Ismail menjelaskan akar masalahnya adalah lumpuhnya total jaringan komunikasi dan listrik selama bencana. Tanpa sinyal, internet, dan listrik, warga tidak bisa mengirimkan dokumentasi foto atau video.
"Kami hanya bisa melihat di atap-atap. Tapi kami tidak bisa memviralkan," ujarnya, seperti dikutip dari inilah.com. Situasi tragis itu pun tidak muncul di media sosial dan tidak viral seperti di wilayah lain, sehingga skala kerusakan seolah tak terlihat oleh publik nasional.
Kondisi Lapangan yang Memilukan dan Dampak Melebihi Tsunami
Dalam rapat, Ismail menggambarkan situasi lapangan yang pedih. Warga terjebak hanya bisa bertahan di atap rumah dan bangunan ibadah, menunggu pertolongan berjam-jam. Ia bahkan mengaku sempat menangis meminta pesawat untuk mengirim logistik ke wilayah terisolir.
Lebih mengejutkan, Bupati menyatakan dampak banjir ini lebih dahsyat daripada tsunami di beberapa titik. Arus deras menciptakan muara-muara baru yang mengubah bentuk desa. Satu kampung bisa muncul 5-7 muara baru, dengan sebagian besar rumah warga hilang total.
Janji Pemulihan dari Pemerintah Pusat
Menanggapi hal ini, pemerintah pusat melalui Satgas Bencana berjanji mempercepat pemulihan. DPR RI menyepakati langkah prioritas, termasuk percepatan rehabilitasi jaringan listrik, fasilitas publik, dan akses logistik ke daerah terisolir.
Ismail berharap suara lantangnya di rapat bukan dianggap sebagai kritik, melainkan jeritan hati warga Aceh Utara yang selama ini berjuang sendirian tanpa sorotan luas.
Artikel Terkait
Alfarisi Meninggal di Rutan Medaeng: Kronologi, Dugaan Pelanggaran, dan Tanggapan KontraS
Crypto Presale 2024: Fokus Utilitas Nyata Menggantikan Hype, Ini Alasannya
Effendi Gazali Prediksi Kasus Ijazah Jokowi Baru Selesai 2035-2036, Ini Analisisnya
Sifat Asli Ridwan Kamil yang Mengejutkan, Diungkap Mantan Istri Atalia Praratya