Emas Anjlok 0,9 Persen di Tengah Penguatan Dolar dan Eskalasi Konflik AS-Iran

- Kamis, 04 Juni 2026 | 01:50 WIB
Emas Anjlok 0,9 Persen di Tengah Penguatan Dolar dan Eskalasi Konflik AS-Iran
PARADAPOS.COM - Harga emas mengalami tekanan pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, seiring penguatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi. Sentimen pasar terpukul setelah serangan militer baru antara Amerika Serikat dan Iran memicu ketidakpastian mengenai kelanjutan pembicaraan damai. Harga emas spot tercatat turun 0,9 persen ke level USD4.447,09 per ons, sementara harga emas berjangka melemah satu persen menjadi USD4.475,01 per ons, berdasarkan data yang dirilis Kamis, 4 Juni 2026.

Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas

Konflik antara Washington dan Teheran kembali meningkat setelah militer AS mengumumkan telah menembak dan melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak kosong yang mencoba berlayar menuju pelabuhan Iran. Komando Pusat AS juga melaporkan keberhasilan memukul mundur beberapa rudal dan drone Iran yang diluncurkan ke arah Kuwait dan Bahrain. Sebagai respons, pasukan AS melakukan serangan pertahanan diri di pulau Qeshm. Di sisi lain, media pemerintah Iran memberitakan bahwa angkatan bersenjata negara itu telah menargetkan markas Armada Kelima AS di Bahrain dan pangkalan militer AS di sekitarnya. Aksi ini disebut sebagai balasan langsung atas serangan di Qeshm. Aksi militer terbaru ini meredupkan harapan bahwa kedua negara mungkin segera mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan. Meskipun Presiden Donald Trump menegaskan bahwa pembicaraan antara Washington dan Teheran masih terus berjalan, beberapa poin penting masih menjadi batu sandungan. Ambisi nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi isu sentral yang belum menemukan titik temu. Ditambah lagi, eskalasi pertempuran antara Israel dan target-target yang didukung Hizbullah di Lebanon baru-baru ini turut memperkeruh suasana. Menurut laporan media yang mengutip Kantor Berita Fars Iran, Teheran telah mengusulkan peta jalan damai empat fase. Fase pertama mencakup penghentian total operasi militer di semua front. Selanjutnya, pencabutan blokade, penghapusan sanksi minyak, dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Fase ketiga akan membuka negosiasi yang lebih luas mengenai sanksi dan isu nuklir, yang kemudian diikuti dengan pembentukan komite pengawas untuk memantau implementasi kesepakatan. Di tengah ketegangan ini, harga minyak justru mencatat kenaikan pada hari Rabu, memicu kekhawatiran baru akan inflasi.

Data Ekonomi AS Menekan Harga Emas

Pelaku pasar logam mulia juga mengalihkan perhatian pada kalender ekonomi AS. Laporan bulanan ADP menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja di sektor swasta mencapai 122 ribu pada bulan Mei. Angka ini merupakan peningkatan terbesar sejak Januari 2025, dengan pertumbuhan terjadi di delapan dari sepuluh sub-sektor. Data ini mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja AS kembali menguat setelah periode pendinginan menjelang akhir tahun lalu. Para pelaku pasar kini menanti laporan penggajian non-pertanian bulan Mei yang dijadwalkan rilis pada hari Jumat, yang diyakini akan memberikan gambaran lebih jelas tentang kondisi ketenagakerjaan. Dengan tren ketenagakerjaan yang positif, Federal Reserve dinilai memiliki ruang untuk lebih fokus pada pengendalian inflasi, terutama di tengah melonjaknya harga minyak akibat konflik Iran. Buku Beige Book terbaru The Fed juga mencatat bahwa aktivitas ekonomi meningkat dengan laju sedikit hingga moderat di 10 dari 12 distrik regional. Secara terpisah, data dari Institute for Supply Management (ISM) mengenai sektor jasa AS menunjukkan kinerja yang kuat di permukaan, namun juga menyiratkan tekanan inflasi yang masih tinggi. Indeks PMI jasa utama ISM naik menjadi 54,5 pada bulan Mei, melampaui ekspektasi dan lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa untuk bulan ketiga berturut-turut, tidak ada satu pun komoditas yang mengalami penurunan harga. Indeks harga secara keseluruhan bahkan mencatatkan angka tertinggi sejak Agustus 2022. "Dari 10 tanggapan yang termasuk dalam survei ISM bulan ini terhadap manajer pembelian industri jasa (orang-orang yang membeli barang atas nama bisnis), tema dominannya adalah kenaikan biaya, yang didorong oleh harga bahan bakar dan energi, tarif, dan permintaan terkait AI," jelas Nick Timiraos, penasihat Fed dari Wall Street Journal. "Tidak ada responden yang melaporkan penurunan atau pelonggaran harga. Beberapa komentar lebih berfokus pada ketatnya pasokan daripada harga secara langsung, tetapi tidak ada yang menunjukkan arah disinflasi," lanjutnya. Imbal hasil obligasi pemerintah AS pun naik setelah rilis data ADP dan ISM, seiring aksi jual obligasi oleh para pedagang. Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menjadi faktor yang menekan harga emas.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler