PARADAPOS.COM - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru dilantik, Sudaryono, mencatatkan lonjakan kekayaan bersih hingga Rp22,53 miliar dalam waktu satu tahun. Data ini terungkap dari Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kenaikan signifikan tersebut terjadi menjelang penunjukannya oleh Presiden Prabowo Subianto untuk memimpin BGN, menggantikan Naniek Sudaryati Deyang.
Angka ini bukan sekadar catatan administratif. Ia mencerminkan perubahan portofolio aset seorang pejabat publik yang baru saja bertransisi dari posisi Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) ke pucuk pimpinan lembaga pangan nasional. Di tengah sorotan publik terhadap transparansi pejabat, data LHKPN menjadi jendela yang memperlihatkan dinamika kekayaan pribadi para penyelenggara negara.
Dari Wamentan ke BGN: Perubahan Aset yang Mencolok
Saat pertama kali menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian pada 20 Januari 2025, Sudaryono melaporkan total harta sebesar Rp69,33 miliar. Namun, angka itu masih dibayangi utang yang cukup besar, mencapai Rp60,47 miliar. Hasilnya, kekayaan bersihnya saat itu tercatat hanya sekitar Rp8,86 miliar.
Kondisi itu berubah drastis dalam kurun waktu kurang dari setahun. Dalam LHKPN periodik 2025 yang dilaporkan pada 29 Maret 2026, total aset Sudaryono melonjak menjadi Rp91,76 miliar. Meskipun utangnya masih menganga di angka Rp60,36 miliar, kekayaan bersihnya naik signifikan menjadi Rp31,39 miliar. Artinya, dalam waktu sekitar 14 bulan, nilai bersih kepemilikannya bertambah lebih dari dua kali lipat.
Properti Jadi Motor Utama Kenaikan
Penyumbang terbesar dari lonjakan ini adalah sektor properti. Aset tanah dan bangunan yang sebelumnya tercatat sebesar Rp50,29 miliar, melesat menjadi Rp69,69 miliar. Pertambahan sebesar Rp19,4 miliar ini bukan sekadar kenaikan nilai pasar, melainkan juga karena masuknya lima aset properti baru ke dalam daftar kepemilikan.
Rinciannya, tiga bidang tanah di Kabupaten Bogor masing-masing senilai Rp4 miliar, Rp4 miliar, dan Rp3 miliar. Dua bidang tanah lainnya berada di Jakarta Selatan, dengan nilai masing-masing Rp4,2 miliar. Penambahan ini menandakan ekspansi kepemilikan properti yang cukup agresif di dua wilayah dengan nilai tanah yang terus merangkak naik.
Kendaraan dan Kas Ikut Bertambah
Tak hanya properti, aset bergerak pun ikut menggeliat. Alat transportasi Sudaryono bertambah dari tiga unit mobil senilai Rp750 juta menjadi lima kendaraan dengan total nilai Rp1,07 miliar. Dua tambahan itu adalah satu unit sepeda motor dan satu unit Toyota Innova keluaran 2023.
Sementara itu, pos kas dan setara kas miliknya juga ikut terdongkrak dari Rp8,40 miliar menjadi Rp13,34 miliar. Surat berharga yang dimilikinya naik tipis dari Rp7,55 miliar menjadi Rp7,64 miliar. Menariknya, kategori harta bergerak lainnya justru tercatat nihil, padahal sebelumnya dilaporkan sebesar Rp2,32 miliar.
Perubahan komposisi ini menunjukkan adanya pergeseran bentuk kepemilikan. Sebagian aset likuid atau bergerak tampaknya telah dikonversi atau dialokasikan ulang ke dalam bentuk properti dan kendaraan. Di lapangan, pola seperti ini kerap ditemukan pada pejabat yang mulai mengkonsolidasikan portofolio menjelang atau sesaat setelah menduduki jabatan strategis.
Dengan total kekayaan bersih yang kini mencapai Rp31,39 miliar, publik tentu akan terus mengamati bagaimana laporan harta kekayaan selanjutnya akan disampaikan. Apalagi, posisi Kepala BGN membawa tanggung jawab besar terhadap pengelolaan gizi nasional, sebuah sektor yang bersinggungan langsung dengan kepentingan rakyat banyak.
Artikel Terkait
DPP AKJII Desak Presiden Copot Kapolri dan Jaksa Agung Imbas Kasus Mantan Jampidsus
Menteri Keuangan dan Dirut Agrinas Saling Lempar Bola soal Pengadaan 1,8 Juta Kipas Angin Rp1,8 Triliun
Surya Paloh: Jangan Harapkan Generasi Senior, Masa Depan Ada di Tangan Anak Muda
Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Dinilai Menggerus Kepercayaan Publik terhadap Kejaksaan