Raffi Ahmad Tunjuk Hotman Paris Buntut Namanya Disebut dalam Sidang Suap Blueray Cargo

- Selasa, 09 Juni 2026 | 04:50 WIB
Raffi Ahmad Tunjuk Hotman Paris Buntut Namanya Disebut dalam Sidang Suap Blueray Cargo

PARADAPOS.COM - Nama Raffi Ahmad mencuat dalam fakta persidangan kasus dugaan suap importasi barang yang melibatkan PT Blueray Cargo. Menanggapi hal ini, presenter sekaligus Utusan Khusus Presiden tersebut langsung mengambil langkah hukum dengan menghubungi pengacara kondang Hotman Paris untuk meminta pendampingan. Langkah ini diambil setelah namanya dikaitkan dengan perkara yang tengah diusut oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Konferensi pers pun dijadwalkan akan digelar pada Kamis (11/6/2026) sebagai bentuk hak jawab atas berbagai tudingan yang beredar.

Langkah Cepat Raffi Ahmad

Begitu namanya disebut dalam persidangan, Raffi Ahmad tidak tinggal diam. Ia segera menghubungi Hotman Paris, pengacara yang dikenal vokal dan sering menangani kasus-kasus besar. Keputusan ini diambil agar isu yang berkembang tidak semakin liar dan merugikan namanya.

"Barusan Raffi Ahmad telepon saya, minta pendampingan hukum melawan semua yang telah memfitnah dia. Katanya nama dia disebut-sebutkan dalam sidang, ke sidang, sidang soal Blueray Cargo Import," ungkap Hotman Paris dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya.

Konferensi Pers dan Tantangan Terbuka

Hotman Paris memastikan bahwa dirinya bersama Raffi Ahmad akan memberikan penjelasan langsung kepada publik. Konferensi pers dijadwalkan berlangsung pada Kamis (11/6/2026). Menurutnya, ini adalah langkah yang diperlukan untuk meluruskan narasi yang beredar.

"Kalau gayanya Hotman Paris itu, tidak pernah seperti pengecut, enggak berani konferensi pers. Kalau konferensi pers, Hotman selalu menantang musuh-musuhnya datang," tegasnya.

Pengacara yang kerap tampil di layar kaca itu juga mengungkapkan alasan di balik penundaan konferensi pers. Ia harus mendampingi sang istri yang sedang menjalani perawatan di Singapura. "Mudah-mudahan saya bisa pulang. Rabu sore untuk mendampingi Raffi Ahmad," ujarnya.

Tak hanya memberikan klarifikasi, Hotman secara terbuka menantang pihak-pihak yang membuat konten atau narasi yang mengaitkan Raffi Ahmad dengan kasus tersebut. Ia meminta mereka hadir langsung dalam konferensi pers nanti. "Semua orang termasuk motivator, ayo datang sekalian. Ayo berani datang gak? Ayo debat sama Hotman dan Raffi, bawa bukti kalian," ucapnya dengan nada tinggi.

Fakta di Persidangan

Nama Raffi Ahmad muncul setelah disebut dalam persidangan perkara dugaan korupsi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea Cukai yang melibatkan PT Blueray Cargo. Dalam sidang tersebut, terungkap adanya pengiriman barang berupa laptop dan iPhone dari Amerika Serikat ke Indonesia melalui perusahaan jasa titipan itu.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyidikan KPK, Achmad Taufik Husein, memberikan penjelasan terkait hal ini. Ia menegaskan bahwa informasi mengenai Raffi Ahmad berasal dari keterangan saksi yang sudah tertuang dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). "Betul karena memang itu sudah fakta persidangan, artinya itu juga dari hasil pemeriksaan saksi-saksi ketika di proses penyidikan," jelasnya kepada wartawan di Gedung Merah Putih KPK, Senin (8/6/2026).

Meski demikian, fakta bahwa Raffi Ahmad menitipkan barang melalui Blueray Cargo tidak serta-merta mengarah pada dugaan pelanggaran hukum. "Bahwa betul itu ada fakta Saudara RA itu menitip, tapi kita waktu itu belum sampai kepada mengarah bahwa itu penyelundupan," ujar Taufik.

