Simbol Kepala Kerbau Diinjak Jokowi, Pengamat Nilai Jadi Cermin Keretakan Hubungan dengan PDIP yang Tak Kunjung Reda

- Rabu, 01 Juli 2026 | 12:00 WIB
Simbol Kepala Kerbau Diinjak Jokowi, Pengamat Nilai Jadi Cermin Keretakan Hubungan dengan PDIP yang Tak Kunjung Reda

PARADAPOS.COM - Simbol menginjak kepala kerbau yang dilakukan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Lampung baru-baru ini memicu spekulasi politik di tengah publik. Tindakan tersebut dinilai sebagai representasi dari persaingan yang kian memanas antara Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang kini dibina oleh Jokowi, dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Pengamat politik menilai gestur sederhana ini justru membuka luka lama hubungan kedua kubu yang retak sejak Pemilu 2024.

Di sela-sela kunjungan kerjanya, momen yang terekam kamera itu sontak menjadi perbincangan hangat. Bukan tanpa alasan, sebab setiap gerak-gerik mantan kepala negara yang satu ini selalu punya bobot tafsir tersendiri di panggung politik nasional.

Analisis Pengamat: Setiap Respons PDIP Picu Perdebatan Panjang

Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menilai bahwa setiap tindakan politik yang melibatkan Jokowi dan mendapat respons dari PDIP hampir selalu berkembang menjadi diskusi yang tak kunjung usai. Menurutnya, hal ini sudah menjadi pola yang berulang.

"Kalau sudah bicara tentang Jokowi dan direspons oleh PDIP, diskusinya bisa ke mana-mana. Sesuatu yang kelihatannya sederhana, dalam konteks bagaimana hubungan politik Jokowi dan PDIP, itu pasti ramai, pasti menjadi kompleks, dan terjadi kegaduhan yang tidak berkesudahan," ujar Adi lewat kanal YouTube miliknya, Rabu, 1 Juli 2026.

Suasana di ruang diskusi publik memang terasa panas. Warganet dan para analis bergantian mengaitkan simbol kepala kerbau—yang merupakan salah satu elemen dalam logo PDIP—dengan arah dukungan politik Jokowi ke depan.

Dampak Keretakan Hubungan Sejak Pemilu 2024

Direktur Parameter Politik Indonesia itu menegaskan bahwa kondisi saat ini merupakan dampak langsung dari pecahnya hubungan politik antara Jokowi dan PDIP pada kontestasi Pemilu 2024. Sejak saat itu, tensi antara keduanya tak pernah benar-benar mereda.

Menurut Adi, perseteruan politik antara Jokowi dan partai yang pernah mengusungnya selama dua periode sebagai presiden tampaknya masih akan terus berlanjut. Tak ada tanda-tanda rekonsiliasi dalam waktu dekat.

"Saya kira perseteruan Jokowi dan PDIP, apa pun judulnya, entah itu langsung ataupun tidak langsung, ini nyaris tak ada obatnya dan sepertinya akan tidak berkesudahan entah sampai kapan pun," ujarnya.

Dari sudut pandang lapangan, dinamika ini terasa seperti pertarungan diam-diam yang melibatkan simbol-simbol. Masyarakat pun dibuat bertanya-tanya: apakah ini sekadar kebetulan atau memang pesan politik terselubung?

Ibarat Perang Saudara yang Tak Berujung

Adi bahkan mengibaratkan konflik politik keduanya seperti perselisihan di dalam sebuah keluarga yang sulit didamaikan. Intensitasnya tinggi, dan masing-masing pihak seolah enggan mengalah.

"Perang yang paling menyakitkan itu, dan bahkan tidak ada obatnya, adalah perang saudara. Itulah yang kemudian disimbolisasi PDIP dan Jokowi, mirip perang saudara yang tidak ada ujungnya," katanya.

Pernyataan ini menggambarkan betapa rumitnya hubungan antara figur sentral dengan partai yang dulu menjadi kendaraan politiknya. Di tengah hiruk-pikuk politik menjelang pemilu mendatang, setiap gestur kecil bisa bermakna besar—dan kali ini, kepala kerbau yang diinjak menjadi simbol yang sulit diabaikan begitu saja.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar