Indonesia Capai Swasembada Beras Tanpa Impor, Stok Pemerintah Tembus Rekor 5,17 Juta Ton

- Selasa, 30 Juni 2026 | 13:50 WIB
Indonesia Capai Swasembada Beras Tanpa Impor, Stok Pemerintah Tembus Rekor 5,17 Juta Ton
PARADAPOS.COM - Jakarta, akhir Juni 2026 menjadi titik balik bagi ketahanan pangan nasional. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga menjabat Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengumumkan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras tanpa impor. Pernyataan ini disampaikan bertepatan dengan data stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang menembus angka 5,17 juta ton—sebuah rekor tertinggi dalam sejarah pengelolaan beras nasional. Amran menegaskan bahwa capaian ini menjadi fondasi utama untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

Swasembada Sempurna di Akhir 2025

Menurut Amran, tonggak sejarah ini mulai terlihat jelas pada penghujung tahun 2025. Saat itu, Indonesia berhasil menjaga ketersediaan beras tanpa bergantung pada impor sama sekali. Ia menyebut pencapaian ini sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. "Di akhir 2025 Indonesia mencapai swasembada beras dan pangan sempurna, yaitu tidak ada impor dan stok tertinggi selama Republik ini berdiri," kata Amran dalam pernyataan yang dikutip dari Antara, Selasa, 30 Juni 2026. Ia menambahkan bahwa capaian tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. "Ini tidak pernah terjadi selama Republik ini berdiri. Jadi sejak kami lahir sampai tahun 2025, ini tertinggi," ucap Amran.

Stok Beras Pecahkan Rekor

Saat ini, total stok Cadangan Beras Pemerintah yang dikelola Perum Bulog telah mencapai lebih dari 5,17 juta ton. Beras tersebut tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Jumlah ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan stok beras nasional. "Itu capaian pangan kita, insyaallah ini berkelanjutan. Jadi inilah saatnya nanti Indonesia menjadi lumbung pangan dunia, khususnya beras," tegas dia.

Produksi Melimpah, Konsumsi Terjaga

Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan yang diolah Bapanas, total produksi beras nasional selama Januari hingga Juni 2026 diperkirakan mencapai 19,2 juta ton. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kebutuhan konsumsi nasional pada periode yang sama yang diproyeksikan sebesar 15,48 juta ton. Surplus ini dinilai menjadi fondasi penting untuk menjaga swasembada beras secara berkelanjutan. Pemerintah juga melanjutkan program bantuan pangan beras untuk memperkuat daya beli masyarakat. Realisasi program bantuan pangan untuk periode Februari hingga Juni 2026 tercatat telah mencapai 97,97 persen, menjangkau 32,57 juta keluarga penerima manfaat. Secara volume, beras yang telah tersalurkan mencapai 651,4 ribu ton. Mulai Juli 2026, pemerintah kembali menyalurkan bantuan pangan beras untuk tiga bulan alokasi dengan total volume mencapai 997,3 ribu ton. Dengan demikian, total penyaluran CBP kepada masyarakat hingga akhir 2026 diperkirakan mencapai sekitar 1,6 juta ton.

SPHP sebagai Instrumen Stabilitas Harga

Selain bantuan pangan, pemerintah terus menjalankan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebagai langkah intervensi harga beras di pasar. Hingga 29 Juni 2026, realisasi penjualan beras SPHP telah mencapai 393,4 ribu ton sejak program dimulai pada Maret 2026. Melalui program ini, pemerintah menyediakan beras medium dengan harga lebih rendah dibandingkan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk menjaga keterjangkauan di tingkat konsumen. Amran juga mengajak seluruh pihak untuk memperkuat kolaborasi demi menjaga ketahanan pangan nasional dan meningkatkan posisi Indonesia dalam peta pangan global. "Kita ini banyak kekurangan tapi kita kolaborasi. Kita kerja sama, karena negara lain tidak ingin Republik Indonesia menjadi super power. Jadi kita kolaborasi, insyaallah Indonesia bisa menjadi super power," tegas Amran.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar