APPBI Buka Suara soal Pagar Besi di Mal: Bukan Antisipasi Kerusuhan, Melainkan Atur Arus Pengunjung

- Kamis, 30 Juli 2026 | 16:25 WIB
APPBI Buka Suara soal Pagar Besi di Mal: Bukan Antisipasi Kerusuhan, Melainkan Atur Arus Pengunjung
PARADAPOS.COM - Pemasangan pagar besi tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan dan Surabaya ramai diperbincangkan di media sosial Threads. Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, buka suara. Ia menegaskan langkah ini murni untuk menata arus keluar-masuk pengunjung, bukan karena antisipasi kerusuhan. Pernyataan itu disampaikan di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Bukan karena Ancaman Kerusuhan

Viralnya unggahan foto mal-mal bertembok besi memicu spekulasi di kalangan warganet. Banyak yang mengaitkannya dengan potensi gejolak sosial. Namun, Alphonzus dengan tegas membantah anggapan tersebut. “Ya sebetulnya kan tujuan utamanya adalah untuk supaya lebih menertibkan gitu loh, arus keluar masuk pengunjung. Kalau terbuka itu kan pengunjung bisa masuk dan keluar dari mana saja, sehingga itu kan membahayakan lalu lintas sekitar gitu kan,” ujarnya saat ditemui di Auditorium Kemendag. Menurutnya, pagar bukanlah barang baru di dunia pusat perbelanjaan. Beberapa mal bahkan sudah memilikinya sejak awal beroperasi. Ia mencontohkan, banyak pusat belanja yang sejak berdiri sudah menggunakan pagar permanen. “Tetapi kan kalau kita lihat sebetulnya, yang pasang pagar ini kan kebetulan saja ini. Tapi kan sebelumnya banyak juga pusat belanja yang sudah berdiri sejak awal dengan pagar gitu kan. Jadi saya kira tujuan utamanya dari para pengelola adalah seperti itu. Untuk lebih menertibkan akses keluar masuk begitu ya,” katanya.

Fungsi Ganda sebagai Perimeter Keamanan

Meski tujuan utamanya pengaturan lalu lintas, Alphonzus mengakui pagar juga memiliki fungsi sekunder. Ia menyebutkan, sejumlah mal yang berlokasi di dekat titik-titik rawan demonstrasi memanfaatkan pagar sebagai batas pengaman. “Tetapi sekaligus juga tentunya, beberapa teman-teman pusat perbelanjaan yang berada di dekat dengan pusat-pusat kegiatan demonstrasi. Itu juga kan sering terjadi demonstrasi-demonstrasi di beberapa wilayah tertentu begitu. Jadi saya kira itu juga sekalian untuk bisa memberikan satu batas pengamanan lah begitu. Terhadap demonstrasi-demonstrasi yang suka berlangsung begitu ya,” jelasnya. Ia menambahkan, pengamanan yang dimaksud bukan untuk menghadapi kerusuhan, melainkan untuk mengatur akses dan melindungi area mal dari aktivitas unjuk rasa di sekitarnya. “Saya kira kerusuhan tidak ya. Tadi tujuan utamanya, satu, adalah menertibkan akses keluar masuk pengunjung begitu. Supaya bisa terpusatkan, kalau enggak kan masuk keluar dari mana saja begitu,” kata Alphonzus.

Demonstrasi Tidak Dilarang, Hanya Dibatasi Aksesnya

Alphonzus menekankan bahwa pihaknya tidak melarang demonstrasi selama memiliki izin. Namun, pagar diperlukan untuk memberikan batas yang jelas demi keamanan perimeter. “Kedua, saya kira lebih untuk bisa memberikan batas apa ya istilahnya itu. Jadi ya bukan kerusuhan. Tapi adalah situasi di mana beberapa pusat perbelanjaan itu kan dekat dengan kegiatan-kegiatan demonstrasi. Dan saya kira demonstrasi kan tidak dilarang sepanjang itu memang ada izinnya begitu. Tapi kan kembali lagi bagaimana itu bisa memberikan batas untuk dari sisi perimeter keamanan lah begitu ya. Saya kira lebih ke arah sana,” pungkasnya. Dengan penjelasan ini, publik diharapkan tidak salah kaprah. Pagar besi yang terlihat kokoh bukanlah simbol ketakutan, melainkan upaya pengelola untuk menciptakan lingkungan yang lebih tertib dan aman bagi semua.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar