PARADAPOS.COM - Seorang pejabat keamanan senior Iran memperingatkan bahwa negaranya siap untuk membalas dan mengaktifkan pertahanan skala penuh, menyusul serangkaian pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang baru saja dicapai. Peringatan keras ini disampaikan setelah pasukan Israel dilaporkan melancarkan serangan udara besar-besaran di Lebanon, yang menewaskan ratusan warga sipil hanya beberapa jam setelah gencatan senjata diumumkan. Situasi ini mengancam kembali memicu ketegangan di kawasan yang sudah memanas.
Peringatan dari Pejabat Senior Iran
Dalam wawancara eksklusif dengan jaringan Press TV pada Rabu, pejabat tinggi itu menyatakan keprihatinan mendalam atas tindakan Israel. Menurutnya, dunia internasional menyaksikan langsung bagaimana gencatan senjata yang rapuh itu digoyang hanya dalam hitungan jam setelah disepakati. Pejabat tersebut menegaskan bahwa pelanggaran ini justru meningkatkan beban politik dan militer bagi Amerika Serikat, yang menjadi pihak mediator.
Pejabat itu juga menyerukan intervensi segera dari negara-negara penengah. Ia menegaskan, momentum untuk mencegah eskalasi lebih luas semakin sempit.
"Sudah saatnya untuk menempatkan rezim agresor ini pada tempatnya," tegasnya.
Peringatan lebih lanjut disampaikan bahwa tanggung jawab penuh atas runtuhnya gencatan senjata akan berada di pundak Israel. Pejabat Iran itu bersumpah bahwa Tehran tidak akan tinggal diam dan siap memberikan hukuman yang setimpal kepada pihak yang dianggap sebagai agresor.
Gencatan Senjata yang Terancam Runtuh
Laporan dari Press TV pada Kamis, 9 April 2026, menggarisbawahi betapa rentannya situasi ini. Pejabat tersebut mengindikasikan bahwa masa pelonggaran, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz yang dilakukan secara terkendali, akan segera berakhir jika pelanggaran terus berlanjut. Ini merupakan sinyal jelas bahwa konsekuensi ekonomi dan keamanan dari konflik bisa segera meluas.
Sebelumnya, Iran telah menyatakan mencapai "kemenangan bersejarah" setelah 40 hari konflik, dengan Amerika Serikat disebut menerima proposal perdamaian sepuluh poin dari Tehran. Salah satu poin kunci proposal itu adalah penghentian permusuhan di semua front, termasuk di Lebanon. Namun, realitas di lapangan berbicara lain. Serangan udara masif Israel yang menewaskan setidaknya 245 orang menurut media lokal, menggambarkan jurang yang dalam antara kesepakatan di atas kertas dan situasi medan pertempuran.
Kritik dari Ketua Parlemen Iran
Kekecewaan dan ketidakpercayaan Iran juga diungkapkan oleh pimpinan legislatifnya. Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Baqer Qalibaf, menyatakan bahwa pembicaraan bilateral dengan AS menjadi tidak masuk akal setelah pelanggaran terjadi. Pernyataan ini disampaikannya sebagai respons langsung atas serangan mematikan di Lebanon tersebut.
Qalibaf menilai pola pelanggaran komitmen oleh Washington adalah hal yang berulang dan menjadi akar ketidakpercayaan Tehran. Ia menyoroti bahwa pelanggaran telah terjadi bahkan sebelum proses negosiasi benar-benar dimulai, merujuk pada tiga insiden terpisah tak lama setelah pengumuman gencatan senjata.
"Ketidakpercayaan Republik Islam terhadap Amerika Serikat yang telah berlangsung lama berakar pada pelanggaran berulang Washington terhadap semua bentuk komitmen," ujarnya.
Pernyataan-pernyataan dari pejabat tinggi Iran ini mencerminkan suasana tegang di ibu kota Tehran. Mereka tidak hanya menyoroti kerapuhan kesepakatan damai, tetapi juga menegaskan kesiapan militer dan politik Iran untuk menghadapi skenario terburuk, sambil mendesak komunitas internasional untuk mengambil peran lebih aktif sebelum konflik semakin tak terkendali.
Artikel Terkait
Trump Usulkan Kerja Sama Pengelolaan Tol di Selat Hormuz dalam Perundingan dengan Iran
Harga Minyak Anjlok 15% Usai Gencatan Senjata AS-Iran, Emas Domestik Melonjak
AS dan Iran Akan Bahas Wacana Tol Bersama di Selat Hormuz
Layanan SIM Keliling Jakarta Kembali Beroperasi, Ini Jadwal dan Persyaratannya