PARADAPOS.COM - Jurnalis senior Hersubeno Arief menyoroti dinamika internal Partai Gerindra menyusul tingginya elektabilitas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang disebut melampaui Ketua Umum partai, Prabowo Subianto. Ia menilai partai berlambang Garuda itu perlu menerapkan disiplin komando secara senyap, salah satunya dengan melarang para elitnya bersuara sinis atau menyerang Dedi di ruang publik. Pernyataan ini mengemuka di tengah rilis dua lembaga survei, SMRC dan Indikator Politik Indonesia, yang menempatkan Dedi di atas Prabowo dalam berbagai simulasi pencalonan presiden.
Hersubeno, yang akrab disapa Hersu, menekankan bahwa kegaduhan politik internal justru akan kontraproduktif di tengah dinamika elektoral yang sedang berjalan. Ia mengingatkan bahwa komunikasi internal partai seharusnya tidak dikonsumsi publik secara luas.
Disiplin Senyap di Tubuh Partai
Menurut Hersu, langkah yang paling bijak saat ini adalah menegakkan aturan main internal tanpa perlu diumbar ke media. Ia mencontohkan, instruksi tegas kepada jajaran DPP Partai Gerindra untuk tidak melontarkan pernyataan yang bernada menyerang figur Dedi Mulyadi merupakan bentuk kedewasaan berpolitik.
"Secara internal, Partai Gerindra juga harus disiplin ya, harus menegakkan disiplin komando tanpa menimbulkan kegaduhan politik. Misalnya caranya, menginstruksikan jajaran elit DPP Partai Gerindra itu tidak mengeluarkan pernyataan sinis atau menyerang figur Dedi di media massa, enggak boleh terjadi ya," ujarnya dalam kanal YouTube Hersubeno Point, dikutip Jumat (31/7).
Ia menambahkan, sikap reaktif terhadap hasil survei justru akan menunjukkan bahwa partai sedang goyah. Padahal, lanjutnya, persoalan seperti ini idealnya cukup diselesaikan di ruang-ruang tertutup antar pengurus, bukan melalui perang pernyataan di ruang publik.
Perbandingan Elektabilitas yang Mencolok
Pernyataan Hersu ini merujuk pada data terbaru yang dirilis oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Indikator Politik Indonesia pada akhir Juli 2026. Dalam simulasi semi terbuka SMRC, Dedi Mulyadi menempati peringkat pertama dengan elektabilitas 35%, sementara Prabowo berada di posisi kedua dengan 14,5%. Angka ini menunjukkan selisih yang cukup jauh, lebih dari dua kali lipat.
Bahkan dalam simulasi head to head, keunggulan Dedi semakin melebar hingga 59% berbanding 28,3% untuk Prabowo. Temuan ini menjadi sinyal kuat bagi internal Gerindra untuk mulai menghitung ulang strategi politik mereka ke depan.
Sementara itu, Indikator Politik Indonesia juga mencatat hal serupa. Meskipun tingkat pengenalan publik terhadap Prabowo lebih tinggi, yakni 98,8% dibanding Dedi yang berada di angka 88,2%, namun tingkat kesukaan responden terhadap Dedi jauh lebih unggul. Dedi mencatatkan skor 88,3%, sementara Prabowo hanya 68,1%. Artinya, popularitas memang masih milik Prabowo, tetapi preferensi publik justru condong kepada gaya kepemimpinan Dedi.
Fenomena ini tentu menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi mesin politik Gerindra. Di satu sisi, mereka memiliki kader dengan elektabilitas tinggi yang bisa menjadi aset, tetapi di sisi lain, hal ini berpotensi menimbulkan gesekan internal jika tidak dikelola dengan hati-hati.
Artikel Terkait
Pengamat: Dugaan Mafia Survei Ancam Independensi Data dan Etika Demokrasi
Kaesang Maju di Dapil Jateng V: Langkah Pembuktian Basis Jokowi dan Tantangan Langsung ke Puan Maharani
Survei SMRC dan Indikator: Elektabilitas Dedi Mulyadi Ungguli Prabowo di Simulasi Pilpres 2029
Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur Mendadak, Ketegangan dengan Menkeu soal Likuiditas dan Pertumbuhan Ekonomi Jadi Sorotan