Israel Intensifkan Persiapan Militer Usai Kegagalan Perundingan AS-Iran

- Senin, 13 April 2026 | 01:25 WIB
Israel Intensifkan Persiapan Militer Usai Kegagalan Perundingan AS-Iran
Israel Bersiap Lanjutkan Operasi Militer Usai Kegagalan Perundingan AS-Iran

PARADAPOS.COM - Israel mengintensifkan persiapan militer untuk kemungkinan serangan lanjutan terhadap Iran, menyusul kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan. Negosiasi yang berlangsung selama 21 jam itu gagal meraih titik temu terkait isu krusial program nuklir dan keamanan Selat Hormuz. Situasi ini berkembang meski gencatan senjata antara kedua pihak masih berlaku untuk dua pekan ke depan.

Peningkatan Kesiapan Tempur IDF

Laporan dari dalam tubuh militer Israel mengindikasikan gelombang persiapan yang serius. Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir, telah mengeluarkan perintah untuk mempersiapkan kemungkinan dimulainya kembali operasi militer. Sumber-sumber dalam angkatan bersenjata menyebutkan, IDF tengah melakukan persiapan struktural menyeluruh untuk menggelar operasi baru.

Intelijen militer dikabarkan sedang menyusun daftar target potensial, dengan fokus pada instalasi-instalasi militer Iran. Di sisi lain, Angkatan Udara Israel juga dilaporkan telah mempersiapkan sejumlah opsi serangan yang dikenal sebagai "paket serangan", meski keputusan politik akhir untuk melancarkannya belum diambil.

Jalan Buntu di Meja Perundingan

Kegagalan diplomasi menjadi pemicu utama ketegangan yang kembali memanas. Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin delegasi negosiasi, secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya atas hasil pertemuan tersebut.

"Pertanyaannya sederhana, apakah kita melihat komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, bukan hanya sekarang, bukan hanya 2 tahun dari sekarang, tapi untuk jangka panjang? Kita belum melihatnya. Kita berharap akan melihatnya," tegas Vance.

Dia menambahkan bahwa pihaknya telah memberikan tawaran final yang jelas, namun ditolak oleh Iran. "Kami meninggalkan tempat ini dengan tawaran sangat sederhana, metode pemahaman yang merupakan tawaran final dan terbaik kami," lanjutnya. Vance menegaskan bahwa bagi Amerika Serikat, isu pengembangan senjata nuklir adalah batasan yang mutlak tidak dapat ditawar.

Pernyataan dan Bantahan dari Tehran

Di sisi lain, pemerintah Iran memiliki narasi yang berbeda. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengonfirmasi bahwa perundingan memang menemui jalan buntu, meski ada beberapa poin yang berhasil disepakati.

"Kami mencapai kesepahaman mengenai sejumlah isu, tapi pandangan kami berbeda pada dua atau tiga isu penting, dan pada akhirnya pembicaraan gagal menghasilkan kesepakatan," ungkap Baghaei seusai perundingan.

Meski tidak merinci secara spesifik, Baghaei menyebutkan bahwa pembahasan mencakup isu Selat Hormuz, program nuklir, ganti rugi, pencabutan sanksi, serta penyelesaian konflik regional. Iran secara konsisten membantah memiliki tujuan untuk mengembangkan senjata nuklir, dan menegaskan bahwa program nuklirnya adalah untuk tujuan sipil serta bersedia diawasi oleh badan pengawas internasional.

Ketegangan di Tengah Masa Gencatan

Situasi saat ini terasa paradoks: persiapan perang berjalan di satu sisi, sementara kesepakatan gencatan senjata yang dimulai awal April masih secara teknis berlaku. Dinamika ini menciptakan ketidakpastian tinggi di kawasan, dengan dunia internasional mencermati apakah jendela diplomasi masih terbuka atau telah tertutup sepenuhnya. Langkah-langkah yang diambil Israel dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu arah konflik yang telah lama mendominasi geopolitik Timur Tengah.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar