SBY Peringatkan Ancaman Perang Dunia III, Usulkan Sidang Darurat PBB

- Senin, 19 Januari 2026 | 15:25 WIB
SBY Peringatkan Ancaman Perang Dunia III, Usulkan Sidang Darurat PBB
SBY Khawatir Situasi Global Mirip Jelang Perang Dunia, Usul Sidang Darurat PBB

SBY Cemas: Situasi Global Saat Ini Mirip dengan Jelang Perang Dunia I dan II

PARADAPOS.COM – Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyuarakan peringatan serius mengenai meningkatnya ketegangan global yang berpotensi memicu Perang Dunia III. Mantan Presiden yang juga Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu menyatakan situasi dunia saat ini memiliki kemiripan yang mengkhawatirkan dengan kondisi menjelang terjadinya Perang Dunia I dan II.

Pernyataan dan Kekhawatiran SBY di Media Sosial

Kekhawatiran tersebut disampaikan SBY melalui akun media sosial X (sebelumnya Twitter), @SBYudhoyono, pada Senin (19/1/2026). Dalam cuitannya, SBY mengaku telah memantau dinamika geopolitik global selama tiga tahun terakhir dan merasa cemas akan kemungkinan terjadinya "prahara besar".

"Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan geopolitik, saya khawatir. Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya semakin sempit," tulis SBY.

Ia memaparkan beberapa kesamaan situasi saat ini dengan masa sebelum kedua perang dunia, seperti munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, pembentukan persekutuan militer yang berseberangan, serta pembangunan kekuatan militer dan mesin perang secara besar-besaran.

Pemicu Ketegangan Global yang Diidentifikasi SBY

SBY menyoroti sejumlah titik panas geopolitik yang menjadi pemicu ketegangan global, antara lain:

  • Operasi militer Amerika Serikat di Venezuela untuk menangkap Presiden Nicolás Maduro pada awal Januari 2026.
  • Rencana Presiden AS Donald Trump untuk mencaplok Greenland dan ancaman tarif dagang terkait.
  • Perang Rusia-Ukraina yang telah memasuki tahun kelima.
  • Uji coba rudal balistik Korea Utara yang jatuh di dekat ZEE Jepang.
  • Eskalasi ketegangan di Selat Taiwan antara China dan Taiwan.
  • Krisis nuklir Iran yang menghadapi tekanan dari Israel dan AS.
  • Perang saudara di Sudan yang memicu kejahatan massal dan pengungsian.

Doa Saja Tidak Cukup, Diperlukan Aksi Nyata

SBY menegaskan bahwa meskipun berdoa penting, namun tidak cukup untuk mencegah peperangan. Ia mengutip pernyataan negarawan Edmund Burke dan ilmuwan Albert Einstein bahwa kehancuran dunia sering terjadi karena orang-orang baik membiarkan kejahatan terjadi.

"Jika terjadi perang dunia total dan nuklir, korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 miliar manusia. Kehancuran akan masif. Tapi tidak cukup dengan doa. Umat manusia harus berupaya keras," tegas SBY.

Usulan Konkret: Sidang Umum PBB Darurat

Sebagai langkah nyata pencegahan, SBY mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera menggelar Sidang Umum darurat (Emergency UN General Assembly). Sidang yang menghadirkan para pemimpin dunia ini bertujuan merumuskan langkah-langkah konkret untuk mencegah krisis global dan potensi Perang Dunia III.

"Saya tahu PBB mungkin dianggap tidak berdaya. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran. Mungkin seruan ini 'bagai berseru di padang pasir', tetapi bisa juga menjadi awal kesadaran bersama untuk menyelamatkan dunia. If there is a will, there is a way," pungkas SBY.

Reaksi dan Eskalasi: Ancaman Perang Dunia III Makin Nyata?

Kekhawatiran SBY tampaknya makin relevan menyusul reaksi keras dari sekutu Rusia. Viktor Medvedchuk, politikus pro-Kremlin, memperingatkan bahwa deklarasi niat Prancis dan Inggris untuk mendirikan pusat militer di Ukraina pasca-ceasefire adalah provokasi yang dapat "membawa dunia ke Perang Dunia Ketiga".

Deklarasi Paris yang ditandatangani Presiden Prancis Emmanuel Macron, PM Inggris Keir Starmer, dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memang menuai kritik dari Moskow. Rusia menilai pengerahan pasukan asing di Ukraina sebagai langkah berbahaya yang mendekatkan NATO pada konflik langsung dengan Rusia.

Peran NATO dan Akar Ketegangan Rusia-Ukraina

Ketegangan ini berakar dari ekspansi NATO ke Eropa Timur pasca-Perang Dingin, yang dianggap Rusia sebagai ancaman. Keinginan Ukraina untuk bergabung dengan NATO sejak 2008 menjadi salah satu pemicu utama invasi Rusia pada 2022. Dukungan militer Barat yang berkelanjutan kepada Ukraina semakin memanaskan situasi, memunculkan kekhawatiran akan konflik yang meluas.

Dengan berbagai titik panas geopolitik dan eskalasi militer yang terjadi, peringatan SBY tentang kemiripan situasi saat ini dengan masa sebelum Perang Dunia layak menjadi perhatian serius komunitas global.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar