Mereka adalah dua orang yang seolah bersumpah darah untuk tetap membela Jokowi, meskipun pasukan sudah bubar dan peluit sudah dibunyikan.
Di medsos dan layar kaca, mereka tampil dengan gaya khas masing-masing: Ngabalin dengan pidato berapi-api yang bisa bikin wajan gosong, dan Irma dengan logika zig-zag yang bikin komentator politik angkat tangan.
Mereka kini dijuluki netizen sebagai “The Last Samurai”, bukan karena jago berpedang, tapi karena mereka bertahan dengan kepercayaan penuh pada seorang kaisar yang bahkan sudah mulai dikritik rakyatnya sendiri.
Dalam satu acara TV, Irma pernah membela Jokowi dengan argumen yang membuat profesor ekonomi harus minum Bodrex tiga biji.
Sementara Ngabalin, dengan suara bariton-nya yang khas, selalu siap menangkis kritik dengan semangat yang membuat kita bertanya: apakah dia benar-benar digaji, atau cuma terlalu cinta?
Namun, seperti dalam film samurai terakhir mana pun, selalu ada babak tragis. Samurai-samurai ini bertarung bukan demi rakyat, tapi demi mempertahankan bayang-bayang kekuasaan yang memudar.
Ketika Jokowi nanti benar-benar turun panggung, siapa yang akan mereka bela? Apakah Ngabalin akan membuka dojo retorika di Senayan?
Apakah Irma akan mengisi podcast bertajuk “Membela yang Tak Lagi Berkuasa”?
Satu hal yang pasti, di negeri ini buzzer datang dan pergi, tapi kenangan akan pertarungan mereka tetap tertulis di jejak digital.
Dan di antara gemuruh kutu loncat yang melompat ke pangkuan penguasa baru, berdirilah dua samurai tua, setia, dan tak tergoyahkan. Entah karena prinsip, atau karena belum ada tawaran lebih menarik. ***
Sumber: FusilatNews
Artikel Terkait
Hary Tanoe dalam Berkas Epstein: Fakta Beli Rumah Trump dan Isu CIA Indonesia
Ressa Rizky Rosano Menikah di Usia 17 Tahun? Fakta & Klarifikasi Denada Terbaru
PPATK Bongkar Ekspor Emas Ilegal Rp155 Triliun, Devisa Negara Bocor
Habib Bahar bin Smith Jadi Tersangka Penganiayaan Banser Tangerang, Ini Pasal dan Jadwal Pemeriksaan