Kementerian Pariwisata Genjot 10 Destinasi Prioritas Demi Kurangi Ketergantungan pada Bali

- Sabtu, 13 Juni 2026 | 20:25 WIB
Kementerian Pariwisata Genjot 10 Destinasi Prioritas Demi Kurangi Ketergantungan pada Bali
PARADAPOS.COM - Kementerian Pariwisata mengungkapkan strategi pengembangan destinasi unggulan di luar Bali sebagai respons atas permintaan Komisi VII DPR. Dalam rapat kerja pada Rabu (3/6), kementerian menyatakan telah mendorong paket wisata tematik berbasis gastronomi, wellness, bahari, wastra, serta seni budaya di 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) dan 3 Destinasi Pariwisata Regeneratif (DPR)—yang mencakup Bali, Great Jakarta, dan Kepulauan Riau. Meskipun Bali masih menjadi pintu masuk utama dengan 43,1 persen kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari hingga April 2026, upaya ini bertujuan untuk menyebar manfaat pariwisata secara lebih merata.

Kolaborasi untuk Memperkuat Promosi

Kementerian menyampaikan telah menjalin kerja sama dengan mitra industri, agen perjalanan, dan operator tur (TA/TO) untuk memperkuat promosi dan pemasaran. Program yang dijalankan mencakup penjualan paket wisata, business matching, serta familiarization trip (fam trip) ke destinasi unggulan. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa destinasi di luar Bali mendapatkan sorotan yang layak di pasar global. “Kami terus mendorong pelaku usaha industri pariwisata untuk mengembangkan paket-paket wisata tematik berbasis gastronomi, wellness, bahari atau marine tourism, wastra, serta seni budaya di berbagai destinasi unggulan. Pengembangan tersebut difokuskan pada 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) serta 3 Destinasi Pariwisata Regeneratif (DPR), yaitu Bali, Great Jakarta, dan Kepulauan Riau (Kepri),” ungkap kementerian kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu.

Peningkatan Kunjungan yang Signifikan

Strategi ini mulai menunjukkan hasil nyata. Kementerian mencatat lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara ke sejumlah DPP, terutama Lombok-Gili Tramena, Bromo-Tengger-Semeru (BTS), dan Borobudur-Yogyakarta-Prambanan. Destinasi lain seperti Labuan Bajo, Danau Toba, Manado–Likupang, Bangka Belitung, Raja Ampat, Wakatobi, dan Morotai juga mengalami peningkatan serupa. Di lapangan, para pelaku industri melaporkan bahwa minat terhadap paket wisata tematik—seperti kuliner lokal di Lombok atau wisata bahari di Raja Ampat—semakin tinggi. Namun, kementerian mengakui bahwa perjalanan masih panjang untuk mengurangi ketergantungan pada satu destinasi.

Bali Tetap Menjadi Magnet Utama

Meskipun diversifikasi terus digencarkan, Bali masih memegang peran sentral. Data kementerian menunjukkan bahwa pada April 2026, dari total 1,25 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia, sebanyak 553.328 kunjungan tercatat masuk melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan Pelabuhan Tanjung Benoa. Angka ini setara dengan sekitar 44 persen dari total kunjungan bulan tersebut. Kondisi ini mencerminkan tantangan besar dalam upaya pemerataan. Kementerian menekankan bahwa pengembangan infrastruktur dan promosi di daerah lain harus terus dipercepat agar Bali tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan utama wisatawan. Dengan kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas lokal, harapannya adalah bahwa destinasi lain dapat sejajar dalam menarik minat global.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar