Pria di Tangerang Sekap dan Siksa Rekan Kerja yang Mau Mengundurkan Diri, Korban Disundut Rokok hingga Dipaksa Lakukan Aksi Tak Senonoh

- Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:25 WIB
Pria di Tangerang Sekap dan Siksa Rekan Kerja yang Mau Mengundurkan Diri, Korban Disundut Rokok hingga Dipaksa Lakukan Aksi Tak Senonoh
PARADAPOS.COM - Seorang pria berinisial PG menjadi korban dugaan penyiksaan brutal yang berlangsung lebih dari lima jam di Kabupaten Tangerang, Banten. Peristiwa yang terjadi pada Selasa (28/7) malam hingga Rabu (29/7) dini hari itu bermula dari niat korban untuk mengundurkan diri dari tempatnya bekerja di sebuah koperasi simpan pinjam. Korban diduga dipukul, ditendang, disekap, disundut rokok, hingga dipaksa melakukan tindakan asusila di bawah ancaman senjata tajam oleh lima orang yang diduga rekan kerjanya sendiri. Kejadian ini bermula ketika PG, yang baru empat hari bekerja di koperasi tersebut, mendatangi atasannya untuk menyampaikan keinginannya berhenti. Pria itu menilai pekerjaan yang dijalaninya tidak sesuai dengan harapan awal. Namun, alih-alih mendapat pengertian, niat baiknya itu justru berujung pada pengalaman traumatis yang nyaris merenggut nyawanya.

Kronologi Penyiksaan yang Berlangsung Semalaman

Kuasa hukum korban, Risman Harefa, menjelaskan bahwa peristiwa nahas itu terjadi di kawasan Panongan. Penyiksaan diduga berlangsung mulai pukul 23.00 WIB hingga sekitar pukul 04.30 WIB keesokan harinya. Dalam rentang waktu tersebut, korban tidak hanya menjadi sasaran amukan fisik, tetapi juga mengalami tekanan psikologis yang sangat berat. "Penganiayaan ini terjadi dari pukul 23.00 WIB hingga sekitar pukul 04.30 pagi. Ada lima orang terlapor yang terlibat dalam aksi tersebut," kata Risman saat dikonfirmasi pada Selasa (4/8/2026). Menurut penuturan Risman, selama disekap, korban mengalami berbagai bentuk kekerasan yang dilakukan secara bergantian. Tubuh PG dipukul dan ditendang di beberapa bagian. Lebih mengerikan lagi, para pelaku juga menyundutkan puntung rokok ke kulit korban. Korban bahkan dipaksa melakukan perbuatan tidak senonoh sambil diancam akan dibunuh apabila berani menolak perintah tersebut. "Korban dipukul, ditendang, disekap, diancam menggunakan pisau. Jika tidak melakukan onani, pelaku mengancam akan membunuhnya. Tubuh korban juga disundut puntung rokok di beberapa bagian," ujarnya.

Kondisi Korban dan Temuan Medis

Akibat penyiksaan yang berlangsung berjam-jam tersebut, PG mengalami luka memar di hampir seluruh tubuhnya. Kondisinya cukup memprihatinkan hingga ia harus menjalani perawatan medis secara intensif. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan adanya temuan yang mengkhawatirkan di bagian kepala korban. "Dokter menyampaikan ada potensi pecah pembuluh darah di otak meski ukurannya kecil. Selain itu, hampir seluruh tubuh korban dipenuhi memar," jelas Risman. Temuan medis ini tentu menjadi perhatian serius, mengingat dampak dari kekerasan fisik yang dialami korban tidak hanya meninggalkan bekas luka luar, tetapi juga berpotensi menimbulkan komplikasi kesehatan yang lebih parah di kemudian hari.

Kronologi Sebelum Pengeroyokan

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, insiden ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Saat PG menyampaikan niatnya untuk berhenti bekerja, atasannya justru tidak mengizinkannya pulang. Korban kemudian ditahan di tempat tersebut sambil menunggu kedatangan karyawan lain. Situasi semakin tidak terkendali ketika rekan-rekan kerja yang datang tersebut dalam kondisi mabuk setelah mengonsumsi minuman keras. "Bos korban tidak mengizinkan dia pulang. Korban ditahan hingga karyawan lain datang. Setelah mereka minum minuman keras, korban kemudian dikeroyok secara bersama-sama," ungkap Risman. Setelah berjam-jam menjadi sasaran kekerasan, korban kemudian dipindahkan ke sebuah rumah kontrakan untuk disekap lebih lanjut. Di lokasi inilah PG akhirnya menemukan celah untuk melarikan diri. Kesempatan itu muncul ketika orang yang bertugas menjaganya tertidur pulas akibat pengaruh alkohol. "Korban memanfaatkan situasi saat penjaganya tertidur dan berhasil kabur melalui celah jendela," ungkapnya.

Proses Hukum yang Berjalan

Hingga saat ini, kasus dugaan penyiksaan tersebut telah dilaporkan kepada pihak kepolisian setempat. Aparat penegak hukum masih melakukan penyelidikan secara mendalam untuk mengungkap seluruh pelaku yang terlibat serta motif di balik aksi brutal tersebut. Masyarakat sekitar berharap kasus ini dapat ditangani secara transparan dan memberikan keadilan bagi korban yang telah mengalami penderitaan fisik maupun psikis yang luar biasa.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar