Menteri Airlangga: Fundamental Ekonomi Indonesia Kuat Hadapi Gejolak Global

- Selasa, 14 April 2026 | 03:25 WIB
Menteri Airlangga: Fundamental Ekonomi Indonesia Kuat Hadapi Gejolak Global

PARADAPOS.COM - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan ketahanan ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah ketegangan geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah briefing media internasional di Jakarta pada Senin (13/4/2026). Airlangga menegaskan situasi fundamental ekonomi saat ini jauh berbeda dan lebih kuat dibandingkan dengan masa krisis moneter 1998, didukung oleh pertumbuhan yang solid, defisit fiskal yang terkendali, serta ketahanan pangan dan energi.

Pertumbuhan Ekonomi yang Solid di Tengah Gejolak Global

Dalam paparannya, Airlangga Hartarto memaparkan sejumlah indikator makro yang menjadi fondasi optimisme pemerintah. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 tercatat sebesar 5,11% (year-on-year), sebuah angka yang menempatkan Indonesia di posisi tertinggi kedua di antara negara-negara G20, hanya di bawah India. Proyeksi untuk tahun 2026 bahkan lebih optimis, dengan perkiraan pertumbuhan melampaui 5,3%.

Keyakinan ini didasari oleh capaian kuat di kuartal pertama tahun 2026, yang diperkirakan mampu mencatatkan pertumbuhan hingga 5,5%. Angka ini jauh melampaui proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang diprediksi lembaga seperti IMF dan Bank Dunia berada di kisaran 2,6% hingga 3,3%.

"Jauh berbeda dengan situasi tahun 1998. Dari segi ekonomi makro, saya katakan pertumbuhan PDB adalah 5,11%, dan proyeksi tahun ini di atas 5,3%. Kuartal pertama tahun ini, kami optimis pertumbuhan Indonesia di kuartal pertama sekitar 5,5%," jelasnya dalam siaran pers yang diterbitkan Selasa (14/4/2026).

Fundamental yang Kuat: Dari Fiskal Hingga Ketahanan Pangan

Di balik angka pertumbuhan, pemerintah menekankan pengelolaan fiskal yang prudent. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berhasil ditahan di angka 2,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih rendah dibandingkan banyak negara maju lainnya dalam kelompok G20. Hingga akhir Maret 2026, penerimaan pajak yang tumbuh 14,3% (yoy) menjadi salah satu pendorong utama terkendalinya defisit, yang pada kuartal I/2026 tercatat sebesar 0,93% terhadap PDB.

Ketahanan ekonomi domestik, yang menyumbang lebih dari separuh PDB, juga menjadi buffer utama. Dari sisi pangan, Indonesia telah mencapai swasembada beras sejak 2025 dengan produksi mencapai 34,7 juta ton dan stok Bulog pada level tertinggi dalam sejarah. Sementara di sektor energi, langkah strategis seperti pengembangan B50 dan energi terbarukan terus digenjot.

Risiko Eksternal Terkelola dengan Baik

Kerentanan terhadap gejolak pasar keuangan global juga dinilai dapat dikelola. Kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) yang hanya sekitar 12% mengurangi dampak potensial dari arus modal keluar yang volatil. Rasio utang pemerintah terhadap PDB berada di level 40,46%, dengan komposisi dominan berasal dari pembiayaan dalam negeri.

"Jika Anda melihat detail utang kami, sebagian besar berasal dari dalam negeri. Jadi, risiko guncangan eksternal terkendali," tegas Airlangga.

Posisi cadangan devisa yang sehat, senilai US$148,2 miliar atau setara dengan kebutuhan impor enam bulan, menjadi bantalan tambahan yang memperkuat daya tahan eksternal perekonomian.

Dampak pada Kesejahteraan dan Stabilitas Sosial

Stabilitas makroekonomi yang terjaga berimplikasi langsung pada perbaikan indikator kesejahteraan. Tingkat kemiskinan berhasil ditekan hingga ke level 8,25%, menembus batas di bawah 10%. Ketimpangan yang diukur dengan rasio Gini juga menunjukkan tren perbaikan menjadi 0,363. Di sisi ketenagakerjaan, tingkat pengangguran terbuka berhasil dikelola pada level 4,7%, mencerminkan serapan tenaga kerja yang tetap berjalan di tengah tantangan global.

Dengan rangkaian data dan argumen tersebut, pemerintah menyimpulkan bahwa fondasi ekonomi Indonesia cukup tangguh untuk menghadapi ketidakpastian yang masih membayangi perekonomian dunia, meski tetap diperlukan kewaspadaan dan langkah antisipatif ke depan.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar