AS Cabut Sanksi terhadap Maskapai Irak Fly Baghdad, Sanksi Pemiliknya Tetap Berlaku

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:25 WIB
AS Cabut Sanksi terhadap Maskapai Irak Fly Baghdad, Sanksi Pemiliknya Tetap Berlaku
PARADAPOS.COM - Pemerintah Amerika Serikat resmi mencabut sanksi ekonomi yang sebelumnya dijatuhkan kepada maskapai penerbangan Irak, Fly Baghdad, pada Kamis (6/8/2026). Pencabutan ini diumumkan langsung oleh Departemen Keuangan AS, yang menyatakan bahwa maskapai tersebut telah menunjukkan perubahan signifikan dalam operasionalnya sehingga tidak lagi memenuhi kriteria untuk masuk dalam daftar hitam. Meski demikian, sanksi terhadap pemilik perusahaan, Basheer Abdulkadhim Alwan al-Shabbani, tetap dipertahankan. Keputusan ini menjadi babak baru dalam hubungan Washington-Baghdad yang sempat memanas. Sebelumnya, Fly Baghdad bersama dua unit pesawatnya dan sang pemilik masuk dalam daftar sanksi sejak Januari 2024. Saat itu, AS menuding maskapai ini memberikan dukungan logistik kepada Pasukan Quds, cabang elite dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, serta kelompok-kelompok proksi Teheran yang beroperasi di Irak, Suriah, dan Lebanon. Alasan di Balik Pencabutan Sanksi Seorang pejabat Departemen Keuangan AS yang enggan disebut namanya mengungkapkan bahwa proses penghapusan ini berjalan melalui mekanisme peninjauan administratif internal. Bukan tanpa pertimbangan, keputusan ini diambil setelah pihak berwenang melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas terkini maskapai tersebut. "FBA (Fly Baghdad Airlines) telah menunjukkan perubahan besar dalam operasional mereka sehingga pencantuman nama mereka dalam daftar sanksi tidak lagi diperlukan," kata pejabat tersebut. Namun, ia menegaskan dengan tegas bahwa langkah ini sama sekali bukan indikasi pelonggaran sikap Washington terhadap Teheran. "Penghapusan sanksi ini tidak menunjukkan adanya perubahan kebijakan AS terhadap Pemerintah Iran, Korps Garda Revolusi Islam-Pasukan Quds, organisasi mana pun yang telah ditetapkan atau siapa pun yang mendukung atau bertindak atas nama pihak-pihak tersebut," ujarnya menambahkan. Konteks Ketegangan yang Lebih Luas Keputusan ini muncul di tengah situasi geopolitik yang masih sangat fluktuatif. Sejak akhir Februari, ketika Presiden AS Donald Trump mengintensifkan kampanye militer terhadap Iran, Washington telah menargetkan para pemimpin puncak negara tersebut dan berupaya melumpuhkan perekonomiannya melalui sanksi serta serangan bersenjata. Situasi di lapangan semakin kompleks. Sebagai respons atas tekanan tersebut, Teheran praktis memblokir Selat Hormuz—jalur perairan vital yang menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan energi dunia. Selain itu, kelompok-kelompok yang beraliansi dengan Iran juga dilaporkan mulai menargetkan sekutu-sekutu AS di kawasan Timur Tengah. Diplomasi pun berjalan alot. Negosiasi untuk mengakhiri konflik masih tersendat, dengan dua isu utama yang menjadi ganjalan: status program nuklir Iran dan wacana penerapan pungutan baru di Selat Hormuz. Kedua poin ini terus menghambat tercapainya kesepakatan damai yang diharapkan banyak pihak. Keputusan untuk melepas Fly Baghdad dari daftar sanksi, meski terkesan parsial, setidaknya memberi secercah ruang bagi normalisasi operasional penerbangan sipil di Irak. Namun, dengan masih dipertahankannya sanksi terhadap pemiliknya, jelas bahwa Washington masih menyimpan kecurigaan mendalam terhadap jaringan ekonomi yang terafiliasi dengan IRGC.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar