SBY Peringatkan Ancaman Perang Dunia III dan Serukan Aksi Darurat Global
Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyatakan kecemasan mendalam terhadap arah perkembangan geopolitik dunia yang semakin memanas. Mantan presiden yang dikenal dengan pengamatannya yang tajam ini memperingatkan bahwa situasi global saat ini memiliki kemiripan yang mengkhawatirkan dengan kondisi menjelang terjadinya Perang Dunia I dan II.
Tanda-Tanda Menuju Konflik Global Besar
SBY mengidentifikasi sejumlah tanda bahaya yang kian nyata. Tanda-tanda itu antara lain munculnya pemimpin-pemimpin dengan kebijakan agresif, pembentukan blok-blok negara yang saling berhadapan, serta penguatan kekuatan militer dan persiapan ekonomi perang secara masif oleh berbagai negara.
Melalui akun media sosial resminya, SBY mengungkapkan kegelisahannya. Terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga,
tulisnya.
Ancaman Perang Nuklir dan Kehancuran Total
Kekhawatiran terbesar SBY adalah eskalasi konflik yang berujung pada penggunaan senjata nuklir. Ia mengutip berbagai studi yang memprediksi korban jiwa bisa mencapai lebih dari lima miliar orang dalam skenario terburuk. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia,
tegasnya mengenai dampak perang nuklir.
Doa Tidak Cukup, Diperlukan Aksi Kolektif
Meski percaya pada kekuatan doa, SBY menekankan bahwa doa saja tidak memadai tanpa tindakan nyata. Ia mengingatkan pesan dari Edmund Burke dan Albert Einstein bahwa kehancuran sering terjadi bukan karena ulah orang jahat, tetapi karena orang-orang baik memilih untuk diam.
Sesempit apa pun, masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi dan dunia kita. Mari kita berbicara dan berupaya,
serunya.
Usulan Konkret: Sidang Umum Darurat PBB
Sebagai langkah pencegahan, SBY mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera menggelar Sidang Umum Darurat (Emergency UN General Assembly). Sidang yang mempertemukan para pemimpin dunia ini harus fokus pada langkah-langkah konkret untuk mencegah krisis global dan potensi pecahnya perang dunia baru.
Saya tahu, saat ini PBB boleh dikata tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan doing nothing,
ujar SBY. Ia optimistis bahwa inisiatif ini bisa memicu kemauan politik kolektif untuk perdamaian, dengan keyakinan if there is a will, there is a way.
Artikel Terkait
Peneliti Kritik KPK: Tangani Kasus Bupati Pekalongan, Tapi Abaikan Dugaan Keluarga Presiden?
Analis Kritik Langkah Politik Jokowi Pasca-Jabatan, Sebut Belum Pensiun dari Kekuasaan
Din Syamsuddin Kritik Keikutsertaan Indonesia dalam Forum Perdamaian Donald Trump
Analis Nilai Protes PDIP Soal Anggaran Makan Bergizi Gratis Ditunggangi Agenda Politik 2029