Rocky Gerung: Istilah Londo Ireng Prabowo Adalah Sindiran untuk Jokowi

- Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:50 WIB
Rocky Gerung: Istilah Londo Ireng Prabowo Adalah Sindiran untuk Jokowi
PARADAPOS.COM - Pengamat politik Rocky Gerung menafsirkan istilah "Londo Ireng" yang dilontarkan Presiden Prabowo Subianto sebagai simbol pengkhianatan, sebuah sindiran yang menurutnya diarahkan publik kepada Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi). Pernyataan ini muncul di tengah panasnya dinamika politik pasca-Pilpres 2024, di mana Rocky juga menyinggung soal dendam Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Dalam kanal YouTube Total Politik, Selasa (11/8), Rocky menguraikan makna di balik istilah yang sempat menimbulkan tanda tanya di masyarakat tersebut. Istilah "Londo Ireng" sendiri berasal dari tradisi Jawa yang secara harfiah berarti "Belanda hitam". Sejak dahulu, sebutan ini melekat pada pihak-pihak yang dianggap berkhianat dan memihak kolonial Belanda dalam perjuangan kemerdekaan. Kini, istilah itu kembali mengemuka di panggung politik nasional, ditabuh langsung oleh kepala negara. Rocky menilai bahwa publik pada dasarnya sepakat keberadaan pengkhianat dalam perjalanan bangsa ini. Hanya saja, siapa sosok yang dimaksud bisa berbeda-beda tergantung sudut pandang. "Tapi bagi publik umum merasa ya memang ada pengkhianat kok. Siapa yang londo ireng? Misalnya kalau kita radikalkan ya Jokowi. Siapa yang mesti ucapkan itu? Publik. Siapa yang paling dendam dengan isu itu? Megawati," ujarnya. Dendam Politik dan Tudingan Pengkhianatan Konstitusi Pernyataan Rocky ini tidak muncul dari ruang hampa. Ketegangan antara Jokowi dan PDIP memang sudah menjadi rahasia umum. Partai berlambang banteng itu secara resmi menilai Jokowi telah melakukan pelanggaran berat terhadap AD/ART partai. Sikap Jokowi yang tidak mendukung pasangan Ganjar Pranowo–Mahfud MD, melainkan justru mengarahkan dukungannya ke kubu Prabowo-Gibran, dianggap sebagai bentuk pembangkangan politik. Lebih jauh lagi, sejumlah pengamat hukum berpendapat bahwa Jokowi telah mencederai konstitusi. Hal ini terkait dengan dugaan penggunaan pengaruh kekuasaan untuk meloloskan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden. Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No. 90/PUU-XXI/2023 yang membuka pintu bagi Gibran dinilai sarat konflik kepentingan, mengingat Ketua MK saat itu, Anwar Usman, adalah adik ipar Jokowi. Langkah ini pun dicap sebagai bentuk nepotisme yang menggerus tatanan hukum dan moralitas demokrasi. Sindiran Prabowo di Hadapan Kader PKB Sebelum Rocky memberikan penafsirannya, Prabowo Subianto lebih dulu melontarkan istilah ini di hadapan publik. Dalam sambutannya pada Peringatan Hari Lahir ke-28 PKB di Jakarta Convention Center, Kamis (23/7/2026), Prabowo menyebut mentalitas "Londo Ireng" masih hidup dan berkeliaran di era modern ini. Ia menyindir sebagian orang Indonesia yang dinilainya lebih senang mengabdi kepada kepentingan bangsa asing ketimbang bangsanya sendiri. "Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Iya, yang ikut Belanda perang lawan kita, Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain kan," kata Prabowo. Sindiran tersebut tidak berhenti di situ. Prabowo juga melayangkan kritik tajam kepada kalangan wartawan, jurnalis, pengamat, dan LSM. Ia mempertanyakan independensi dan sumber pendanaan mereka. "Harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah, kita tahu kan?" imbuhnya. Pernyataan-pernyataan ini tentu memantik diskusi hangat di ruang publik. Penafsiran Rocky Gerung menambah lapisan baru dalam perdebatan, menghubungkan sindiran presiden dengan dinamika politik pasca-pemilu yang masih meninggalkan residu.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar