PARADAPOS.COM - Hasil survei terbaru dari Adidaya Institute yang dirilis pada Rabu, 10 Juni 2026, menunjukkan peta politik jelang Pilpres 2029. Lembaga ini mencatat Prabowo Subianto sebagai calon presiden dengan popularitas tertinggi mencapai 96,6 persen, sekaligus unggul dalam elektabilitas dengan angka 32,6 persen. Survei yang melibatkan 1.240 responden dari 38 provinsi ini juga menyoroti munculnya nama-nama baru yang berpotensi menjadi "kuda hitam" di bursa calon wakil presiden.
Prabowo Subianto Kuasai Popularitas dan Elektabilitas
Dalam rilis yang diterima redaksi, Direktur Politik dan Kebijakan Publik Adidaya Institute, Ahmad Fadhli, memaparkan bahwa popularitas Prabowo diikuti oleh sejumlah tokoh nasional lainnya. Gibran Rakabuming berada di posisi kedua dengan 92,7 persen, disusul Anies Baswedan (91,5 persen), Dedi Mulyadi (90,4 persen), dan Ganjar Pranowo.
Angka elektabilitas pun memperkuat dominasi tersebut. Jika pemilihan presiden digelar saat survei berlangsung, sebanyak 32,6 persen responden dengan mantap memilih Prabowo Subianto. "Disusul berikutnya oleh Dedi Mulyadi sebanyak 14,2 persen responden, Anies Baswedan 10,7 persen, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 3,5 persen dan Ganjar Pranowo 2,8 persen," jelas Fadhli dalam pernyataannya.
Fenomena "Kuda Hitam" di Bursa Cawapres
Menariknya, meskipun Gibran Rakabuming memiliki popularitas tinggi, ia justru tidak menduduki posisi puncak elektabilitas sebagai calon wakil presiden. Responden lebih banyak menjatuhkan pilihan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau KDM, yang meraih elektabilitas tertinggi untuk posisi cawapres sebesar 23,9 persen.
Posisi selanjutnya diisi oleh AHY dengan raihan sekitar 13,8 persen, sementara Gibran Rakabuming harus puas di angka 13,7 persen. "Dengan elektabilitas yang cukup besar, KDM dan AHY bisa menjadi kuda hitam dalam opsi pencalonan Cawapres di Pilpres mendatang. Ini harus jadi early warning bagi mas Gibran," ucap Fadhli, menekankan potensi kejutan dari kedua nama tersebut.
Gerindra Kokoh di Puncak Elektabilitas Partai
Tingginya popularitas dan elektabilitas Prabowo Subianto juga berbanding lurus dengan performa partainya. Gerindra menempati posisi teratas sebagai partai politik dengan tingkat keterpilihan tertinggi, yakni 30,5 persen, jika pemilu legislatif dilakukan saat ini.
PDIP menyusul di posisi kedua dengan 11,5 persen, dan PKS di urutan ketiga dengan 9,1 persen. Fadhli menduga capaian Gerindra ini tidak lepas dari keberhasilan sejumlah program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo, seperti MBG, KDKMP, dan CKG. "Saya kira raihan elektabilitas Gerindra memang tidak dapat dipisahkan dengan elektabilitas Prabowo Subianto. Karena dalam pandangan masyarakat, keberhasilan pemerintahan Prabowo tentu merupakan bagian dari keberhasilan Gerindra. Di level bawah (akar rumput), kader dan kekuatan partai Gerindra menjadi penopang pelaksanaan program-program pemerintahan Presiden Prabowo," tutur dia.
Metodologi Survei yang Ketat
Survei Adidaya Institute ini dilakukan secara tatap muka (offline) pada 1-8 Mei 2026. Seluruh responden yang tersebar di 38 provinsi diwawancarai selama kurang lebih 15 menit. Lembaga tersebut menggunakan metode "probability sampling" dengan toleransi kesalahan ("margin of error") sebesar 2,78 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Untuk memastikan kualitas data, Adidaya Institute menerapkan "quality control" yang ketat. Setiap responden diwajibkan untuk mengunggah foto dan membagikan lokasi ("share location") melalui Google Maps, guna memverifikasi keberadaan mereka secara langsung di lapangan.
Editor: Laras Wulandari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Mantan Dubes Soroti Praktik Diplomasi Prabowo: Dubes RI Tak Dilibatkan dalam Pertemuan Kenegaraan
Analis Nilai Kasus BGN Jadi Momentum Prabowo Bersihkan Lingkaran Dalam
Analisis Pengamat: Peluang Bahlil Maju di Pilpres 2029 Bergantung pada Keputusan Prabowo
Bahlil Minta Izin Panggil Presiden Prabowo Kakanda di Pembukaan Munas HIPMI