Kronologi Kasus Blueray Cargo

Kasus yang menyeret PT Blueray Cargo bermula dari operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK pada 4 Februari 2026. Sehari setelahnya, KPK menetapkan enam orang sebagai tersangka, termasuk pemilik PT Blueray Cargo, John Field (JF), dalam perkara dugaan korupsi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea Cukai. Sorotan publik kini tertuju pada konferensi pers yang akan digelar Raffi Ahmad bersama Hotman Paris, di mana banyak pihak menunggu penjelasan langsung dari sang presenter terkait kemunculan namanya dalam sidang yang tengah menyita perhatian tersebut.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

JOKO Widodo alias Jokowi sudah lengser. Tak lagi punya kekuasaan. Presiden bukan, ketua partai juga bukan. Di PDIP, Jokowi pun dipecat. Jokowi dipecat bersama anak dan menantunya, yaitu Gibran Rakabuming Raka dan Bobbby Nasution. Satu paket. Anak bungsu Jokowi punya partai, tapi partainya kecil. Yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Partai gurem ini tidak punya anggota di DPR RI. Di Pemilu 2024, partai yang dipimpin Kaesang ini memperoleh suara kurang dari empat persen. Pada posisi seperti ini, apakah Jokowi lemah? Jangan buru-buru menilai bahwa Jokowi lemah. Lalu anda yakin bisa penjarakan Jokowi? Sabar! Semua ada penjelasan ilmiahnya. Semua ada hitung-hitungan politiknya. Manusia satu ini unik. Lain dari yang lain. Langkah politiknya selalu misterius. Tak mudah ditebak. Publik selalu terkecoh dengan manuvernya. Anda tak pernah menyangka Gibran jadi walikota, lalu jadi wakil presiden sebelum tugasnya sebagai walikota selesai. Anda tak pernah menyangka Kaesang jadi ketum PSI. Prosesnya begitu cepat. Tak ada yang prediksi Airlangga Hartarto mundur mendadak dari ketum Golkar. Anda juga tak pernah menyangka suara PDIP dan Ganjar Pranowo dibuat seragam yaitu 16 persen di Pemilu 2024. Persis sesuai yang diinginkan Jokowi. Anda nggak pernah sangka UU KPK direvisi. UU Minerba diubah. Desentralisasi izin tambang diganti jadi sentralisasi lagi. Omnibus Law lahir. IKN dibangun. PIK 2 jadi PSN. Bahkan rektor universitas dipilih oleh menteri. Ini out of the box. Nggak pernah ada di pikiran rakyat. Tapi, semua dengan begitu mudah dibuat. Mungkin anda nggak pernah berpikir mobil Esemka itu bodong. Anda juga nggak pernah menyangka ketua FPI dikejar dan akan dieksekusi oleh aparat di jalanan. Juga nggak pernah terlintas di pikiran ada Panglima TNI dicopot di tengah jalan. Ini semua adalah langkah out of the box. Tak pernah terlintas di kepala anda. Di kepala siapa pun. Ketika anda berpikir Jokowi melemah pasca lengser, ternyata orang-orang Jokowi masuk kabinet. Jumlahnya masih cukup banyak dan signifikan. Ketua KPK, Jaksa Agung dan Kapolri sekarang adalah orang-orang yang dipilih di era Jokowi. Ketika anda tulis Adili Jokowi di berbagai tempat, Kaesang, anak Jokowi justru pakai kaos putih bertuliskan Adili Jokowi. Pernahkah Anda menyangka ini akan terjadi? Teriakan Adili Jokowi kalah kuat gaungnya dengan teriakan Hidup Jokowi. Ini tanda apa? Jelas: Jokowi masih kuat dan masih punya kesaktian. Semoga pemimpin zalim seperti Jokowi Allah hancurkan. inilah doa sejumlah ustaz yang seringkali kita dengar. Apakah Jokowi hancur? Tidak! Setidaknya hingga saat ini. Esok? Nggak ada yang tahu. Dan kita bukan juru ramal yang pandai menebak masa depan nasib orang. Kalau cuma 1.000 sampai 2.000 massa yang turun ke jalan untuk adili Jokowi, nggak ngaruh. Ngaruh secara moral, tapi gak ngaruh secara politik. Beda kalau satu-dua juta mahasiswa duduki KPK, itu baru berimbang. Emang, selain 1998, pernah ada satu-dua juta mahasiswa turun ke jalan? Belum pernah! Massa mahasiswa, buruh dan aktivis saat ini belum menemukan isu bersama. Isu Adili Jokowi tidak terlalu kuat untuk mampu menghadirkan satu-dua juta massa. Kecuali ada isu lain yang menjadi triggernya. Contoh? Gibran ngebet jadi presiden dan bermanuver untuk menggantikan Prabowo di tengah jalan, misalnya. Ini bisa memantik kemarahan massa untuk terkonsentrasi kembali pada satu isu. Contoh lain: ditemukan bukti yang secara meyakinkan mengungkap kejahatan dan korupsi Jokowi, misalnya. Ini bisa jadi trigger isu. Ini baru out of the box vs out of the box. Tagar Adili Jokowi bisa leading. Kalau cuma omon-omon, ya cukup dihadapi oleh Kaesang yang pakai kaos Adili Jokowi. Demo Adili Jokowi lawannya cukup Kaesang saja. Jokowi terlalu tinggi untuk ikut turun dan menghadapinya. Sampai detik ini, Jokowi masih terlalu perkasa untuk dihadapi oleh 1.000-2.000 massa yang menuntutnya diadili. rmol.id *Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Terkini

Terpopuler