PARADAPOS.COM - Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Megawati Soekarnoputri, secara pribadi menyampaikan usulan kepada Presiden Prabowo Subianto terkait variasi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Usulan tersebut disampaikan Megawati saat berpidato dalam acara Expose Naskah Sumber Arsip Dasar Negara II di Jakarta pada Senin (10/8). Dalam kesempatan itu, putri Proklamator Soekarno ini secara spesifik meminta agar rendang, makanan khas Minang, turut masuk dalam daftar menu MBG yang dinilainya masih monoton.
Pernyataan itu mengemuka di tengah diskusi tentang arsip kenegaraan, namun dengan cepat menjadi sorotan karena menyentuh kebijakan publik yang tengah berjalan. Megawati tidak hanya berbicara sebagai mantan kepala negara, melainkan juga menyelipkan perspektif kebudayaan dalam program pangan nasional.
Usulan Langsung kepada Prabowo
Megawati mengaku tidak sungkan menyampaikan masukannya langsung kepada Prabowo. Baginya, hubungan personal yang sudah terjalin lama memudahkan komunikasi soal kebijakan, terutama yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
"Ini yang saya bilang pada Pak Prabowo urusan MBG, saya bilang sebagai ibu lho. Saya sama beliau itu temenan dari jaman dulu," kata Megawati dalam pidatonya di acara Expose Naskah Sumber Arsip Dasar Negara II, di Jakarta, Senin (10/8).
Ia menegaskan bahwa kritik tersebut datang dari sudut pandang seorang ibu yang memahami kebutuhan gizi dan selera makan anak-anak. Menurutnya, kekayaan kuliner Nusantara adalah aset yang sayang jika tidak dimanfaatkan dalam program yang menyasar jutaan penerima manfaat ini.
Rendang dan Kekayaan Kuliner Nusantara
Di hadapan para hadirin, Megawati mencontohkan secara gamblang bagaimana percakapannya dengan Prabowo berlangsung. Ia bahkan menirukan gaya bicaranya yang khas saat menyampaikan usulan tersebut.
"Mas (Prabowo), makanannya saya lihat kok itu-itu aja toyo, lah mbok ya kan daerah kita nih macam-macam ya. Mbok ada rendang sekali-kali. Ketawa beliau," ujarnya.
Menurut Megawati, reaksi Prabowo yang tertawa menunjukkan bahwa masukan tersebut diterima dengan hangat. Namun, ia menekankan bahwa usulannya ini bukan sekadar candaan, melainkan sebuah catatan serius tentang pentingnya diversifikasi pangan.
Ia menilai Indonesia memiliki ragam makanan khas daerah yang sangat banyak. Karena itu, menurut dia, menu MBG semestinya tidak monoton dan bisa menjadi sarana promosi kuliner lokal sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi yang beragam.
"Benar dong. Kan cuman itu-itu aja toh (menu MBG)," ujarnya.
Pernyataan Megawati ini membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai standar gizi dan cita rasa dalam program MBG. Di lapangan, sejumlah orang tua penerima manfaat memang kerap mengeluhkan menu yang itu-itu saja, meskipun pihak penyelenggara menyebut menu disesuaikan dengan anggaran dan logistik di masing-masing daerah.
Dari sisi kebijakan, usulan untuk memasukkan rendang ke dalam menu MBG tentu menimbulkan pertanyaan tentang biaya produksi dan daya tahan makanan. Rendang, yang dikenal awet dan kaya rempah, sebenarnya memiliki potensi untuk didistribusikan dalam skala besar. Namun, harga bahan bakunya yang relatif lebih tinggi dibandingkan menu standar seperti ayam goreng atau telur, bisa menjadi pertimbangan tersendiri bagi Badan Gizi Nasional.
Meski demikian, apa yang disampaikan Megawati setidaknya menggambarkan adanya perhatian dari tokoh senior bangsa terhadap detail pelaksanaan program prioritas pemerintah. Masukan dari figur sekelas presiden kelima ini tentu tidak bisa diabaikan begitu saja oleh para pelaksana teknis di lapangan.
Artikel Terkait
Dua Pelajar SMP di Tanjungpinang Diciduk Usai Kedapatan Lakukan Perbuatan Asusila di Lingkungan Sekolah
KPK Endus Aliran Dana Iklan Bank BJB ke Ridwan Kamil
Tim Hukum Jokowi Sebut Praperadilan Roy Suryo yang Berulang Perpanjang Proses Hukum
Dokter Tifa Klaim Alami Penganiayaan hingga Upaya Pembunuhan, Janji Buka Suara dalam Konferensi Pers