Keluarga Ungkap Sutrimo Kirim Pesan hingga Dini Hari Sebelum Ditemukan Meninggal di Jaksel

- Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:00 WIB
Keluarga Ungkap Sutrimo Kirim Pesan hingga Dini Hari Sebelum Ditemukan Meninggal di Jaksel

PARADAPOS.COM - Pengacara keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni, mengungkapkan bahwa almarhum masih terlihat ceria dan aktif berkirim pesan hingga beberapa jam sebelum ditemukan meninggal dunia di kawasan Jakarta Selatan pada Kamis, 23 Juli 2026. Berdasarkan rekaman percakapan yang tersimpan di ponsel keluarga, komunikasi terakhir terjadi pada dini hari, sekitar pukul 03.00-04.00 WIB, saat Sutrimo mengirim foto makanan dan gambar dirinya di dekat rumah mantan Jampidsus Kejagung, Febrie Adriansyah. Jenazah Sutrimo ditemukan tak sadarkan diri di depan sebuah klinik dan langsung dimakamkan di kampung halamannya malam itu juga, sebelum pihak keluarga melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Banyumas untuk memastikan penyebab kematiannya.

Peristiwa ini mencuat ke publik setelah keluarga memutuskan untuk mencari kejelasan hukum. Sutrimo dikenal sebagai penjaga rumah Febrie Adriansyah, yang saat ini tengah berhadapan dengan kasus dugaan korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Namun, di balik pemberitaan yang berkembang, keluarga justru menyimpan keganjilan tersendiri dari jejak digital yang ditinggalkan almarhum.

Kronologi Percakapan Terakhir yang Terekam

Menurut Aan Rohaeni, data komunikasi yang berhasil dihimpun dari ponsel keluarga hanya mencakup rentang waktu 19 hingga 23 Juli 2026. Dalam periode tersebut, tidak ada satu pun pesan yang menunjukkan keluhan kesehatan dari Sutrimo, meskipun ia diketahui mengidap diabetes sejak lama.

"Sebelum berangkat (kembali ke Jakarta) ngeluh bengkak kakinya, tapi memang karena gulanya udah lama. Tapi dari tanggal 19 sampai 23 Juli itu tidak pernah ada WhatsApp ngeluh sakit," jelasnya kepada wartawan, Selasa (11/8).

Kejanggalan justru terasa pada jam-jam terakhir sebelum tragedi itu terjadi. Pada pukul 03.00 WIB, Sutrimo masih sempat mengirim foto makanan. Satu jam berselang, ia kembali mengirim gambar dirinya yang sedang duduk di seberang rumah Febrie Adriansyah. Aktivitas digital ini menunjukkan bahwa almarhum masih dalam kondisi sadar dan bergerak normal.

"Sekitar pukul 06.00 WIB adiknya bangun kemudian balas WhatsApp sama ngirim video anaknya. Memang tiap hari itu suka ngirim video ponakannya. Katanya (pesan itu) dibaca tapi tidak dibalas," ungkap Aan.

Keluarga baru menyadari ada yang tidak beres ketika telepon dari nomor Sutrimo masuk berulang kali pada pukul 08.00 WIB. Panggilan tersebut baru diangkat setengah jam kemudian oleh adik iparnya.

"Tahu-tahu pukul 08.00 WIB ada telepon dari nomor HP Sutrimo, berkali-kali, baru diangkat pukul 8.30 WIB. Ternyata itu temannya, mengabarkan Pak Sutrimo sudah tidak ada," tuturnya.

Kesan Bahagia Sebelum Meninggal

Menariknya, Aan menegaskan bahwa selama empat hari terakhir hidupnya, Sutrimo tidak menunjukkan tanda-tanda depresi atau tekanan psikologis. Ia justru terlihat ceria dan menikmati kesehariannya di Jakarta.

"Dari tanggal 19 sampai tanggal 23 itu happy-happy aja. Sempat ngirim foto bahwa dia (Sutrimo) baru dibeliin minyak wangi sama ajudannya Pak Febri, makan di Soto Blok M," ujarnya.

Informasi ini semakin mempertegas misteri di balik kematiannya. Bagaimana mungkin seseorang yang terlihat bahagia dan aktif berkirim pesan bisa ditemukan tak bernyawa hanya dalam hitungan jam?

Setelah ditemukan, jenazah Sutrimo langsung dibawa ke kampung halamannya dan dimakamkan pada malam harinya. Keputusan cepat ini diambil keluarga, namun langkah selanjutnya adalah melaporkan kematian tersebut ke Polresta Banyumas. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan—keluarga ingin memastikan tidak ada kejanggalan yang terlewat dari proses penyelidikan, terutama mengingat latar belakang tempat Sutrimo bekerja terakhir kali.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar