Wacana Peralihan Kekuasaan ke Gibran Menguat, Istana dan Rosan Roeslani Bantah Skenario Prabowo Mundur Lebih Cepat

- Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:25 WIB
Wacana Peralihan Kekuasaan ke Gibran Menguat, Istana dan Rosan Roeslani Bantah Skenario Prabowo Mundur Lebih Cepat

PARADAPOS.COM - Wacana peralihan kekuasaan presiden lebih cepat dari jadwal kembali mengemuka di ruang publik. Sejumlah pengamat dan praktisi menyoroti kemungkinan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka otomatis naik menggantikan Presiden Prabowo Subianto sebelum periode 2024-2029 berakhir. Isu ini mencuat setelah adanya pernyataan dari praktisi intelijen yang mengaitkan kondisi kesehatan kepala negara dan potensi desakan publik. Meski demikian, klaim tersebut dibantah keras oleh pihak terkait yang disebut-sebut sebagai sumber awal informasi.

Perbincangan ini bukan tanpa dasar. Sejumlah analisis mencoba membaca celah konstitusional dan dinamika politik yang berpotensi memicu percepatan suksesi. Namun, perlu ditegaskan bahwa hingga saat ini, Presiden Prabowo Subianto masih menjalankan tugasnya secara penuh dan belum ada pernyataan resmi mengenai pengunduran diri. Yang ada hanyalah spekulasi dan pernyataan dari sejumlah tokoh yang kemudian menjadi perdebatan publik.

Sinyal dari Praktisi Intelijen

Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra, seorang praktisi intelijen, menjadi salah satu pihak yang pertama kali melontarkan skenario ini. Ia menilai bahwa pengunduran diri Prabowo sangat mungkin terjadi setelah Agustus 2026. Menurutnya, kombinasi antara tekanan publik yang kuat dan kondisi kesehatan presiden yang dinilai tidak prima menjadi pemicu utama.

"Sesungguhnya gini ya, kita dari kondisi kesehatan Prabowo itu juga enggak baik-baik aja loh. Enggak baik-baik aja. Eh, yang kita khawatirkan nanti ketika terjadi gonjang-ganjing ya kan mulai Agustus dan seterusnya ini bisa juga ya kan tiba-tiba Presiden mengundurkan diri karena desakan publik, yang jadi Wapres," ujar Radjasa dalam sebuah kanal YouTube, dikutip Rabu (29/7).

Ia kemudian menjelaskan perbedaan mendasar antara mekanisme pengunduran diri dengan pemakzulan. Dalam pandangannya, jalur mundur secara sukarela memiliki konsekuensi hukum dan politik yang berbeda. "Kalau presiden mengundurkan diri itu beda loh. Mungkin bisa satu paket," imbuhnya.

Radjasa kembali menegaskan bahwa dua faktor utama yang mendorong skenario ini adalah desakan publik yang masif serta kondisi fisik presiden. "Ya itu tadi karena desakan publik ya kan (Presiden mengundurkan diri) yang begitu kuat kemudian kesehatan ya kan dia mundur ya," tandasnya.

Klaim Lama yang Kembali Menguat

Menariknya, wacana ini bukanlah hal yang benar-benar baru. Pada awal 2024, pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie mengaku pernah mendapat cerita langsung dari Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Rosan Roeslani. Saat itu, ia menyebut ada skenario bahwa Prabowo hanya akan menjabat dua tahun apabila memenangkan Pilpres 2024.

"Saya bilang apa dulu saya mau tanya emang Pak Prabowo ini bakal jadi presiden berapa lama? Ini menyampaikan Pak Rosan loh, duta besar kita, mantan, di Amerika. Jadi rencananya dua tahun. Tiga tahun berikutnya diikuti oleh Gibran," kata Connie.

Pernyataan Connie ini sontak menjadi perbincangan hangat. Namun, ia dengan tegas menyebut bahwa informasi tersebut berasal dari Rosan, bukan dari hasil analisisnya pribadi. Hal ini kemudian memicu respons balik yang tidak kalah keras dari pihak yang disebutkan.

Bantahan Tegas Rosan Roeslani

Menanggapi klaim tersebut, Rosan Roeslani membantah habis-habisan. Ia memastikan bahwa narasi "dua tahun" sama sekali tidak pernah keluar dari mulutnya. Justru, menurutnya, ide tersebut pertama kali dilontarkan oleh Connie dalam sebuah percakapan pribadi.

"Pernyataan yang dua tahun itu bukan datang dari saya. Beliau (Connie) mengatakan, 'Ini gimana kalau sudah dua tahun, atau kalau tiba-tiba Pak Prabowo, saya ini orang intelijen, bisa saja Pak Prabowo diracun, bisa lebih cepat, itu gimana?', dia bilang begitu," ujar Rosan dalam konferensi pers di Media Center TKN Prabowo-Gibran, Jakarta Selatan.

Rosan mengaku saat itu ia justru berusaha meluruskan pembicaraan dan menganggap hal tersebut tidak pantas untuk dibahas. "Saya bilang, 'Bu, udahlah, itu tidak pantas. Ya sudahlah, kita, sih, nggak ada pikiran seperti itu lah, janganlah'," lanjutnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Istana maupun pihak Gibran terkait maraknya spekulasi ini. Yang jelas, perbedaan narasi antara kedua tokoh tersebut menunjukkan betapa sensitifnya isu suksesi kepemimpinan nasional. Publik pun dihadapkan pada dua versi cerita yang saling bertolak belakang, dan kebenarannya masih simpang siur.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar