Ketua Komisi II DPR: Wakil Kepala Daerah Sangat Santun di Depan Dasco, Padahal Sering Keluhkan Jadi Ban Serep

- Senin, 03 Agustus 2026 | 06:50 WIB
Ketua Komisi II DPR: Wakil Kepala Daerah Sangat Santun di Depan Dasco, Padahal Sering Keluhkan Jadi Ban Serep

PARADAPOS.COM - Suasana Rapat Kerja Komisi II DPR RI bersama Asosiasi Wakil Kepala Daerah (Aswakada) pada Kamis (30/7/2026) diwarnai momen yang tak terduga. Ketua Komisi II DPR RI, Muhammad Rifqizamy Karsayuda, melontarkan candaan yang menguak perbedaan sikap para pengurus Aswakada, termasuk Sekjen Selle KS Dalle, saat menyampaikan aspirasi di hadapan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad. Rifqizamy menuturkan bahwa di balik keluhan mereka tentang posisi sebagai "ban serep" hingga tidak dilibatkan dalam Forkopimda, para wakil kepala daerah itu tampak berubah sikap menjadi sangat santun ketika berhadapan langsung dengan Dasco.

Candaan yang Menguak Realitas di Balik Forum Resmi

Menurut pengamatan Rifqizamy, keluhan-keluhan tersebut justru sering muncul di luar forum resmi. Para wakil kepala daerah kerap mengeluhkan peran mereka yang terkesan marginal, mulai dari merasa hanya menjadi pelengkap hingga tidak memiliki ruang yang cukup dalam struktur pemerintahan daerah. Namun, dinamika itu berubah drastis saat mereka berada di hadapan pimpinan DPR RI tersebut.

“Ini para wakil kepala daerah, Pak Dasco, waktu ke sini ngomongnya enggak seperti ini. Ngomongnya lebih terbuka. Kami itu jadi wakil cuman ban serep, katanya. Tidak jadi anggota Forkopimda katanya. Tapi begitu depan Bang Dasco, sangat santun. Memang agak beda,” ujar Rifqizamy.

Pernyataan itu sontak mengundang perhatian. Di balik candaan tersebut, tersirat pertanyaan besar mengenai sosok yang mampu mengubah suasana dan membuat Selle Cs seakan kehilangan nyali. Siapa sebenarnya Sufmi Dasco Ahmad?

Jejak Karier dan Latar Belakang Sang Politisi Senior

Pria kelahiran Bandung, 7 Oktober 1967 ini bukanlah nama asing di panggung politik nasional. Dasco merupakan kader senior Partai Gerindra yang kini dipercaya memegang jabatan Ketua Harian partai. Perjalanan politiknya di parlemen juga terbilang panjang. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI periode 2019-2024 dan kembali dipercaya untuk periode 2024-2029, sebuah bukti konsistensi dan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Di luar dunia politik, Dasco adalah seorang praktisi hukum. Ia mengawali pendidikan sarjana hukum di Universitas Pancasila, kemudian melanjutkan studi magister di Universitas Islam Jakarta, hingga meraih gelar doktor dari sebuah universitas di Bandung. Kombinasi antara latar belakang hukum dan pengalaman politiknya yang matang ini menjadi modal penting dalam setiap langkahnya.

Gaya Politik yang Senyap Namun Efektif

Yang menarik dari sosok Dasco adalah gaya kepemimpinannya yang cenderung tidak mencolok. Ia tidak mengandalkan retorika tinggi atau kontroversi untuk mendongkrak popularitas. Kekuatan utamanya justru terletak pada kemampuannya mengendalikan dinamika politik secara senyap, tanpa harus selalu menjadi pusat perhatian publik.

Di lingkungan Senayan, di mana keputusan-keputusan strategis sering kali lahir dari proses negosiasi yang panjang dan rumit, nama Dasco kerap diandalkan sebagai tokoh kunci. Ia dikenal mampu mencairkan kebuntuan dan menjaga agar komunikasi politik antar pihak tetap berjalan efektif. Kemampuan ini yang membuatnya dihormati, bahkan oleh mereka yang berseberangan secara politik.

“Ada dua jenis pemimpin dalam dunia politik. Yang pertama adalah mereka yang membangun pengaruh melalui panggung-panggung terbuka, pidato yang menggelegar dan sorotan kamera yang terus mengikuti setiap langkahnya.”

“Yang kedua adalah mereka yang memilih bekerja dalam kesunyian, membangun kepercayaan sedikit demi sedikit, menjahit komunikasi yang retak, lalu memastikan keputusan besar lahir tanpa kegaduhan yang berlebihan. Sufmi Dasco Ahmad termasuk dalam kelompok kedua,” tulis Indopolitika.

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa pengaruh Dasco memang tidak selalu terlihat di permukaan. Namun, kehadirannya sering kali menjadi penentu arah pembicaraan. Momen di rapat kerja tersebut menjadi salah satu contoh kecil bagaimana sosoknya dipandang dengan penuh kehati-hatian oleh banyak pihak, termasuk oleh mereka yang seharusnya memiliki keberanian untuk menyuarakan aspirasi secara terbuka.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar