Prabowo Sebut Kondisi Negara Sudah Rusak Parah, Singgung Salah Urus Sejak Era 1990-an

- Selasa, 21 Juli 2026 | 06:50 WIB
Prabowo Sebut Kondisi Negara Sudah Rusak Parah, Singgung Salah Urus Sejak Era 1990-an
PARADAPOS.COM - Presiden Prabowo Subianto secara terbuka mengungkapkan keterkejutannya atas kondisi “kerusakan” yang ia temukan setelah resmi menjabat sebagai kepala negara. Dalam pernyataan di hadapan publik, Prabowo menyebut tingkat kerusakan tersebut sudah berada pada stadium paling tinggi. Pernyataan ini memicu diskusi mengenai arah pengelolaan negara selama ini.

Keterkejutan di Puncak Kekuasaan

Sejak dilantik, Prabowo beberapa kali menyampaikan kekagetannya di forum-forum publik. Ia mengaku baru benar-benar menyadari betapa parahnya situasi setelah duduk di kursi presiden. “Benar-benar rusak parah alias stadium tingkat paling tinggi,” ujarnya dalam salah satu kesempatan.

Isyarat dari Masa Lalu

Menariknya, Prabowo sebenarnya sudah lama mencium adanya masalah. Dalam pidatonya saat Pemilihan Ketua Umum HIPMI di Lampung beberapa waktu lalu, ia mengungkapkan bahwa sejak era 1990-an, Indonesia sudah berada di jalur yang keliru. Namun, setelah menjabat, skala kerusakan yang ia lihat ternyata jauh melampaui bayangannya.

Analisis dari Pengamat

Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, memberikan perspektifnya. “Artinya, Indonesia salah urus atau salah arah, Prabowo sudah lama tahu,” katanya. Menurut Erizal, fakta di lapangan menunjukkan betapa sistemiknya persoalan yang dihadapi. Ribuan triliun rupiah disebut mengalir ke luar negeri tanpa kendali yang berarti. “Perampokan SDA (Sumber Daya Alam) terjadi secara masif seperti negeri tak bertuan,” ungkapnya.

Keheningan yang Mengherankan

Erizal juga menyoroti tidak adanya suara lantang yang menentang praktik tersebut. Ia mempertanyakan apakah para pihak yang seharusnya bersuara tidak berani, tidak tahu, atau justru menjadi bagian dari masalah. “Entah tak berani, tak tahu-menahu, atau justru jadi bagian,” ujarnya.

Spekulasi soal Hubungan dengan Jokowi

Lebih jauh, Erizal menyinggung kemungkinan perubahan dinamika politik ke depan. “Bisa jadi inilah salah satu alasan, kalau nanti Presiden Prabowo berpisah jalan dengan Jokowi, karena Jokowi terlihat hanya memikirkan masa depan anak-anaknya, ketimbang memikirkan masa depan generasi mendatang,” pungkasnya. Pernyataan-pernyataan ini tentu menambah spekulasi mengenai arah pemerintahan ke depan dan hubungan antara dua tokoh nasional tersebut. Publik masih menunggu langkah konkret yang akan diambil Prabowo untuk mengatasi “kerusakan” yang ia soroti.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar