Gaji kecil, pajak besar, harga naik, dan pejabat malah pamer tunjangan sambil joget-joget.
Kalau yang dipanggil hanya elit-elit ormas, jadinya, acara di Hambalang itu kelihatan kayak pertemuan elit dengan elit.
Senyumnya adem, bahasanya halus, kameranya bagus, tapi rakyat tetap kehausan keadilan.
Kalau dipikir, ini sama aja kayak rumah kamu bocor pas hujan deras, tapi tuan rumah malah sibuk panggil ustaz buat doa tolak bala. Doanya penting, iya, tapi yang lebih mendesak: tambal atapnya dulu, Pak!
Menurut saya, yang harusnya diundang bukan para tetua ormas. Saya kasihan sama bapak-bapak itu.
Masalah di negeri ini bukan mereka yang bikin, tapi dikasih tanggungjawab buat menyelesaikan.
Jadi yang lebih logis adalah undang perwakilan demonstran dan politisi yang memang jadi biang masalah.
Livekan di TikToknya Prabowo, biarkan mereka duduk bareng, saling tembak argumen, dan jangan dikasih pulang sebelum ada hasil.
Kalau perlu, pintunya dikunci, AC dimatikan, wifi diputus, biar mereka serius cari solusi. Mau marah-marah? Silakan.
Mau debat teriak-teriak? Boleh. Yang penting, tuntutan rakyat dipenuhi. Itu jauh lebih realistis ketimbang berharap ceramah bisa bikin massa pulang dengan hati damai.
Karena jujur saja, rakyat sudah kenyang sama drama “siraman rohani” ala pemerintah tiap ada krisis.
Rasanya kayak kamu punya bapak doyan judol, ibu kejebak pinjol, tapi bukannya dikasih solusi keuangan, malah disuruh dengerin motivasi dari Timothy Ronald.
Artikel Terkait
SP3 Eggi Sudjana & Damai Hari Lubis: Intervensi Politik atau Restorative Justice?
Ketua RT Tabung Gaji 7 Tahun untuk Ronda Malam Pakai Drone, Kisah Inspiratif
Daftar Lengkap 11 Korban Pesawat ATR 400 Hilang Kontak di Maros: Identitas Kru dan Penumpang
Anggota Brimob Aceh Dipecat Polda Usai Desersi & Gabung Tentara Bayaran Rusia