Megawati Tegaskan Prinsip Tolak Pangkalan Militer Asing Masih Relevan

- Sabtu, 18 April 2026 | 10:50 WIB
Megawati Tegaskan Prinsip Tolak Pangkalan Militer Asing Masih Relevan

PARADAPOS.COM - Presiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menegaskan bahwa prinsip menolak keberadaan pangkalan militer asing di wilayah nasional masih relevan untuk dipegang Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang dinamis. Pernyataan ini disampaikan dalam seminar peringatan Konferensi Asia-Afrika di Sekolah Partai PDI-P, Jakarta Selatan, pada Sabtu (18/4/2026). Megawati mengingatkan bahwa kehadiran fasilitas militer negara lain dapat menjadi pintu masuk intervensi terhadap kedaulatan suatu bangsa.

Peringatan dari Sejarah dan Realitas Global

Megawati mendasarkan pandangannya pada dua hal: pelajaran sejarah Indonesia dan realitas konflik internasional terkini. Ia mengingatkan bahwa Indonesia pernah menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing (KIAPMA) pada 1965, sebuah momen bersejarah yang menegaskan komitmen bangsa ini terhadap kemerdekaan penuh. Menurutnya, semangat yang digaungkan pada era itu tidak luntur oleh waktu.

Dia kemudian mengaitkannya dengan situasi dunia saat ini yang penuh ketegangan. Megawati melihat bahwa berbagai intervensi terhadap negara berdaulat di belahan dunia, dari Amerika Latin hingga Timur Tengah, seringkali dimungkinkan oleh adanya pangkalan militer asing di wilayah tersebut.

"Berbagai intervensi kedaulatan suatu negara merdeka dan berdaulat di Amerika Latin dan Timur Tengah akhir-akhir ini dapat terjadi dengan cepat karena adanya pangkalan militer asing di suatu negara," tegas Ketua Umum PDI-P itu.

Gejolak Global dan Seruan Kembali ke Nilai Dasar

Lebih lanjut, Megawati menyoroti dua peristiwa yang mengguncang tatanan internasional: upaya penculikan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan serangan yang melibatkan Amerika Serikat serta Israel terhadap Iran. Peristiwa-peristiwa tersebut, dalam pandangannya, adalah bukti nyata betapa rapuhnya perdamaian dunia ketika prinsip kesetaraan antarnegara diabaikan.

"Ketika dunia saat ini dihadapkan pada persoalan di Venezuela melalui penculikan Presiden Maduro, dan serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, maka sistem internasional guncang," ungkapnya.

Kondisi yang bergejolak ini, lanjut Megawati, menuntut semua bangsa untuk kembali kepada nilai-nilai fundamental yang menjunjung tinggi kedaulatan dan kesetaraan, sebagaimana pernah disepakati dalam semangat Konferensi Asia-Afrika.

Membangun Kekuatan Pertahanan dengan Paradigma Damai

Dari analisis situasi global itu, Megawati menarik kesimpulan penting bagi masa depan Indonesia. Dia menekankan bahwa pembangunan kekuatan pertahanan dan keamanan nasional harus dilandasi oleh misi perdamaian dunia dan didukung oleh cara pandang geopolitik yang kuat dan mandiri.

Dengan kata lain, ketangguhan pertahanan bukan untuk agresi atau mengikuti blok kekuatan asing tertentu, melainkan untuk menjaga netralitas aktif dan kedaulatan negara, sekaligus menjadi penopang stabilitas di kawasan. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya konsistensi Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri bebas aktif, sebuah prinsip yang telah menjadi kompas bangsa sejak lama.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar