Serangan Udara Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 11 Warga Sipil, PM Nawaf Salam Kecam Keras

- Minggu, 16 Agustus 2026 | 03:50 WIB
Serangan Udara Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 11 Warga Sipil, PM Nawaf Salam Kecam Keras

PARADAPOS.COM - Serangan udara Israel kembali menghantam wilayah Lebanon selatan pada Sabtu kemarin, menewaskan sedikitnya 11 warga sipil termasuk tiga anak-anak, dan melukai 18 lainnya. Dua desa menjadi sasaran dalam insiden terpisah ini, memicu kecaman keras dari Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, di tengah meningkatnya ketegangan kawasan yang belum juga mereda pasca-kesepakatan gencatan senjata yang rapuh.

Laporan yang dihimpun dari Kementerian Kesehatan Lebanon pada Minggu, 16 Agustus 2026, menyebutkan gelombang serangan tersebut terjadi secara beruntun. Insiden pertama menghantam sebuah rumah di pinggiran Desa Ansar. Ledakan dahsyat meruntuhkan bangunan dan menewaskan tujuh orang, di antaranya tiga anak-anak yang masih di bawah umur, sementara dua lainnya dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan luka-luka.

Belum sempat warga mengevakuasi diri, serangan kedua menyasar Desa Deir al-Zahrani yang lokasinya tidak terlalu jauh dari titik pertama. Dalam peristiwa ini, empat jenazah berhasil dievakuasi dari puing-puing, dan 17 korban luka lainnya mendapatkan perawatan intensif di fasilitas kesehatan setempat. Suasana mencekam masih menyelimuti kedua desa tersebut hingga Minggu pagi.

Kecaman dari Perdana Menteri Lebanon

Reaksi keras langsung datang dari pucuk pimpinan pemerintahan di Beirut. Nawaf Salam, Perdana Menteri Lebanon, langsung angkat bicara melalui akun media sosialnya. Ia menilai serangan tersebut tidak hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga secara sengaja merusak upaya diplomatik yang tengah berjalan untuk menjaga stabilitas kawasan yang sudah rapuh.

“Tujuh korban tewas akibat serangan udara Israel di Kota Ansar bukanlah infrastruktur militer, dan anak-anak serta perempuan yang terbunuh bukanlah target militer,” ujar Salam.

Dalam pernyataannya yang tegas, ia juga menegaskan bahwa segala urusan militer dan keamanan di wilayah Lebanon berada di bawah kendali penuh pemerintah melalui angkatan bersenjata dan lembaga resmi negara. Tidak ada pihak lain yang berhak bertindak di luar koridor hukum yang berlaku.

“Keamanan rakyat kami dan hak mereka untuk hidup di tanah mereka bukanlah sesuatu yang dapat dinegosiasikan atau dikompromikan,” tambahnya.

Kesepakatan yang Terabaikan

Yang menjadi sorotan tajam adalah fakta bahwa agresi ini terjadi hanya beberapa minggu setelah kesepakatan awal yang diprakarsai Amerika Serikat disetujui oleh Beirut dan Tel Aviv pada 26 Juni lalu. Perjanjian tersebut sejatinya dirancang untuk meredam eskalasi, namun realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya—serangan lintas batas masih terus berlangsung tanpa jeda yang berarti.

Data yang dihimpun sejak Israel melancarkan agresi pada 2 Maret lalu mencatat angka yang memilukan. Sedikitnya 4.335 orang tewas dan 12.277 lainnya terluka di Lebanon. Angka ini mencerminkan betapa dalamnya krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung di negara tersebut.

Situasi di lapangan juga menunjukkan bahwa pasukan Israel masih menduduki sejumlah wilayah di Lebanon selatan. Sebagian dari wilayah tersebut telah berada di bawah pendudukan selama puluhan tahun, sementara sebagian lainnya baru diduduki sejak pecahnya perang pada 2023-2024. Dalam serangan terbaru, pasukan Israel disebut telah bergerak lebih dari 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon, melanggar zona yang selama ini disepakati sebagai area netral.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar