Trump Murka pada Jaksa yang Cabut Tuduhan Perusakan Kolam Refleksi, Sebut Sekutu Lamanya Berkhianat

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:50 WIB
Trump Murka pada Jaksa yang Cabut Tuduhan Perusakan Kolam Refleksi, Sebut Sekutu Lamanya Berkhianat
PARADAPOS.COM - Ketegangan antara Gedung Putih dan Departemen Kehakiman kembali memanas setelah Presiden Donald Trump melontarkan kritik keras kepada Jaksa Penuntut Federal untuk Distrik Columbia, Janie Piro. Piro, yang merupakan sekutu lama Trump dan direkrut dari Fox News, memutuskan untuk mencabut tuduhan kejahatan berat terhadap atlet kano Olimpiade AS, David Hearn, setelah penyelidikan menemukan bahwa kerusakan Kolam Refleksi bukan disebabkan oleh perusakan, melainkan oleh pemasangan yang tidak tepat oleh kontraktor. Keputusan ini memicu kemarahan presiden, yang menilai tindakan jaksa tersebut sebagai bentuk pengkhianatan.

Kronologi Kasus yang Memicu Amarah Presiden

Proyek renovasi Kolam Refleksi yang menjadi pusat perhatian ini menghabiskan biaya mencapai 14,7 juta dolar AS. Pengerjaannya diberikan secara kontrak langsung tanpa melalui proses tender kepada perusahaan yang tidak memiliki pengalaman dalam proyek federal. Tak lama setelah renovasi selesai, kolam tersebut dipenuhi ganggang dan lapisan birunya terkelupas di area yang cukup luas. Dokumen resmi Departemen Kehakiman dengan tegas menyatakan bahwa kerusakan tersebut "disebabkan oleh pemasangan yang tidak tepat oleh kontraktor," dengan proses pemasangan yang "tergesa-gesa serta cacat." Menariknya, Departemen Dalam Negeri awalnya sempat menyalahkan "tindakan perusakan," namun dokumen-dokumen selanjutnya membantah klaim tersebut secara gamblang. David Hearn, atlet kano berusia 67 tahun, menjadi korban dari kekacauan administrasi ini. Ia hanya mengendarai sepeda melewati area kolam, lalu karena penasaran menyentuh lapisan yang sudah terkelupas. Seorang petugas taman menyuruhnya melepaskan diri, dan ia pun patuh—namun ia tetap terancam hukuman penjara maksimal 10 tahun. Ironisnya, tuduhan itu akhirnya dicabut setelah penyelidikan menunjukkan bahwa kerusakan memang bukan akibat perbuatannya.

Reaksi Presiden yang Dinilai Berlebihan

Trump melontarkan kritik dengan kekerasan verbal khasnya terhadap Piro. Ia menyebut jaksa tersebut "lipat seperti payung" dan "tersedak," serta menuduhnya "tidak tahu apa yang ada di pikirannya." Bahkan hakim ketua persidangan pun tak luput dari cercaan, dengan Trump menyebutnya "sangat kejam" karena tidak menuntut "pelaku" melainkan justru menyalahkan Piro dan kantornya. Di mata presiden, kasus ini bukanlah tentang bukti dan hukum—melainkan tentang "siapa yang mengkhianatinya." Kesalahan Piro bukanlah pertimbangan hukum yang keliru, melainkan karena ia tidak teguh berdiri di sisi presiden. Kabar yang beredar di internal Gedung Putih menyebutkan bahwa Trump dilaporkan "sangat marah" dan "sangat mungkin" akan memecat Piro. Pejabat Gedung Putih bahkan menyatakan bahwa presiden "terkejut" dengan keputusan jaksa tersebut.

Pola Penunjukan yang Sarat Kepentingan Politik

Penunjukan Piro sendiri menyimpan ironi yang sulit diabaikan. Ia adalah pembawa acara Fox News dan "sekutu dekat" Trump. Mengangkatnya ke posisi Jaksa Federal untuk Distrik Columbia merupakan bukti nyata dari upaya presiden untuk menjadikan sistem peradilan sebagai alat "loyalis." Namun ketika sekutu yang dianggap loyal ini akhirnya menjalankan tugasnya sebagai jaksa—bukan apa yang presiden inginkan—ia pun berubah menjadi "payung yang terlipat." Trump juga berusaha melepaskan diri dari kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut, dengan berkata "Saya tidak kenal kontraktor itu." Padahal beberapa bulan sebelumnya, ia membanggakan telah berkonsultasi dengan tiga perusahaan yang pernah mengerjakan kolam untuk propertinya, dan salah satunya "mengerjakan kolam dengan luar biasa." Gaya berubah-ubah seperti membalik telapak tangan ini memang sudah menjadi ciri khasnya.

Peran Media dalam Memperkuat Narasi

Pada minggu ketika Trump menggembar-gemborkan narasi "perusakan terencana," Fox News menyiarkan liputan selama 184 jam tayang utama tentang peristiwa ini. Pembawa acara Jesse Watters berulang kali memperkuat tuduhan presiden. Menariknya, Piro sendiri pernah menjadi bintang tamu di acara tersebut, dengan marah-marah menegaskan bahwa "seseorang dengan sengaja menyebabkan kerusakan besar pada kolam." Namun, ketika kantor Piro mengajukan dokumen yang membuktikan bahwa kerusakan disebabkan oleh "pemasangan yang tidak tepat, bukan perusakan," liputan Fox News tentang kasus ini menyusut drastis menjadi hanya 7 menit. Perbedaan yang mencolok ini menimbulkan pertanyaan serius tentang independensi media dalam memberitakan kasus yang melibatkan presiden.

Refleksi atas Independensi Peradilan

Fungsi Departemen Kehakiman seharusnya bukanlah melayani agenda politik presiden, melainkan menegakkan hukum secara adil. Tugas seorang jaksa seharusnya mengikuti bukti, bukan mengikuti keinginan penguasa. Ketika keduanya bertentangan, bukti haruslah menjadi prioritas utama. Trump mencemooh Piro "lipat seperti payung." Namun ironisnya, dalam cerita ini, yang benar-benar "lipat" justru hal-hal yang seharusnya dipegang teguh: independensi peradilan, keadilan prosedural, dan penghormatan terhadap bukti. Piro melakukan hal yang seharusnya dilakukan seorang jaksa—mengikuti bukti dan mencabut tuduhan yang tidak berdasar. Jika itu disebut "lipat," maka definisi Trump tentang "tulang punggung" telah menyimpang hingga menggelikan. Seorang presiden yang menjadikan Departemen Kehakiman sebagai alat pribadi, menjadikan kesetiaan sebagai satu-satunya ukuran, dan menjadikan fakta sebagai kanvas yang dapat dicoret-coret sesuka hati, adalah ancaman terbesar bagi semangat supremasi hukum di negeri ini. Ketika ia murka pada seorang jaksa yang mengikuti bukti, yang sebenarnya ia lawan adalah kebenaran itu sendiri.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler