PARADAPOS.COM - Gelombang kunjungan politik yang dilakukan Joko Widodo ke sejumlah daerah dalam beberapa pekan terakhir memicu spekulasi baru di panggung politik nasional. Pengamat politik Rocky Gerung menilai rangkaian safari tersebut bukanlah sekadar agenda seremonial, melainkan manuver strategis untuk mengamankan jalur kekuasaan putra sulung Presiden ke-7 RI itu, Gibran Rakabuming Raka, menuju kursi presiden. Pernyataan ini disampaikan Rocky di tengah sorotan publik terhadap aktivitas Jokowi di Lampung dan Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dinilainya sebagai upaya konsolidasi massa untuk kepentingan politik Gibran di masa depan.
Menariknya, penilaian ini muncul di saat posisi Gibran sebagai Wakil Presiden masih menjadi perdebatan hangat, baik dari sisi prosedural maupun penerimaan publik. Rocky mengamati ada benang merah yang menghubungkan setiap titik kunjungan Jokowi dengan kebutuhan untuk membangun fondasi elektoral yang kuat. Ia bahkan menyebut angka yang tegas untuk menggambarkan besarnya fokus Jokowi pada anaknya tersebut.
"Langkah Jokowi blusukan ke mana-mana... itu sebenarnya 100 persen untuk Gibran. Bukan 100 persen, 102 persen," ujar Rocky dalam kanal YouTube Total Politik pada 5 Agustus 2026.
Lebih jauh, Rocky mengungkapkan bahwa di balik agenda blusukan tersebut, tersimpan kekhawatiran mendalam akan masa depan Jokowi pasca tidak lagi memegang tampuk kekuasaan tertinggi. Menurutnya, sejumlah persoalan lama yang sempat meredup berpotensi kembali mengemuka dan menjadi serangan politik yang menyudutkan.
Ia menyebut beberapa isu sensitif yang dimaksud, mulai dari polemik ijazah, keputusan kontroversial di Komisi Pemilihan Umum (KPU), hingga persoalan yang melibatkan institusi-institusi negara lainnya. Bagi Rocky, isu-isu tersebut ibarat bom waktu yang bisa diledakkan kapan saja oleh lawan politik.
"Bagi Pak Jokowi, dia masih banyak kasus dan tidak mungkin orang berhenti mempersoalkan itu," kata Rocky.
Gibran Dinilai Menjadi Perisai Politik
Dalam analisisnya, Rocky menegaskan bahwa posisi Gibran sebagai Wakil Presiden saat ini belum cukup ampuh menjadi tameng politik bagi sang ayah. Ia berpendapat, jabatan tersebut masih rapuh dan kerap dijadikan sasaran tembak, baik dari sisi konstitusionalitas maupun persepsi publik yang terbelah.
Oleh karena itu, kelanjutan jenjang karier politik Gibran hingga ke puncak kekuasaan tertinggi menjadi sebuah kebutuhan strategis. Rocky menilai, hanya dengan menduduki kursi presiden, Jokowi bisa bernapas lega dan merasa aman dari berbagai tekanan politik yang mungkin menghadang.
"Satu-satunya yang bisa membuat dia aman kalau Gibran jadi presiden," tegas Rocky.
Atas dasar logika tersebut, Rocky meyakini kubu Jokowi akan terus bekerja keras membangun konsolidasi di akar rumput. Berbagai manuver dan kunjungan ke daerah-daerah diprediksi akan semakin masif, dengan tujuan utama menjaga pengaruh elektoral dan memastikan dinasti politiknya tetap memiliki daya tawar yang kuat dalam percaturan politik nasional ke depan.
Artikel Terkait
Rocky Gerung Sebut Komunikasi Jokowi-Prabowo Mulai Longgar, Kubu Solo Disebut Bangun Kekuatan Politik Sendiri
Pengamat Desak Prabowo Ganti Kapolri, Soroti Masa Jabatan hingga Netralitas
Dugaan Aliran Rp5 Triliun ke Inisial K Mencuat di Podcast, Ubedilah Badrun Klaim Dokumen Sudah Diserahkan ke KPK
Pengamat: Saya Pernah Anggap Jokowi Malaikat yang Turun dari Langit, Kini Menyesal