PM Spanyol Kecam Netanyahu, Desak UE Tangguhkan Perjanjian Asosiasi dengan Israel

- Rabu, 08 April 2026 | 23:50 WIB
PM Spanyol Kecam Netanyahu, Desak UE Tangguhkan Perjanjian Asosiasi dengan Israel

PARADAPOS.COM - Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez secara terbuka mengecam Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas serangan mematikan di Lebanon. Dalam pernyataan keras yang disampaikan melalui platform media sosial, Sanchez menyebut serangan terbaru yang menewaskan ratusan warga sipil itu sebagai penghinaan terhadap hukum internasional. Kritik ini menandai eskalasi ketegangan diplomatik Eropa terhadap Israel, di tengah upaya internasional untuk menghentikan pertumpahan darah.

Kecaman Keras Sanchez Atas Serangan di Lebanon

Gelombang serangan udara Israel di Lebanon, yang dilaporkan telah merenggut lebih dari 200 nyawa dan melukai ribuan lainnya, memicu reaksi keras dari pemimpin Spanyol. Pedro Sanchez secara spesifik menyoroti intensitas serangan yang terjadi pada Kamis, 9 April 2026, yang ia sebut sebagai yang terkeras sejak konflik dimulai. Dalam nada yang tak biasa bagi seorang kepala pemerintahan, Sanchez menggunakan platform digital untuk menyuarakan protes resmi pemerintahannya.

“Baru hari ini, Netanyahu melancarkan serangan terkerasnya terhadap Lebanon sejak serangan dimulai,” tulis PM Sanchez di X, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Ia melanjutkan dengan nada yang lebih tegas, “Penghinaannya terhadap kehidupan dan hukum internasional tidak dapat ditolerani.”

Tuntutan Langsung untuk Gencatan Senjata dan Sanksi

Lebih dari sekadar kecaman, Sanchez mengajukan serangkaian tuntutan konkret kepada komunitas global. Inti dari permintaannya adalah perlunya memperluas kesepakatan gencatan senjata yang ada untuk juga mencakup wilayah Lebanon, sebuah langkah yang dianggap penting untuk mencegah konflik regional yang lebih luas.

“Sudah saatnya untuk berbicara terus terang: Lebanon harus dimasukkan dalam gencatan senjata,” tegas PM Sanchez.

Ia kemudian mendesak tindakan lebih lanjut yang berpotensi memiliki dampak ekonomi signifikan bagi Israel. “Masyarakat internasional harus mengutuk pelanggaran hukum internasional yang baru ini. Uni Eropa harus menangguhkan Perjanjian Asosiasi dengan Israel. Dan tidak boleh ada impunitas untuk tindakan kriminal ini,” tambahnya.

Perjanjian Asosiasi yang disebutkan Sanchez, yang ditandatangani pada Juni 2000, merupakan fondasi utama hubungan ekonomi dan politik antara Uni Eropa dan Israel. Penangguhan perjanjian itu, jika dilakukan, akan menjadi langkah diplomatik dan ekonomi yang sangat serius, mengganggu kerangka kerja sama yang telah berjalan selama lebih dari dua dekade.

Dukungan Prancis dan Kompleksitas Jalan Menuju Perdamaian

Posisi Spanyol ini menemukan resonansi dari sekutu Eropa terdekatnya. Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyuarakan dukungan untuk memasukkan Lebanon dalam gencatan senjata, menyebutnya sebagai keputusan "terbaik yang mungkin" dan jalan penting menuju perdamaian yang berkelanjutan.

“Ini adalah syarat yang diperlukan agar gencatan senjata dapat dipercaya dan langgeng,” kata Macron, menekankan pentingnya kepatuhan semua pihak di setiap front konflik.

Namun, Macron juga memasukkan dimensi geopolitik yang lebih luas ke dalam persamaan perdamaian. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa setiap kesepakatan akhir juga harus secara komprehensif membahas isu-isu keamanan regional yang terkait dengan Iran, termasuk program nuklir dan aktivitasnya di jalur pelayaran vital.

“Beginilah cara perdamaian yang kuat dan langgeng dapat dibangun,” ungkapnya, seraya mengingatkan bahwa pendekatan militer, seperti usulan operasi di Selat Hormuz yang pernah ia sebut "tidak realistis", bukanlah solusi.

Dukungan dari dua kekuatan utama Uni Eropa ini memperlihatkan kekhawatiran yang berkembang di benua itu mengenai potensi meluasnya konflik. Seruan bersama Sanchez dan Macron mencerminkan pendekatan diplomatik Eropa yang berusaha menyeimbangkan tekanan terhadap Israel dengan pengakuan atas kompleksitas ancaman keamanan di kawasan tersebut, sambil terus mendorong dihentikannya kekerasan terhadap warga sipil.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar