PARADAPOS.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membongkar dugaan praktik manipulasi dalam ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia. Temuan ini mengemuka setelah pemerintah melakukan audit mendalam terhadap data pengapalan komoditas utama tersebut. Praktik yang dimaksud melibatkan perusahaan perantara di Singapura yang diduga menjadi celah bagi eksportir untuk melakukan under-invoicing dan manipulasi nilai ekspor. Pengungkapan ini disampaikan Purbaya usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto dan jajaran menteri bidang ekonomi di Istana Merdeka, Jakarta, pada Jumat, 22 Mei 2026.
Modus Manipulasi Melalui Perusahaan Perantara
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa modus operandi yang digunakan cukup sistematis. Eksportir mengirimkan produk CPO ke Singapura melalui perusahaan perdagangan yang masih terafiliasi dengan mereka. Dari sana, barang kemudian dijual kembali ke negara tujuan akhir dengan harga yang jauh lebih tinggi.
“Mereka manipulasi, bisa juga transfer pricing dan lain-lain. Tapi manipulasi. Dia kirim Singapura, pakai perusahaan trading, mana perusahaannya dia sendiri. Dari sini ke sana, ke tujuannya dengan harga yang dua kali lipat atau lebih. Ada yang 200 persen, ada yang 4 kali lipat,” ungkap Purbaya di hadapan para wartawan.
Skema ini selama bertahun-tahun luput dari pengawasan. Keterbatasan data kepabeanan yang hanya mencatat tujuan ekspor hingga Singapura menjadi kendala utama. Pergerakan barang menuju pembeli akhir tidak dapat dipantau secara utuh, sehingga celah manipulasi nilai transaksi pun terbuka lebar.
Peran Teknologi dalam Mengungkap Praktik Curang
Namun, situasi berubah drastis setelah pemerintah memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan mengakses basis data perdagangan yang lebih komprehensif. Analisis dilakukan dengan menelusuri transaksi per kapal pada tiga jalur pengapalan utama yang mewakili masing-masing 10 eksportir terbesar.
“Akhirannya kita terapkan AI, kemudian kita beli data juga yang lebih lengkap, sehingga di sini ketahuan impornya seperti apa. Jadi bukan data besar dari UN database itu, tapi udah betul kapal per kapal. Jadi confirm, dari data yang kita periksa memang mereka melakukan itu. Dan kalau dibetulin ya bagus buat Indonesia,” jelasnya.
Pendekatan berbasis data ini memungkinkan pemerintah untuk melacak aliran barang secara lebih akurat. Dengan data per kapal, pola manipulasi yang sebelumnya tersembunyi kini dapat terlihat jelas. Temuan ini menjadi pukulan telak bagi praktik yang selama ini merugikan negara.
Purbaya menegaskan bahwa jika praktik ini dibenahi, dampaknya akan sangat positif bagi perekonomian Indonesia. Potensi penerimaan negara dari sektor ekspor CPO yang selama ini bocor bisa kembali dimaksimalkan. Langkah tegas pemerintah dalam mengungkap kasus ini diharapkan menjadi titik awal perbaikan tata kelola ekspor komoditas strategis.
Artikel Terkait
Eko Lemu: Jokowi Hidangkan Bebek dan Soto agar Prabowo “Manut”
Koalisi Sipil Nilai Pola Represif Era Orde Baru Kembali Terjadi di Tengah Reformasi 28 Tahun
Menhan Pigai Bantah Prabowo Perintahkan TNI-Polri Aktif Isi Jabatan Sipil
Amien Rais Sebut Polri Warisan Terberat Jokowi untuk Prabowo, Soroti Degradasi Fungsi dan Kasus Sambo