Soal posisi Purbaya di media sosial, Ismail melihat adanya dominasi framing positif di TikTok.
“Purbaya sebagai Pahlawan (Hero). Framing ini sangat kuat di TikTok. Melalui klip-klip pendek yang diedit dengan musik dramatis,” ungkapnya.
Dalam konten itu, citra Purbaya dibangun dengan kuat.
Purbaya ditampilkan sebagai figur yang cerdas, tegas, dan berani melawan kemapanan seperti saat berdebat di DPR.
Bahkan, beberapa akun populer di TikTok semakin menguatkan citra tersebut. Namun, framing yang muncul di media lain justru berbeda.
“Purbaya sebagai Penjahat (Villain). Framing ini muncul dari dua sumber,” tegasnya.
Ismail menjelaskan, sumber pertama datang dari media kritis. Pertama, dari media kritis yang menuduh kebijakannya berpihak pada konglomerat.
Lalu, sumber kedua berkembang di ruang digital.
Tepatnya dari media sosial yang fokus pada kontroversi personal, yang melabelinya sebagai sosok arogan dan tidak berempati.
Sementara itu, framing Sri Mulyani bergerak ke arah berbeda, sebagai Korban atau Simbol Masa Lalu (Victim).
Terlebih, dalam narasi pergantian jabatan, Sri Mulyani seringkali diposisikan sebagai korban dari perubahan politik.
"Perpisahannya yang emosional membangkitkan simpati publik dan secara kontras menempatkan Purbaya sebagai pendatang baru yang harus membuktikan diri,” kuncinya.
Sumber: Fajar
Artikel Terkait
PBNU Tetapkan Kembali KH Yahya Cholil Staquf Sebagai Ketua Umum: Jadwal Muktamar NU 2026
Kekeliruan Tanggal Lulus Jokowi di Video UGM: Fakta, Kronologi, dan Analisis Lengkap
TPUA Klaim Eggi Sudjana & Damai Hari Lubis Resmi Jadi Bagian Kubu Jokowi: Kronologi Lengkap
Desakan Copot Erick Thohir dari Menpora: PP Himmah Kritik Kinerja & Isu Reshuffle Kabinet Prabowo