"Air mengalir deras membawa lumpur dan kayu ke pemukiman, menjadikan banjir bandang di Aceh sebagai salah satu yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir, menenggelamkan ribuan rumah dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi," jelas organisasi advokasi tersebut.
Peta yang dipublikasikan Jatam menunjukkan, kabupaten dengan garis ungu—seperti Pidie Jaya, Aceh Tengah, Aceh Utara, Aceh Tenggara, Aceh Selatan, Aceh Tamiang, Gayo Lues, hingga Aceh Singkil—merupakan daerah dengan banjir terparah yang telah berstatus siaga darurat.
Jatam mengakui penjelasan resmi tentang luapan sungai akibat hujan lebat, namun analisis peta mereka mengungkap lapisan fakta tambahan. "Hulu sungai yang sama sudah dibebani 30 izin tambang minerba seluas lebih dari 132 ribu hektare ditambah konsesi kayu dan HTI yang membentang hingga ke batas permukiman," tulis Jatam.
Salah satu contoh yang diangkat adalah kawasan Linge di Aceh Tengah, di mana PT THL disebut mengelola hampir 100 ribu hektare hutan. "Warga telah lama memprotes keberadaan konsesi tersebut karena merampas ruang hidup mereka dan mengubah hutan adat menjadi kebun industri pinus,"
Jatam menyimpulkan bahwa bencana banjir bandang di Aceh bukan semata-mata persoalan cuaca ekstrem. "Bencana di Aceh juga soal kepemilikan lahan raksasa oleh elit politik, termasuk presiden, yang ikut menentukan seberapa parah air bah menerjang kampung-kampung di hilir."
Artikel Terkait
Kiai Desak PBNU Pecat Kader Tersangka Korupsi, Sebut Membiarkan Itu Haram
Rian DMasiv Dituding Child Grooming: Pengakuan Korban & Fakta Viral
SBY Peringatkan Ancaman Perang Dunia III, Usulkan Sidang Darurat PBB
Saylviee Viral: Fakta Cosplay Seksi yang Trending di TikTok & Google