Kenaikan Biaya Layanan Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop Dorong Pelaku Usaha Bangun Kanal Penjualan Mandiri

- Jumat, 22 Mei 2026 | 10:00 WIB
Kenaikan Biaya Layanan Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop Dorong Pelaku Usaha Bangun Kanal Penjualan Mandiri
PARADAPOS.COM - Memasuki Mei 2026, hampir seluruh platform e-commerce besar di Indonesia serempak menaikkan biaya layanan. Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop kompak mengubah skema biaya mereka, mulai dari tarif program ongkos kirim gratis, biaya logistik per pesanan, hingga batas maksimum komisi. Bagi pelaku usaha yang selama ini mengandalkan marketplace sebagai satu-satunya kanal penjualan, perubahan ini bukan sekadar penyesuaian teknis biasa. Angka-angka baru ini langsung menyentuh laporan laba rugi, mendorong banyak pelaku usaha untuk mengevaluasi kembali strategi penjualan mereka. Marketplace tetap menjadi kanal penting, tetapi tidak lagi bisa dijadikan satu-satunya sumber pendapatan.

Beban Biaya Berlapis di Tiga Platform Utama

Masalahnya bukan hanya soal besaran komisi. Total potongan efektif di Shopee kini bisa mencapai 10 hingga 18 persen dari harga jual. Angka tersebut mencakup biaya admin, program ongkos kirim gratis, dan biaya pemrosesan Rp1.250 per transaksi yang sudah berlaku sejak Juli 2025. Di Tokopedia, potongannya berkisar antara 5 hingga 15,8 persen per transaksi. Sementara itu, TikTok Shop, ketika fitur afiliasi diaktifkan secara agresif, bisa menyentuh angka 20 hingga 35 persen dari harga jual. Di luar potongan langsung itu, ada beban lain yang tidak kasatmata. Mulai 7 Mei 2026, Shopee mengubah sistem atribusi iklan GMV Max. Kini, transaksi tetap diklaim sebagai hasil iklan meskipun pembeli hanya melihat tanpa mengklik dan membeli dalam satu hari. Akibatnya, biaya iklan efektif seller bisa membengkak tanpa ada perubahan pada anggaran iklan itu sendiri. Bagi seller dengan margin tipis, efek berlapis ini langsung menggerus profitabilitas, bahkan ketika volume penjualan tetap stabil.

Risiko Struktural Ketika Bergantung pada Satu Kanal

Saat berjualan di marketplace, ada persoalan struktural yang lebih dalam. Data pembeli sepenuhnya berada di tangan platform: email, nomor HP, preferensi belanja, hingga riwayat transaksi. Brand tidak bisa mengambil data itu untuk retargeting, newsletter, atau program loyalitas. Setiap pelanggan baru, secara efektif, adalah milik marketplace, bukan milik brand. Faris M. Hanif, VP of Managed Services Everpro, menilai momentum kenaikan biaya ini menjadi sinyal untuk mengevaluasi ulang komposisi kanal penjualan. "Marketplace masih menawarkan jangkauan besar, ekosistem yang sudah terbentuk, dan pembeli yang siap bertransaksi. Pertanyaannya bukan apakah Anda harus hadir di marketplace, melainkan apakah marketplace adalah satu-satunya kanal Anda? Ketika satu kanal mendominasi seluruh pendapatan, setiap perubahan kebijakan langsung berdampak ke seluruh bisnis sekaligus," jelasnya dalam keterangan resmi, Jumat (22/5). Poin ini tepat sasaran. Seller yang seluruh pendapatannya bertumpu pada satu platform tidak hanya rentan terhadap kenaikan biaya, tetapi juga rentan terhadap perubahan algoritma, kebijakan promosi, dan aturan atribusi iklan yang bisa berubah sewaktu-waktu. Ditambah lagi, transparansi harga di marketplace yang memudahkan konsumen membandingkan produk justru mendorong perang harga tanpa akhir. Seller bermodal besar bisa menurunkan harga hingga di bawah harga pokok dan tetap untung lewat volume.

