Ancaman Deepfake Mengintai Sektor Keuangan Digital, Kerugian Masyarakat Tembus Rp6 Triliun

- Minggu, 17 Mei 2026 | 05:00 WIB
Ancaman Deepfake Mengintai Sektor Keuangan Digital, Kerugian Masyarakat Tembus Rp6 Triliun
PARADAPOS.COM - Ancaman deepfake berbasis kecerdasan buatan (AI) kini menjadi momok nyata bagi sektor keuangan digital di Indonesia. Dalam sebuah forum yang digelar bersama Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) di Jakarta, Advance.AI mengungkapkan bahwa teknologi manipulasi identitas ini tidak lagi sekadar teori, melainkan sudah aktif digunakan dalam berbagai modus penipuan. Sepanjang akhir 2024 hingga 2025, Indonesia mencatat sekitar 274 ribu laporan penipuan keuangan dengan total kerugian masyarakat lebih dari Rp6 triliun, dan sebagian besar kasus disebut berkaitan dengan serangan deepfake yang menyasar sistem verifikasi identitas digital.

Modus Baru di Balik Lonjakan Onboarding Digital

Peningkatan layanan onboarding digital di industri keuangan disebut-sebut menjadi celah baru yang mulai dieksploitasi secara sistematis. Advance.AI menjelaskan bahwa deepfake memungkinkan pelaku menciptakan audio, video, atau gambar sintetis berbasis AI yang mampu meniru identitas seseorang dengan sangat meyakinkan. Proses yang awalnya dirancang untuk memperluas inklusi keuangan melalui remote onboarding ini justru membuka permukaan serangan baru. Masalahnya, banyak sistem keamanan berbasis aturan konvensional dinilai belum siap menghadapi ancaman deepfake modern yang terus berevolusi. Akibatnya, sektor pembiayaan, fintech, hingga platform pembayaran digital kini menghadapi risiko fraud yang semakin kompleks dan sulit dikenali.

Pola Serangan Global Mulai Terlihat di Indonesia

Government Relations Director Advance.AI Indonesia, Entin Rostini, menuturkan bahwa pola serangan deepfake di Indonesia saat ini mulai mengikuti tren global. “Advance.AI telah berada di garis depan dalam menghadapi tantangan deepfake di Asia Tenggara selama beberapa tahun terakhir, dan apa yang kami lihat di Indonesia sejalan dengan pola global, di mana pelaku penipuan bergerak dan beradaptasi lebih cepat dari perkiraan banyak institusi,” ujar Entin Rostini. Dalam forum yang sama, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut angkat bicara. Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perbankan OJK, Indah Iramadhini, menegaskan bahwa verifikasi liveness dan deteksi anomali real-time kini tidak lagi bisa dianggap sebagai fitur tambahan. “OJK sangat memahami bahwa infrastruktur digital yang selama ini mendorong kemajuan signifikan inklusi keuangan di Indonesia kini menjadi sasaran penipuan berbasis AI yang semakin canggih,” ungkap Indah Iramadhini. Ia menambahkan bahwa OJK kini mengharapkan lembaga jasa keuangan menerapkan autentikasi berlapis, verifikasi liveness yang kuat, serta deteksi anomali secara real-time sebagai kebutuhan operasional utama. Regulator juga tengah menyiapkan panduan tata kelola AI yang lebih konkret, dengan fokus menjaga keseimbangan antara inovasi dan perlindungan konsumen. Ancaman deepfake menjadi salah satu prioritas utama dalam pengembangan regulasi tersebut.

Teknologi Pencegahan Deepfake Disebut Sudah Siap

Meski ancaman semakin nyata, Advance.AI memaparkan bahwa solusi sebenarnya sudah tersedia. Dalam forum tersebut, mereka memperlihatkan tren penipuan deepfake terbaru di Asia Tenggara sekaligus solusi verifikasi identitas berbasis AI yang telah digunakan di berbagai pasar regional. “Kabar baiknya, teknologi untuk mendeteksi dan mencegah serangan deepfake sudah tersedia dan telah matang. Tantangannya adalah bagaimana menerapkannya dalam skala besar serta mengintegrasikannya ke seluruh proses onboarding dan pemantauan transaksi,” kata Entin Rostini. Advance.AI menilai implementasi teknologi verifikasi identitas, autentikasi berlapis, hingga deteksi anomali real-time kini menjadi kebutuhan penting di industri jasa keuangan digital. Namun, teknologi saja tidak cukup.

Koordinasi Lintas Ekosistem Jadi Kunci

Advance.AI dan AFTECH sepakat bahwa penanganan ancaman AI generatif membutuhkan koordinasi lintas ekosistem. Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, menekankan bahwa setiap institusi memiliki tingkat kesiapan teknologi dan profil risiko yang berbeda. “Kami meyakini bahwa kolaborasi sinergis antara asosiasi, regulator, penyedia solusi teknologi, dan seluruh pemangku kepentingan industri menjadi faktor kunci dalam membangun ekosistem ekonomi digital yang inovatif namun tetap tangguh terhadap ancaman siber,” ujar Firlie. Forum tersebut juga membahas empat pendekatan utama menghadapi ancaman deepfake: penguatan regulasi, implementasi teknologi deteksi, koordinasi lintas ekosistem, hingga studi kasus pencegahan fraud di industri perbankan. Semua ini menjadi catatan penting bagi industri keuangan digital di Indonesia yang tengah berada di persimpangan antara inovasi dan keamanan.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar