Trauma Gaza Kembali: Saya Kira Perang Telah Berakhir Setelah Serangan Israel

- Kamis, 30 Oktober 2025 | 00:50 WIB
Trauma Gaza Kembali: Saya Kira Perang Telah Berakhir Setelah Serangan Israel

Warga Gaza Trauma Diserang Israel Lagi: "Saya Kira Perang Telah Berakhir"

GAZA - Ketakutan kembali menyelimuti warga Jalur Gaza setelah militer Israel melancarkan serangan udara baru, hanya sehari setelah mengumumkan kembali pada kesepakatan gencatan senjata. Bagi masyarakat yang sudah lelah berperang, ledakan dan sirene serangan udara menjadi mimpi buruk yang tak kunjung usai.

Korban Jiwa dalam Serangan Terbaru di Gaza Utara

Serangan Israel terbaru terjadi pada Rabu malam (29/10/2025) di Beit Lahiya, Gaza Utara. Menurut laporan resmi dari Rumah Sakit Al Shifa, sedikitnya dua warga sipil tewas dalam insiden tersebut. Israel mengklaim target mereka adalah lokasi penyimpanan senjata yang dianggap mengancam keselamatan pasukan mereka.

Pelanggaran Gencatan Senjata oleh Israel

Bagi warga Gaza, serangan ini membuktikan bahwa gencatan senjata tidak berarti apa-apa. Sehari sebelumnya, pada Selasa (28/10/2025), serangan besar-besaran Israel telah menewaskan 104 orang - jumlah korban tewas tertinggi sejak gencatan senjata yang diprakarsai Presiden AS Donald Trump pada 10 Oktober lalu.

Trauma Mendalam Warga Gaza

Suara pesawat tempur dan bom di langit malam kembali membangkitkan trauma lama. Khadija Al Husni, ibu tiga anak yang mengungsi di sekolah kamp pengungsi Shati, mengungkapkan kepanikannya.

"Ini kejahatan. Entah ada gencatan senjata atau perang, tidak mungkin keduanya. Anak-anak tidak bisa tidur. Mereka mengira perang sudah berakhir," kata Khadija kepada Al Jazeera, Kamis (30/10/2025).

Krisis Kemanusiaan yang Semakin Parah

Serangan terbaru memperburuk kondisi kemanusiaan di Gaza. Ribuan keluarga masih tinggal di kamp pengungsian dengan pasokan air bersih dan makanan yang minim. Rumah sakit kewalahan menampung korban luka, sementara listrik hanya menyala beberapa jam sehari.

Dampak Psikologis pada Anak-Anak Gaza

Para psikolog di Gaza memperingatkan bahwa serangan berulang dapat menimbulkan trauma kolektif yang mendalam, terutama pada anak-anak. Banyak di antara mereka mengalami gangguan tidur, mimpi buruk, dan ketakutan berkepanjangan.

Dengan gencatan senjata yang terus dilanggar, warga Gaza kini kehilangan harapan akan perdamaian yang abadi. Setiap serangan baru hanya memperdalam luka lama yang belum sempat sembuh.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar