PARADAPOS.COM - Wacana mengenai kemungkinan Presiden Prabowo Subianto mundur dari jabatannya setelah Agustus 2026 mencuat ke publik. Hal ini disampaikan oleh praktisi intelijen Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra yang mengaitkan skenario tersebut dengan desakan publik dan kondisi kesehatan. Jika itu terjadi, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka diprediksi akan naik menggantikan posisinya. Pernyataan ini pun memicu diskusi hangat, terlebih mengingat adanya kabar serupa yang sempat beredar pada awal 2024 lalu.
Dalam sebuah diskusi yang disiarkan melalui kanal YouTube 2045 TV, Radjasa Chandra mengungkapkan kekhawatirannya. Ia menilai bahwa situasi politik pasca-Agustus 2026 berpotensi memunculkan gejolak yang tidak terduga. Menurut pengamatannya, tekanan dari masyarakat yang semakin kuat, ditambah dengan kondisi fisik Presiden yang tidak prima, bisa menjadi pemicu utama terjadinya pengunduran diri secara tiba-tiba.
Kesehatan dan Tekanan Publik Jadi Faktor Kunci
Radjasa tidak menampik bahwa isu kesehatan menjadi salah satu variabel penting dalam skenario yang ia gambarkan. Ia menyebutkan secara langsung bahwa kondisi kesehatan Prabowo tidak dalam keadaan baik-baik saja. Pernyataan ini tentu saja menambah spekulasi di tengah publik yang mulai resah dengan berbagai dinamika politik menjelang periode tersebut.
"Sesungguhnya gini ya, kita dari kondisi kesehatan Prabowo itu juga enggak baik-baik aja loh. Enggak baik-baik aja. Eh, yang kita khawatirkan nanti ketika terjadi gonjang-ganjing ya kan mulai Agustus dan seterusnya ini bisa juga ya kan tiba-tiba Presiden mengundurkan diri karena desakan publik, yang jadi Wapres," ujar Radjasa dalam kesempatan tersebut.
Ia kemudian memberikan penegasan mengenai perbedaan mendasar antara pengunduran diri dan pemakzulan. Menurutnya, jalur mundur secara sukarela memiliki konsekuensi politik yang berbeda dibandingkan dengan proses pemberhentian melalui mekanisme konstitusional. Radjasa menyiratkan bahwa skenario pengunduran diri ini bisa saja terjadi secara beruntun atau "satu paket" dengan perubahan politik lainnya.
"Kalau presiden mengundurkan diri itu beda loh. Mungkin bisa satu paket," imbuhnya.
Lebih lanjut, ia kembali menekankan bahwa dua alasan utama yang mendasari kemungkinan tersebut adalah tekanan publik yang sangat kuat serta faktor kesehatan yang tidak mendukung. Ia mengulangi pernyataannya dengan nada yakin, seolah ingin memastikan bahwa analisisnya berdasarkan pada data dan sinyal yang ia terima dari lapangan.
"Ya itu tadi karena desakan publik ya kan (Presiden mengundurkan diri) yang begitu kuat kemudian kesehatan ya kan dia mundur ya," tandasnya.
Bantahan Keras dari Rosan Roeslani
Wacana ini sebenarnya bukan hal yang baru. Pada awal tahun 2024, pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie sempat menggemparkan publik dengan pernyataannya. Ia mengaku mendapat informasi langsung dari Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Rosan Roeslani, mengenai rencana masa jabatan presiden yang hanya dua tahun.
Connie menceritakan bahwa informasi tersebut ia peroleh dalam sebuah perbincangan. Ia mengaku bertanya langsung mengenai durasi kepemimpinan Prabowo jika terpilih nanti. Jawaban yang ia terima, menurut pengakuannya, cukup mengejutkan karena menyebutkan angka dua tahun.
"Saya bilang apa dulu saya mau tanya emang Pak Prabowo ini bakal jadi presiden berapa lama? Ini menyampaikan Pak Rosan loh, duta besar kita, mantan, di Amerika. Jadi rencananya dua tahun. Tiga tahun berikutnya diikuti oleh Gibran," kata Connie.
Namun, klaim tersebut langsung ditepis mentah-mentah oleh Rosan Roeslani. Ia membantah keras pernah melontarkan pernyataan soal pembagian masa jabatan. Rosan justru mengembalikan narasi "dua tahun" tersebut kepada Connie, dengan menyebut bahwa ide itu pertama kali dicetuskan oleh pengamat militer tersebut dalam sebuah diskusi.
"Pernyataan yang dua tahun itu bukan datang dari saya. Beliau (Connie) mengatakan, 'Ini gimana kalau sudah dua tahun, atau kalau tiba-tiba Pak Prabowo, saya ini orang intelijen, bisa saja Pak Prabowo diracun, bisa lebih cepat, itu gimana?', dia bilang begitu," ujar Rosan dalam konferensi pers di Media Center TKN Prabowo-Gibran, Jakarta Selatan.
Rosan mengaku saat itu ia langsung menegur Connie karena menganggap pembahasan tersebut tidak pantas. Ia menegaskan bahwa kubu pemenang pemilu tidak pernah memiliki skenario atau pemikiran ke arah pengurangan masa jabatan presiden terpilih.
"Saya bilang, 'Bu, udahlah, itu tidak pantas. Ya sudahlah, kita, sih, nggak ada pikiran seperti itu lah, janganlah'," lanjutnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Istana Kepresidenan maupun pihak-pihak terkait mengenai wacana yang kembali mengemuka ini. Publik pun masih menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai kebenaran isu yang beredar di tengah hiruk-pikuk politik nasional tersebut.
Artikel Terkait
Praktisi Intelijen Sebut Teddy Indra Wijaya Diproyeksikan Jadi Cawapres Gibran di Pilpres 2029
Wacana Peralihan Kekuasaan ke Gibran Menguat, Istana dan Rosan Roeslani Bantah Skenario Prabowo Mundur Lebih Cepat
Jokowi Dinilai Manfaatkan Safari Politik untuk Perkuat PSI di Basis Pendukung Lamanya
Jokowi Hadiri Rakorda PSI di Kupang, Ingatkan Kader agar Selalu Hadir dan Bantu Selesaikan Masalah Warga