PARADAPOS.COM - Seorang pegawai outsourcing di Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, nekat membakar ruang rapat kantornya hingga menimbulkan kerugian mencapai Rp2 miliar. Peristiwa ini terjadi di Tenggarong pada Selasa pagi, 11 Agustus 2026, sekitar pukul 07.20 WITA. Pelaku berinisial MFA (24) diduga bertindak karena kesal kerap menjadi bahan perundungan rekan kerjanya, yang terakhir kali memuncak sehari sebelum kejadian.
Insiden ini bermula dari hal yang mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang: wajah MFA dijadikan stiker WhatsApp oleh rekan-rekannya. Foto dirinya diambil tanpa izin, lalu disebar dan diedit menjadi bahan guyonan yang beredar dari satu grup ke grup lain. Bagi MFA, ini bukan lagi sekadar candaan. Kekesalan yang terpendam akhirnya meledak, dan ia mengambil langkah yang tak terbayangkan oleh akal sehat.
Dari Bahan Tertawaan Menjadi Panggung Api
Alih-alih menyelesaikan masalah lewat jalur formal seperti melapor ke atasan atau bagian HRD, MFA justru memilih jalan yang jauh lebih ekstrem. Berdasarkan informasi yang beredar, ia diduga membeli 30 hingga 40 liter bahan bakar jenis Pertalite. Volume sebanyak itu biasanya digunakan untuk perjalanan mudik, bukan untuk kepentingan lain yang merusak.
Ruang rapat berukuran sekitar 6x8 meter itu pun berubah menjadi lautan api dalam waktu singkat. Meja, kursi, peralatan kantor, hingga proyektor hangus tak tersisa. Bahkan, slogan-slogan motivasi yang biasa terpajang di dinding kantor seperti "kekeluargaan" dan "soliditas tim" ikut menjadi korban keganasan si jago merah. Kerugian material ditaksir mencapai angka fantastis, Rp2 miliar.
Ketika "Cuma Bercanda" Menjadi Tameng
Fenomena perundungan di tempat kerja memang kerap kali dipandang remeh. Pelaku sering berlindung di balik kalimat sakti "cuma bercanda" atau "itu kan cuma guyonan internal". Padahal, yang dirasakan korban bisa jauh berbeda. Bagi mereka yang tertindas, setiap tawa rekan kerja bisa terasa seperti pisau yang terus menoreh luka.
Polisi yang menangani kasus ini menyampaikan bahwa dugaan perundungan tersebut dilakukan oleh oknum, bukan merupakan budaya institusi. Namun, pernyataan ini tak serta-merta menghapus fakta bahwa korban telah mengalami tekanan psikologis yang berat. Satu orang yang terluka mungkin hanya diam dan tersenyum di grup, tetapi di dalam hatinya, amarah bisa terus menumpuk seperti tekanan di dalam tabung gas.
Pelajaran yang Lebih Panas dari Api
Membakar kantor tentu bukan tindakan yang bisa dibenarkan. Konsekuensi hukumnya jelas, dan masa depan MFA kini dipertaruhkan. Namun, kejadian ini menjadi pengingat keras bahwa bullying bukanlah sekadar hiburan receh. Luka batin yang terus ditertawakan bisa berubah menjadi bom waktu yang suatu saat meledak dengan cara yang tak terduga.
Sebelum membuat stiker wajah teman, menyebarkan meme rekan kerja, atau menjadikan seseorang bahan olok-olok di grup WhatsApp, ada baiknya berpikir ulang. Tidak semua orang tertawa bersama kita. Kadang, di balik senyuman di layar ponsel, ada seseorang yang diam-diam menyimpan bensin dalam hatinya. Ketika kesabaran itu habis terbakar, yang hangus bukan hanya ruang rapat, melainkan juga masa depan semua orang yang terlibat.
(Artikel ini ditulis berdasarkan informasi yang dihimpun dari keterangan kepolisian dan sumber terpercaya di lapangan. Penulis adalah mantan wartawan yang telah lama meliput isu kriminalitas dan sosial di Kalimantan Timur.)
Editor: Yuli Astuti
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Prabowo Usulkan Destry Damayanti sebagai Calon Tunggal Gubernur BI
Polisi Gelar Perkara untuk Tentukan Status Dua Terduga Penista Agama di Balik Tantangan Hafalan Al-Quran Berhadiah Miras
Maman Imanulhaq Minta Kemenag Kaji Ulang Rencana Kelola Dana Wakaf di Pasar Modal
Zulhas Akui Banyak Kecurangan di Program MBG dan Pembangunan 80.000 Kopdes, Pemerintah Janji Perbaiki