Indonesia definitif pasca pengunduran diri Perry Warjiyo.

Proyeksi Teknikal dan Sentimen Jangka Pendek

Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas menyampaikan pandangannya mengenai prospek pergerakan IHSG ke depan. Menurut mereka, pasar akan berfokus pada hasil FOMC The Fed, yang diperkirakan mempertahankan suku bunga. Namun, perhatian utama justru tertuju pada forward guidance atau petunjuk arah kebijakan moneter ke depan. "Selain itu, investor juga akan mencermati perkembangan konflik AS-Iran serta musim rilis kinerja keuangan emiten kuartal II 2026 (earning season) yang diperkirakan menjadi katalis utama pergerakan saham dalam jangka pendek," jelas tim riset. Secara teknikal, IHSG diperkirakan masih bergerak sideways dengan rentang support di level 6.050 dan resistance di kisaran 6.150 hingga 6.200. Tim riset menambahkan bahwa selama indeks mampu bertahan di atas area support, peluang technical rebound masih terbuka. "Selama mampu bertahan di atas area support, peluang technical rebound masih terbuka, meski volatilitas diperkirakan tetap tinggi menjelang hasil FOMC," prediksi tim riset. Di lantai bursa, suasana terasa hati-hati. Sejumlah trader memilih menahan diri, menunggu keputusan besar dari The Fed yang bisa mengubah arah pasar dalam sekejap. Sementara itu, data ekonomi domestik dan proses transisi kepemimpinan di Bank Indonesia masih menjadi perhatian tambahan bagi investor jangka menengah.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar