PARADAPOS.COM - Piala Dunia 2026 tidak hanya menyajikan pertandingan sengit, tetapi juga melahirkan inspirasi dari para pemain muda yang menunjukkan performa matang di usia belia. Lamine Yamal (Spanyol), Ayyoub Bouaddi (Maroko), dan Lucas Herrington (Australia) adalah tiga wonderkid berusia 18 tahun yang menjadi sorotan. Yamal mencatatkan namanya dalam delapan besar pencetak gol termuda sepanjang sejarah Piala Dunia setelah golnya ke gawang Arab Saudi. Bouaddi menjadi tulang punggung lini tengah Maroko yang sukses mengandaskan Belanda di babak 16 besar. Sementara Herrington, bek tengah Australia, memikul tanggung jawab besar di jantung pertahanan. Mereka membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk bersinar di panggung terbesar sepak bola dunia.
Proses Panjang di Balik Kilau Lapangan Hijau
Nama Lamine Yamal mungkin sudah tidak asing lagi. Pemain muda Spanyol ini mencetak gol pada usia 18 tahun 343 hari, sebuah pencapaian yang mengukuhkannya sebagai salah satu talenta terbaik generasinya. Namun, di balik gol indah itu, ada rentetan proses yang tak kasat mata. "Ada latihan yang berulang setiap hari. Ada seleksi yang ketat. Ada persaingan yang tak mengenal belas kasihan," tulis artikel tersebut. Kegagalan, cedera, dan tekanan untuk terus membuktikan diri adalah bagian dari perjalanan mereka.
Hal serupa dialami Ayyoub Bouaddi. Di usianya yang masih 18 tahun, ia tampil tenang dan matang di tengah kerasnya persaingan level tertinggi. "Kepercayaan yang mereka dapatkan ialah hasil dari proses yang berhasil mereka menangi," demikian ditegaskan dalam artikel. Publik mungkin hanya melihat umpan cantik atau tekel bersih di lapangan, tetapi semua itu adalah buah dari tahun-tahun panjang yang mendahului penampilan cemerlang mereka hari ini.
Meritokrasi di Lapangan vs Koneksi di Ruang Kekuasaan
Inspirasi dari para pemain muda ini tidak hanya berhenti pada sepak bola. Mereka mengingatkan kita pada pentingnya meritokrasi. Di lapangan hijau, seorang pemain muda mendapatkan tempat karena ia berhasil meyakinkan pelatih bahwa ia layak bermain. Proses seleksi yang ketat dan kompetitif menjadi fondasi utama. "Karena itu, ketika seorang pemain berusia 17 atau 18 tahun diberi kepercayaan tampil di turnamen terbesar dunia, itu bukan hadiah," tulis artikel tersebut.
Sayangnya, keyakinan semacam itu tidak selalu mudah ditemukan di tempat lain. Dalam beberapa waktu terakhir, publik Tanah Air ramai memperbincangkan penunjukan sejumlah anak muda sebagai komisaris BUMN. Perdebatan pun muncul. Sebagian menyambutnya sebagai tanda regenerasi, sebagian lain mempertanyakannya. Keberatan publik sesungguhnya bukan terletak pada usia mereka, melainkan pada proses yang mendasarinya. "Apakah prosesnya dapat dipercaya? Kompetensi apa yang membuat mereka dianggap pantas menduduki posisi itu?" tanya artikel tersebut.
Sistem yang Adil: Kunci bagi Talenta Muda
Perbedaan antara dua panggung itu menjadi terasa. Di lapangan sepak bola, pemain muda memperoleh tempat karena proses yang teruji. Di ruang kekuasaan, kesan yang muncul justru sering berkebalikan. Seseorang lebih dulu diberi tempat, lalu publik diminta percaya bahwa ia layak berada di sana. "Indonesia sejujurnya tidak kekurangan anak muda berbakat," tulis artikel tersebut. Kita punya banyak Yamal, Bouaddi, atau Herrington dalam bidang yang berbeda-beda.
Yang belum selesai kita bangun ialah sistem yang membuat mereka bisa naik ke panggung besar melalui jalan yang benar. Anak-anak muda itu tidak meminta jalan pintas. Mereka hanya meminta satu hal, yakni kesempatan yang datang melalui mekanisme yang adil, melalui proses yang teruji dan bisa dipercaya. Bukan melalui jalur khusus yang lebih mementingkan relasi ketimbang kompetensi.
Editor: Paradapos.com
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Ahli Forensik Rismon Diliputi Ketakutan Jelang Vonis Kasus Pencemaran Nama Baik Roy Suryo dan Dokter Tifa
Tarif Listrik dan Gas Kota Singapura Naik per Kuartal III 2026, Dipicu Lonjakan Harga Gas Akibat Konflik Timur Tengah
Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara, Satu Hakim Berpendapat Berbeda
Plh Wakil Jaksa Agung Soroti Restitusi Korban Kekerasan Seksual yang Belum Maksimal