Brand Lokal Mulai Melirik Kanal Direct-to-Consumer (D2C)

Salah satu strategi yang mulai dilirik brand lokal adalah membangun kanal Direct-to-Consumer (D2C). Melalui pendekatan ini, brand dapat menjual produk secara langsung kepada pelanggan tanpa sepenuhnya bergantung pada marketplace. D2C bukan berarti seller harus meninggalkan marketplace. Sebaliknya, marketplace tetap bisa digunakan sebagai kanal awareness dan transaksi. Namun, brand juga perlu membangun kanal tambahan yang dapat mereka kendalikan sendiri. Kanal tersebut bisa berupa website, landing page, WhatsApp Business, sistem pembayaran, pengiriman, hingga database pelanggan. Dengan kanal penjualan mandiri, brand memiliki ruang lebih besar untuk mengatur pengalaman pelanggan, mulai dari cara calon pembeli melihat penawaran, berinteraksi dengan customer service, melakukan pemesanan, hingga menerima produk.

Membangun Ekosistem Penjualan Mandiri

Salah satu tantangan utama saat brand mulai membangun kanal mandiri adalah kesiapan infrastruktur. Banyak seller sudah terbiasa dengan sistem marketplace yang menyediakan hampir semua kebutuhan transaksi dalam satu tempat. Karena itu, jualan mandiri tidak cukup hanya membuat website atau membuka nomor WhatsApp. Seller perlu membangun ekosistem yang menghubungkan seluruh perjalanan pelanggan, mulai dari traffic, halaman penawaran, chat, order, pengiriman, hingga repeat order. Faris M. Hanif menggambarkan pendekatan ini seperti Lego: modular dan bisa ditambahkan bertahap sesuai kebutuhan bisnis. Komponen pertama adalah traffic. Saat tidak lagi sepenuhnya mengandalkan traffic marketplace, seller perlu mendatangkan calon pembeli dari kanal lain seperti iklan digital atau media sosial. Komponen kedua adalah halaman konversi. Traffic dari iklan perlu diarahkan ke landing page yang ringan, jelas, dan fokus pada penawaran. Komponen ketiga adalah chat commerce. Karena banyak transaksi di luar marketplace terjadi melalui WhatsApp, seller membutuhkan sistem yang mampu mengelola percakapan dengan lebih rapi. Komponen keempat adalah pengiriman dan COD. Kepercayaan pembeli menjadi salah satu tantangan utama saat transaksi dilakukan di luar marketplace. Komponen kelima adalah pengelolaan pelanggan. Setelah pembeli berhasil melakukan transaksi, seller perlu menyimpan dan mengelola data pelanggan untuk follow-up, promosi, dan repeat order. Dengan ekosistem seperti ini, seller tidak hanya membuat kanal penjualan baru, tetapi juga membangun sistem bisnis yang lebih terukur.

Diversifikasi Kanal sebagai Strategi Bertahan

Dalam lanskap e-commerce yang semakin kompetitif, seller tidak bisa hanya mengandalkan satu kanal penjualan. Marketplace tetap relevan, tetapi brand perlu memiliki strategi diversifikasi agar bisnis lebih tahan terhadap perubahan biaya dan kebijakan platform. Dengan memiliki kanal mandiri, seller dapat membangun aset yang lebih berkelanjutan. Mereka tidak hanya mengejar transaksi, tetapi juga mengumpulkan data pelanggan, memperkuat hubungan dengan pembeli, dan mengelola margin dengan lebih fleksibel. Pada akhirnya, strategi terbaik bukan memilih antara marketplace atau kanal mandiri. Keduanya dapat berjalan berdampingan. Marketplace dapat digunakan untuk menjangkau pasar yang lebih luas, sementara kanal penjualan mandiri dapat digunakan untuk membangun hubungan langsung dengan pelanggan dan menjaga profitabilitas bisnis dalam jangka panjang. Bagi brand lokal dan UMKM, momentum kenaikan biaya marketplace ini dapat menjadi pengingat bahwa bisnis online yang sehat tidak hanya ditentukan oleh jumlah order, tetapi juga oleh seberapa besar kendali yang dimiliki atas kanal penjualan, data pelanggan, dan margin keuntungan.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar