PARADAPOS.COM - Kepolisian Israel mengerahkan personel dalam jumlah besar di sekitar kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, menyongsong bulan suci Ramadan yang dimulai Selasa, 17 Februari 2026. Pengerahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dan keluhan dari pihak Palestina mengenai pembatasan akses baru ke situs suci tersebut. Otoritas juga dilaporkan membatasi izin masuk bagi warga Palestina dari Tepi Barat, dengan kemungkinan penerapan kriteria usia yang ketat.
Pengerahan Pasukan Skala Besar Menjelang Ramadan
Menjelang Ramadan, suasana di kawasan Kota Tua Yerusalem mulai berubah dengan kehadiran aparat keamanan yang semakin terlihat. Kepolisian Israel secara resmi mengumumkan pengerahan pasukan dalam skala besar untuk berjaga-jaga di sekitar kompleks Masjid Al-Aqsa, yang juga dikenal sebagai Temple Mount. Langkah ini merupakan antisipasi tahunan, mengingat ratusan ribu umat Muslim secara tradisional memadati kompleks tersuci ketiga dalam Islam ini selama bulan puasa.
Pejabat senior kepolisian setempat, Arad Braverman, menjelaskan bahwa pasukan akan disiagakan secara intensif untuk menjaga stabilitas di kawasan yang secara historis sangat rentan tersebut.
"Personel akan dikerahkan siang dan malam di seluruh kompleks dan area sekitarnya," jelas Braverman. Ia menambahkan bahwa ribuan polisi akan bertugas khusus selama ibadah salat Jumat, yang biasanya menarik konsentrasi jamaah terbesar.
Pembatasan Akses dan Persiapan Ramadan
Di balik upaya pengamanan, muncul keluhan dari otoritas Palestina mengenai sejumlah pembatasan. Terkait akses, meski kepolisian disebut merekomendasikan penerbitan 10.000 izin masuk khusus bagi warga Tepi Barat, keputusan akhir kuota dan syaratnya berada di tangan pemerintah Israel. Pemerintah Provinsi Yerusalem (Palestina) memperkirakan pembatasan akan kembali ketat, hanya mengizinkan pria di atas 55 tahun dan wanita di atas 50 tahun, mirip dengan aturan tahun sebelumnya.
Lebih lanjut, muncul laporan bahwa otoritas Israel menghalangi persiapan teknis yang dilakukan oleh Islamic Waqf, lembaga yang dikelola Yordania untuk mengelola situs tersebut.
"Otoritas menghalangi pemasangan struktur peneduh dan pendirian klinik medis sementara," tulis pernyataan resmi Pemerintah Provinsi tersebut. Sumber internal Waqf juga mengonfirmasi bahwa puluhan karyawannya dilarang memasuki kompleks dalam beberapa hari terakhir.
Status Quo yang Terus Diuji
Kompleks Al-Aqsa bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol sentral identitas nasional Palestina dan titik paling sensitif dalam konflik. Status quo yang telah berlangsung lama mengizinkan umat Yahudi berkunjung, tetapi melarang mereka beribadah di lokasi tersebut. Meski pejabat kepolisian menegaskan tidak ada perubahan aturan ini, kekhawatiran di pihak Palestina tetap membara.
Kekhawatiran itu dipicu oleh aksi-aksi provokatif sejumlah tokoh politik dan kelompok ultra-nasionalis Yahudi dalam beberapa tahun terakhir, yang secara terbuka menantang larangan ibadah di sana. Insiden-insiden semacam itu, termasuk kunjungan kontroversial menteri sayap kanan Itamar Ben-Gvir pada 2024 dan 2025, terus mengikis kepercayaan dan memanaskan suhu politik.
Pemerintah Israel menyatakan komitmennya untuk menjaga ketenangan. Namun, kehadiran massif aparat keamanan di lokasi yang sarat emosi ini, ditambah dengan berbagai pembatasan administratif, diperkirakan akan menjadi ujian berat bagi stabilitas sepanjang bulan Ramadan mendatang.
Artikel Terkait
Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026
Kemendiktisaintek Sediakan Rumah Khusus untuk Guru Sekolah Garuda
Mudik Lancar di Gerbang Tol Terbesar Asia Sambut Imlek 2026, Perayaan Merambah Dunia
Banjir Grobogan Rendam 9.736 KK, Tanggul Jebol Perparah Genangan