PARADAPOS.COM - Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya pada Kamis sore, 30 April 2026. Tepat pukul 15.47 WIB, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini meletus dan memuntahkan kolom abu vulkanis setinggi kurang lebih 500 meter dari puncak. Letusan ini terekam jelas oleh seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 21 milimeter dan durasi 114 detik, menandakan energi yang cukup signifikan. Abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal teramati bergerak perlahan menuju arah barat daya, mengancam wilayah-wilayah yang berada di jalur tersebut.
Kolom Abu Terpantau dan Rekomendasi PVMBG
Petugas pengamatan gunung api di lapangan, Sigit Rian Alfian, menjadi saksi langsung atas kejadian ini. Dari pos pengamatan, ia melaporkan secara detail karakteristik erupsi yang terjadi.
"Terjadi erupsi Gunung Semeru pada hari Kamis, 30 April 2026, pukul 15:47 WIB tinggi kolom abu teramati ± 500 meter di atas puncak," tulisnya dalam laporan resmi yang dirilis pada hari yang sama.
Menyikapi peningkatan aktivitas ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) langsung mengeluarkan imbauan tegas. Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara, tepatnya di sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak. Radius bahaya juga diperluas hingga 5 kilometer dari kawah utama. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan untuk mengantisipasi potensi lontaran batu pijar yang bisa membahayakan keselamatan jiwa.
Potensi Bahaya Lanjutan di Aliran Sungai
Tidak hanya abu dan lontaran material pijar, PVMBG juga mengingatkan adanya potensi bahaya sekunder yang tidak kalah mengancam. Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap kemungkinan terjadinya awan panas guguran, guguran lava, serta aliran lahar. Ancaman ini terutama akan mengalir melalui sungai-sungai yang berhulu langsung di puncak Semeru.
Beberapa aliran sungai yang perlu mendapat kewaspadaan ekstra antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Tidak hanya itu, anak-anak sungai yang masih terhubung dengan aliran utama tersebut juga berpotensi menjadi jalur lahar dingin, terutama jika turun hujan deras di area puncak. Bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan, terutama di wilayah barat daya, penggunaan masker sangat disarankan untuk mengantisipasi gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanis.
Editor: Paradapos.com
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Lakukan Reshuffle Kelima, Aktivis Buruh hingga Eks KSAD Masuk Kabinet
KJRI Kuching Pulihkan Hak Gaji Dua PMI Asal Indonesia Total Rp170 Juta
Jakpro Mulai Uji Coba LRT Jakarta Fase 1B di Jalur Velodrome-Pasar Pramuka
Ubaya Sapu Bersih Gelar Juara Putra dan Putri Campus League Basketball 2026 Regional Surabaya