PARADAPOS.COM - Serangan drone yang diduga dilancarkan militer Sudan menewaskan sedikitnya 35 warga sipil di Desa Garra al-Zawaya, Darfur Utara, pada Minggu, 2 Agustus 2026. Insiden ini terjadi saat sebuah sidang pengadilan adat tengah berlangsung, menandai eskalasi baru dalam konflik berk berkepanjangan antara tentara dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Korban jiwa dilaporkan mencakup empat pemimpin suku dan dua komandan RSF, menurut kelompok pemantau hak asasi manusia Emergency Lawyers. Kronologi Serangan di Tengah Sidang Adat Peristiwa berdarah itu terjadi sekitar pukul 13.00 waktu setempat. Saat itu, warga tengah berkumpul untuk mengikuti proses persidangan yang membahas berbagai sengketa dan perkara masyarakat setempat. Emergency Lawyers, yang selama ini mendokumentasikan dugaan pelanggaran HAM dari kedua kubu yang bertikai, menyebut bangunan pengadilan adat ikut rusak parah dalam serangan tersebut. Seorang saksi yang diwawancarai AFP menggambarkan suasana persidangan yang khas di wilayah tersebut. Ia menjelaskan bahwa agenda sidang berlangsung secara terbuka di bawah pohon rindang, dihadiri oleh para tetua dan tokoh masyarakat. "Sidang pengadilan berlangsung di bawah pohon dengan partisipasi para tokoh masyarakat setempat," ujar saksi yang memilih menyembunyikan identitas demi alasan keamanan tersebut. Ia menambahkan, korban tewas yang berhasil diidentifikasi hingga saat ini mencakup sejumlah pemimpin suku dan dua komandan RSF yang kebetulan hadir di lokasi. Belum ada tanggapan resmi dari pihak militer Sudan mengenai tuduhan keterlibatan mereka dalam insiden ini. Titik Panas di Wilayah Perbatasan Kekuasaan Desa Garra al-Zawaya sendiri berada di dekat Kota Kabkabiya, sekitar 150 kilometer di barat el-Fasher. Posisi geografis ini menjadi penting karena el-Fasher sebelumnya merupakan benteng terakhir militer Sudan di Darfur sebelum akhirnya jatuh ke tangan RSF melalui ofensif besar-besaran pada Oktober 2025. Penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan keras. Mereka menyatakan bahwa kekerasan yang menyertai pengepungan dan perebutan el-Fasher memiliki indikasi kuat mengarah pada genosida. Setelah menguasai el-Fasher, RSF semakin memperkuat cengkeramannya atas sebagian besar wilayah Darfur. Kelompok ini sendiri berakar dari milisi Janjaweed yang pada awal 2000-an dituding melakukan berbagai kekejaman di kawasan tersebut. Drone dan Perubahan Taktik Perang Konflik yang telah berlangsung sejak April 2023 ini perlahan mengubah cara kedua pihak bertempur. Baik militer Sudan yang dipimpin Jenderal Abdel Fattah al-Burhan maupun RSF di bawah komando Mohamed Hamdan Dagalo kini sama-sama mengandalkan serangan udara dengan pesawat nirawak. Catatan PBB menunjukkan angka yang memprihatinkan: lebih dari 1.000 warga sipil tewas akibat serangan drone hanya dalam lima bulan pertama tahun ini. Jumlah ini menggambarkan betapa mengerikannya dampak teknologi perang terhadap penduduk sipil yang tidak terlibat langsung dalam pertempuran. Perang saudara ini juga telah memicu krisis kemanusiaan terbesar di dunia menurut PBB, dengan jutaan orang terpaksa mengungsi meninggalkan rumah mereka. Situasi di Darfur, khususnya, menjadi salah satu zona paling memprihatinkan karena minimnya akses bantuan kemanusiaan dan terus berlanjutnya pertempuran di berbagai titik.
Artikel Terkait
Joanna Alexandra Resmi Menikah dengan Immanuel Christover di Jakarta Selatan
Vietnam Sebut Laga Lawan Indonesia di Piala AFF 2026 Harga Mati demi Lolos ke Semifinal
MPR Resmi Undang Presiden Prabowo ke Puncak Peringatan Hari Konstitusi dan HUT MPR 29 Agustus 2026
JKIND Rayakan 25 Tahun di GIIAS 2026, Pamerkan Empat Lini Produk Kaca Film dan Pelindung Cat