BGN Tangguhkan Operasional Dapur MBG SMKN 6 Semarang Usai 707 Siswa dan Guru Diduga Keracunan

- Senin, 03 Agustus 2026 | 03:50 WIB
BGN Tangguhkan Operasional Dapur MBG SMKN 6 Semarang Usai 707 Siswa dan Guru Diduga Keracunan

PARADAPOS.COM - Sebanyak 707 siswa dan guru di SMKN 6 Semarang, Jawa Tengah, diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Badan Gizi Nasional (BGN) merespons cepat dengan menangguhkan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi pada Minggu (2/8/2026) sembari menunggu hasil investigasi menyeluruh. Langkah ini diambil sebagai bentuk evaluasi dan kehati-hatian, dengan pemberian surat peringatan kepada pihak terkait, termasuk mitra, yayasan, dan koordinator wilayah.

Investigasi dan Penangguhan Operasional SPPG

Keputusan untuk menghentikan sementara aktivitas dapur SPPG Karangturi bukanlah tanpa alasan. Kepala BGN, Sudaryono, menegaskan bahwa langkah ini merupakan prosedur standar untuk memastikan proses pemeriksaan berjalan tanpa hambatan. "Jadi, dapurnya di-suspend sambil menunggu hasil investigasi. SPPG-nya juga kita beri surat peringatan. Ada mitra, ada yayasan, ada SPPG, termasuk koordinator wilayah juga kami beri peringatan," ujarnya saat dihubungi awak media.

Namun, ia berhati-hati untuk tidak menyimpulkan adanya kelalaian sebelum bukti kuat ditemukan. Penangguhan ini lebih dimaknai sebagai upaya preventif agar keamanan pangan bagi penerima manfaat program tetap terjaga. Tim investigasi gabungan bersama Dinas Kesehatan setempat masih terus bekerja di lapangan, memeriksa setiap tahapan pengolahan hingga distribusi makanan.

Bahan Makanan yang Diperiksa

Sejumlah sampel bahan pangan telah diamankan untuk diuji di laboratorium. Beberapa di antaranya yang menjadi sorotan adalah daun singkong dan bumbu rendang yang diduga menjadi bagian dari menu yang dikonsumsi korban. "Sejauh ini investigasi yang kami terima ada beberapa bahan, seperti daun singkong, bumbu rendang dan lain-lain. Kita minta Dinas Kesehatan melakukan uji laboratorium. Kita butuh waktu sekitar lima sampai tujuh hari kerja," jelas Sudaryono.

Proses uji laboratorium ini menjadi krusial untuk menentukan akar masalah secara pasti. Apakah kontaminasi bakteri, kesalahan pengolahan, atau faktor lain yang menjadi pemicu. Hingga saat ini, belum ada kesimpulan final, dan publik diminta menunggu hasil resmi yang diperkirakan keluar dalam waktu dekat.

Jeda Waktu Pengolahan dan Distribusi Jadi Sorotan

Selain faktor bahan baku, tim investigasi juga mendalami aspek waktu pengolahan. Berdasarkan temuan sementara di lapangan, makanan untuk SMKN 6 Semarang mulai dimasak sejak sekitar pukul 21.00 malam dan baru didistribusikan ke sekolah pada pagi harinya. Jeda waktu yang cukup panjang ini menjadi perhatian serius.

Menurut Sudaryono, durasi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas makanan apabila proses penyimpanan atau transportasi tidak sesuai standar operasional prosedur. "Jeda waktu yang cukup panjang itu sedang didalami karena bisa memengaruhi kualitas makanan apabila proses penyimpanan maupun distribusinya tidak sesuai standar," tuturnya. Pemeriksaan menyeluruh terhadap rantai pasok ini diharapkan dapat memberikan gambaran utuh mengenai penyebab insiden.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar